Oleh : Siti Subaidah
(Pemerhati Lingkungan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Generasi dengan segala macam permasalahnnya butuh perhatian besar saat ini. Bagaimana tidak, berbagai penyimpangan perilaku  yang notabene merupakan perilaku yang biasa dilanggar oleh orang dewasa kini kerap dilakukan oleh para remaja kita.

Sebut saja judi online, aktivitas ini sebagaimana kita ketahui adalah aktivitas yang biasa dilakukan oleh orang dewasa namun adanya perkembangan zaman dan teknologi menjadikan hal ini mudah diakses oleh siapa saja termasuk anak-anak kita. Maka merupakan PR besar buat orang tua, masyarakat dan negara untuk mengembalikan mereka ke jalur semula.

Berita tentang maraknya judi online oleh kaum remaja ditanggapi serius oleh pihak kepolisian dengan melakukan razia di jam-jam tertentu yang disinyalir banyak para remaja sedang bermain judi online. Dan memang banyak terjaring anak-anak dibawah umur yang sedang bermain game online dan judi online di warnet-warnet yang beroperasi 24 jam.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Pemkot Balikpapan, Muhaimin pun akhirnya angkat bicara terkait hal ini. Dirinya mengatakan bahwa pembinaan dan pengawasan disekolah sejatinya telah diberlakukan sangat ketat. Namun kembali lagi, ketika pelajar berada di luar jam sekolah maka peran orang tua yang sangat penting untuk mengawasi.

Upaya yang telah dilakukan oleh instansi terkait sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi dalam hal ini dengan merazia warnet-warnet di sejumlah tempat layak di apresiasi. Akan tetapi jika kita melihat secara faktual maka upaya razia ini pun tidak memberikan efek yang berarti. Terbukti masih saja ada anak-anak yang kedapatan bermain judi atau game online sampai larut malam walaupun sering diadakan razia.

Warnet-warnet pun masih banyak yang membolehkan anak-anak menggunakan jasa internet di jam-jam yang telah di larang dalam Perwali  No 13 Tahun 2016 tentang Warnet. Razia hanya akan memberikan peringatan pada individu tapi tidak dapat memutus mata rantai perjudian online yang merusak generasi karena perjudian online adalah permainan lintas dunia yang merupakan buah dari arus globalisasi internet.

Begitu pun dengan Perwali No 35 Tahun 2013 Tentang jam belajar yang diterbitkan oleh Pemkot Balikpapan yang menyatakan bahwa jam belajar dilaksanakan setiap pukul 18.00-21.00 pada hari senin-jumat, nyatanya  pun tidak diindahkan oleh para remaja kita dan hal ini pun tak memberikan solusi tuntas terhadap permasalahan ini.

Orang tua yang dihimbau untuk meningkatkan perannya dirumah guna mengawasi putra-putri mereka tampaknya juga tidak memberikan dampak besar karena anak-anak kita tak hanya hidup lingkungan keluarga tapi mereka pun bersosialisasi dengan lingkungan baik itu dunia nyata maupun dunia maya yang kerap sebagian besar waktu mereka dihabiskan dilingkungan tersebut.

Untuk menyelamatkan generasi kita dari paparan virus globalisasi ini  adalah dengan satu kata yaitu “Sinergi”, karena tidak bisa memutus permasalahan ini dari satu lini saja. Maka semua lini harus ikut ambil bagian menyelamatkan generasi baik itu orang tua, masyarakat dan negara.

Memfokuskan titik penyelesaian hanya pada satu lini saja sama dengan menambal ban bocor terus menerus tanpa memperhatikan bahwa jalan yang dilewati banyak paku yang bertebaran. Maka sinergilah yang paling dibutuhkan. Pertama dalam lingkup keluraga, orang tua punya peran utama membentuk kepribadian anak dimasa awal sampai dikatakan sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak.

Disinilah fokus orang tua memberikan pemahaman dan pendidikan akhlak serta memberikan tauladan dan contoh pribadi yang sesuai dengan aqidah islam. Penanaman aqidah dan pembentukan kepribadian islam inilah yang nantinya akan menjadi bekal bagi anak untuk bisa menempatkan sikap dan perilakunya ketika bergaul di masyarakat.

Kedua, dalam lingkup masyarakat. Masyarakat memiliki peran memberi edukasi atau pembelajaran yang mencerdaskan anak dan tentunya amar ma'ruf nahi munkar atau saling menasehati dan membe-rikan pengawasan terhadap hal-hal yang condong membawa anak kearah negatif.

Ketiga, dalam lingkup negara. Negara berfungsi sebagai wadah penerapan sistem islam yang menjaga seluruh masyarakat dari berbagai kerusakan yang ditimbulkan oleh pemahaman sekuler kapitalis terutama dalam hal digitalisasi modern. Negara menjadi penangkal dan penyaring utama dalam hal masuknya konten-konten yang bermuatan negatif kepada masyarakat.

Selain sebagai penangkal dan penyaring berbagai konten dan situs,  hal  yang tak kalah penting yakni penerapan sanksi terhadap pihak-pihak yang ikut terlibat dalam bisnis judi online ini. Sehingga ada efek jera yang timbul yang dapat meminimalisir praktek judi online ini agar tidak semakin berkembang.

Upaya ini lah yang harus disinergikan di semua lini kehidupan, baik itu orangtua, masyarakat dan negara. Karena jika salah satu saja absen maka dapat dengan mudah membuka ruang dan celah yang dapat menjadikan generasi kita terpapar virus negatif akibat digitalisasi modern layaknya judi online.[MO/ge]

Posting Komentar