Oleh: Sunti

Mediaoposisi.com-Menurut berita yang dilansir Detik.com tanggal 04 September 2018, Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS terus mengalami tekanan sejak awal tahun. Hari ini nilai Dollar makin mendekati Rp 15.000.

Pada perdagangan Reuters hari ini nilai Dollar AS sudah menyentuh Rp 14.897. Keadaan ini akan menambah beratnya ekonomi rakyat Indonesia khususnya yang dibawah garis kemiskinan. Pasalnya dengan naiknya kurs Dollar secara otomatis harga-harga barang akan beranjak ikutan naik.

Dengan melemahnya Rupiah terhadap Dollar AS akan mengakibatkan beberapa dampak negatif yang akan dialami masyarakat seperti :

Pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat. PHK terjadi pada industri yang selama ini menggantungkan bahan baku dari impor. Buruh yang diPHK terus meningkat jumlahnya, seiring dengan terus melemahnya mata uang Rupiah terhadap Dollar AS.

Pengangguran meningkat. Ini dikarenakan banyaknya buruh yang diPHK. Harga barang-barang naik. Tingginya biaya produksi mengakibatkan naiknya harga jual barang. Tak terkecuali barang-barang konsumtif.

Kemiskinan meningkat. Kalau barang-barang terutama sembako harganya naik. Penghasilan tidak meningkat bahkan tidak ada penghasilan karena diPHK atau menganggur otomatis tingkat kemiskinan akan meningkat.

Daya beli masyarakat menurun, karena tidak adanya penghasilan karena diPHK atau mengganggur.

Kesejahteraan masyarakat menurun
Gizi masyarakat menurun, karena tidak mampunya membeli makanan yang bermutu. Banyak anak putus sekolah, untuk membeli makan saja susah apalagi untuk membayar sekolah. Depresi makin meningkat, ini terbukti dengan maraknya kasus bunuh diri di tengah-tengah masyarakat karena himpitan ekonomi.

Ini baru beberapa contoh dampak yang diakibatkan karena naiknya kurs Rupiah terhadap Dollar AS. Yang menjadi pertanyaan kenapa kurs mata uang dunia menggunakan Dollar AS? Berikut pemaparan singkat sejarahnya.

Setelah Perang Dunia ke II negara-negara yang terlibat perang mengalami bangkrut dan jatuh miskin kecuali Amerika Serikat. Melihat kondisi tersebut Amerika Serikat memutuskan untuk memberikan bantuan pinjaman. Pinjaman tersebut dalam bentuk Dollar.

Dan sebagai jaminan negara yang berhutang harus menyerahkan emas yang dimilikinya kepada Amerika Serikat. Dengan begitu Amerika Serikat hampir menguasai emas di seluruh dunia. Sehingga hanya uang Dollarlah yang disokong emas dan Dollarlah yang dipercaya menjadi mata uang dunia.

Karena melayani seluruh dunia, Amerika Serikat mencetak uang Dollar dalam jumlah banyak melebihi cadangan emas yang Amerika Serikat miliki, kemudian didistribusikan dan dibiarkan mengambang bebas. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan masyarakat dunia terhadap dolar Amerika Serikat.

Hal tersebut ditandai dengan peristiwa penukaran Dollar secara besar-besaran oleh negara-negara Eropa, sehingga secara drastis cadangan emas Amerika Serikat menurun.

Amerika Serikat goncang sehingga presiden kala itu mengeluarkan dekrit yang isinya bahwa mata uang Dollar tidak lagi dijamin dengan emas.  Karena cadangan devisa negara-negara pada saat itu menggunakan Dollar, maka terpaksa mereka menyetujui Dollar tanpa jaminan emas tersebut dan terikatlah mereka dengan Dollar.

Dan pada titik ini akhirnya Dollar menjadi tolak ukur mata uang dunia. Dan menjadi mata uang dengan nilai tertinggi setelah Pounsterling.

