Oleh: Nasrudin Joha 

Mediaoposisi.com-Entah untuk kali yang keberapa, Jokowi mengeluarkan kalimat-kalimat ajaib lagi. Saat menjelaskan alasan harga sawit turun, Jokowi sarankan petani tanam jengkol dan petai. Dikiranya, sekali tanam besok langsung panen ?

Kebijakan salah urus persawitan yang membuat harga murah, tapi selalu menyalahkan luar negeri. Salah tanam biji bunga matahari lah, sehingga suplai global meningkat dan akhirnya berimbas kepada anjloknya harga sawit.

Sebelum solusi ajaib jengkol dan petai ini, dulu Jokowi sarankan rakyat ternak kalajengking. Sarankan akademisi buka fakultas kopi, fakultas meme, mungkin juga fakultas Kodok Bangkong. Aneh, ngomongnya seperti orang tidak pernah makan bangku sekolah, sekenanya, asal mangap, asal bicara.

Berempatilah kepada rakyat, kalau tidak becus mengelola persawitan, belum mampu meningkatkan 'harga keekonomian' sawit, janganlah terus menambah beban rakyat. TDL naik, BBM naik, biaya hidup naik, BPJS Nunggak ke RS, dan sekarang malah menumpulkan logika rakyat.

Emang jengkol sehari tanam besok langsung panen ? Emang petai sehari tanam besok langsung panen ? Lantas, ketika lima tahun tanam jengkol dan panen raya membuat jengkol harganya jatuh, rakyat suruh tanam sawit lagi ? Lantas setelah membongkar lahan sawit, kemudian suplai sawit menurun dan harga sawit naik lagi, lantas saranin rakyat tanam sawit lagi ? Nyalahin rakyat, kenapa buru-buru tebang sawit dan tanam jengkol petai ?

Sulit sekali memahami nalar pemimpin yang 'terlampau sederhana' seperti ini. Kalau mau berfikir makro, ini ada kebijakan negara yang salah. Orientasi ekonomi yang ke arah industri, bukan ke pertanian/perkebunan. Negara, tidak terlibat aktif membina petani, tapi membiarkannya bertarung di pasar global. Izin lahan sawit Jor-joran kepada perusahaan swasta dan asing, yang berimbas suplai melimpah dan harga sawit petani lokal anjlok. Neraca perdagangan yang defisit, banyak Import ketimbang eksport. Kurangnya inovasi dan industrialisasi sawit, sehingga lebih bergantung pada ekspor komoditi. Dan masih banyak lagi.

Pemimpin yang seperti ini kok katanya minta dua periode ? Pemimpin yang seperti ini kok katanya membela rakyat ?

Cobalah keluar rumah, dan berbincang sebentar dengan siapapun yang Anda temui. Mayoritas mengeluh di era Jokowi, tidak pekerja saja bahkan pengusaha ikut ngeluh. Tidak terjadi PHK saja sudah untung, ga sempat berfikir naikin gaji.

Saya kalau disuruh milih, ya saya lebih memilih kelanjutan bangsa ini ketimbang mempertahankan Jokowi. Saya, lebih ridlo kehilangan Jokowi ketimbang kehilangan bangsa ini. Terlalu mahal, menukar bangsa ini dengan Jokowi.

Jadi sekali lagi, jika bangsa ini mau keluar dari problem didepan mata, sementara solusi itu harus menyelamatkan Jokowi dari kekuasaan. Menjauhkan Jokowi dari kekuasaan, hakekatnya juga meringankan beban Jokowi dari tuntutan publik kelak di Mahkamah akherat.

Sementara itu, solusi tuntas Kedepan bagi bangsa ini tentu saja dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Negeri ini berpuluh tahun diatur oleh hukum penjajah, buktinya ? Kesengsaraan, nestapa dan penderitaan. Karenanya, sudah saatnya syariat Islam mengatur negeri ini. [MO/ge]

Posting Komentar