Logikanya, ketika Dollar sudah tidak dijamin dengan emas, artinya nilai uang Dollar itu hanya sebatas nilai nominal saja. Sama halnya dengan mata uang lainnya.

Harusnya nilai tukar Dollar terhadap mata uang lainnya sama nilainya. Tidak perlu menambah uang untuk menukarkannya. Hal ini tidak adil, merupakan bentuk penjajahan berkedok uang.

Islam agama paling sempurna. Dalam hal apapun sudah ada tuntunannya, tuntunan yang langsung datang dari yang Maha Kuasa, Maha Benar, Maha Adil dan Maha Mengetahui, Dialah Alloh SWT. Alloh menurunkan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, dengan Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman umat manusia.

Dalam hal yang paling kecil misal masuk WC sampai hal politik pemerintahan tak ada yang tak diaturNya. Terlebih hanya masalah uang. Di islam mata uang yang digunakan adalah dinar (emas) dan dirham (perak).

Keharusan menjadikan dinar dan dirham sebagai standar mata uang dalam sistem ekonomi islam adalah berdasarkan firman Alloh dalam surat At Taubah ayat 34 yang artinya

“...Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Alloh, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih”.

Islam melarang praktik penimbunan harta (kanzul mal). Islam hanya mengkhususkan larangan penimbunan harta untuk emas dan perak. Larangan ini merujuk pada fungsi emas dan perak sebagai uang atau alat tukar.

Islam mengaitkan emas dan perak dengan hukum-hukum islam lainnya, seperti diyat dan pencurian. Islam menentukan diyat dengan ukuran tertentu dalam bentuk emas.

Islam juga mengenakan sanksi potong tangan terhadap praktik pencurian dengan ukuran melebihi emas sebesar ¼ dinar. Rasul saw. bersabda:

“Di dalam (pembunuhan) jiwa itu terdapat diyat berupa 100 unta dan terhadap pemilik emas (ada kewajiban) sebanyak 1.000 dinar.” (HR an-Nasa’i dan Amru bin Hazam).

Zakat uang yang ditentukan Allah SWT berkaitan dengan emas dan perak. Islam pun telah menentukan nishab zakat tersebut dengan emas dan perak. Nishab zakat emas adalah 20 mitsqal atau 20 dinar. Hal ini setara dengan 80 gram emas.

Keunggulan apabila mata uang didasarkan pada emas adalah inflasi rendah dan terkendali, hal ini dikarenakan pemerintah suatu negara tidak dapat menambah pasokan uang dengan bebas.

Akibatnya, supply mata uang akan terkendali. uang hanya bertambah seiring dengan bertambahnya cadangan emas negara.

Dengan demikian inflasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan uang sebagaimana pada sistem mata uang kertas tidak terjadi. Selain itu Dalam standar emas, nilai tukar antarnegara relatif stabil sebab mata uang masing-masing negara tersebut disandarkan pada emas yang nilainya stabil.

Tidak seperti mata uang kertas, mata uang emas ini sulit untuk dipalsukan jadi tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.

Selain itu emas dari jaman Rosululloh sampai sekarang nilainya cenderung stabil. Contoh dulu pada masa Rosululloh harga kambing sebesar 1 dinar setelah 14 abad lamanya harga kambing tetap sama 1 dinar, 1 dinar = 4,25 gram sedangkan nilai emas sekarang sekitar Rp 575.000 jadi harga kambing Rp 2.443.750, di pasaran harga kambing sekarang berkisar sekitar harga tersebut.

Merujuk sejarah pada masa Rasululloh sampai masa kekhalifahan bahwa pada saat itu islam bisa memakmurkan dan memberikan keadilan kepada rakyatnya baik yang muslim, nasrani, yahudi maupun yang beragama lainnya dengan mata uang dinar dan dirham ini.

Jika kita ingin ekonomi dunia ini membaik dan stabil Maka saatnyalah kita beralih menggunakan mata uang emas dan perak ini. [MO/ge]

Posting Komentar