Oleh : Hana Zulaikha S.Ag
(Pendidik, Alumni UIN yogjakarta)

Mediaoposisi.com- Kriminalisasi terhadap Al-Liwa dan ar-Rayah, Bendera Rasulullah saw, mengundang berbagai aksi pembelaan. Puncaknya adalah setelah terjadi aksi pembakaran terhadap ar-Rayah yang bertulis Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh di Garut saat peringatan hari santri bulan Oktober 2018 lalu. Aksi pembakaran ini menimbulkan reaksi pembelaan yang luar biasa dari umat Islam.

Salah satunya diwujudkan dengan berbagai Aksi Bela Tauhid di sejumlah daerah. Puncaknya, Aksi Bela Tauhid ini bertemu dengan “Reuni 212” pada tanggal 2 Desember 2018 sebagai peringatan momentum besar persatuan umat Islam di Indonesia pada Aksi Bela Islam 212 dalam rangka pembelaan terhadap penistaan QS. Al Maidah ayat 51, pada tahun 2016.

Tauhid Simbol Kesadaran Keimanan (Aqidah)
Kalimat tauhid, Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh,Tiada Tuhan melain kan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, adalah kalimat yang menjadi kalimat persaksian bahwa seseorang telah menjadi muslim, telah ridlo bahwa Allah adalah Tuhannya, Sesembahannya dan Pengaturnya, ridlo Islam sebagai Agamannya, Pedoman dan Jalan Hidupnya, dan ridlo bahwa Muhammad Saw adalah Nabinya, Penuntun dan Teladannya.

Kalimat tauhid adalah titik puncak kesadaran, yang akan merubah jalan hidup seseorang, menjadi orang yang terikat dengan ajaran Penciptanya, tidak mengikuti hawa nafsu dirinya sendiri ataupun orang lain, dan ini akan menjadi kekuatan terbesar bagi seseorang untuk bisa melakukan apapun yang menjadi perintah Tuhan dan Nabinya.

Sehingga, ketika ada kriminalisasi ataupun pelecehan terhadap kalimat Tauhid, hatta itu sebuah kain pun, tapi bertuliskan Tauhid, pasti hal ini akan menimbulkan reaksi yang luar biasa, apa pun akan dilakukannya demi membela keyakinannya. Kesadaran akan pembelaan ini tidak akan bisa diukur dengan nilai materi seberapapun besarnya, karena bagi seorang yang benar-benar memahami makna Tauhid, tidak ada yang lebih berharga selain keimanannya terhadap Tauhid tersebut.

Maka tidaklah mengherankan, apabila pembelaan terhadap bendera Tauhid ini, sampai membuat kaum muslimin melakukan upaya apapun untuk bisa bergabung bersama-sama saudaranya yang lain dalam membela bendera Tauhid ini. Dan meski dihalangi, diintimidasi, dan upaya persekusi lainya demi menggagalkan niat mereka untuk membela kalimat Tauhid di aksi Reuni 212, kaum muslimin tidak gentar, bahkan semakin bersemangat. Mereka siap mengorbankan waktu, tenaga, harta bahkan nyawa sekalipun untuk membela puncak keimanannya, Kalimat Tauhid Kalimat tauhid, Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh.

Tauhid Simbol Persatuan (Ukhuwah)
Kalimat tauhid, Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh, adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam. Tanpa melihat lagi keanekaragaman bahasa, warna kulit, kebangsaan ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam. Mereka semakin sadar mana hal pokok yang mereka harus sepaham dan bersatu, mana hal cabang yang bereka boleh berbeda, sehingga tetap sejalan dan saling menghargai.

Mereka mengucapkan kalimat Tauhid tersebut sebagai kunci awal keislaman mereka, dan ini adalah ucapan yang sama bagi seorang yang berislam. Dan dengan kalimat ini juda, Islam dengan jelas memerintahkan umat Islam untuk bersatu dan melarang mereka  untuk berpecah-belah. Hal ini merupakan konsekuensi dari tauhid. Dan Tauhid adalah simbol pemersatu umat.
Dengan kalimat tauhid umat Islam paham bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya saw. telah mewajibkan mereka untuk bersatu. Allah SWT. berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ  تَفَرَّقُوا
"Berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai (TQS Ali Imran" [3]: 103).

Allah SWT pun berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
"Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara" (TQS al-Hujarat [49]: 10).

Kaum Muslimin telah merasakan manisnya ukhuwah karena iman ini, saat Aksi 212 tahun 2016 lalu, dan mereka senantiasa ingin merasakannya. Para pembenci Islam dan musuh-musuh Islam pasti mengalami kegagalan dengan upaya pecah belah karena ingin menguasai kaum muslimin. Dengan ukhuwah berdasarkan kalimat Tauhid, musuh-musuh Islam tidak pernah mampu mencerai-beraikan jamaah dan persatuan Islam selama mereka bersatu-padu. Sebaliknya, ketika perpecahan melanda kaum Muslim, musuh akan dengan sangat mudah mengintervensi dan memperlemah persatuan mereka.

Maka saat umat diprovokasi dengan berbagai cara dan berbagai isu serta argumentasi, menggunakan beberapa tokoh umat untuk kepentingan mereka memecah-belah semagat ukhuwah aqidah ini, umat tetap berjalan, mereka sudah bisa memilah mana bisikan syaitan dan mana bisikan iman. Sekali lagi Kalimat Tauhid menjadi benteng mereka untuk tetap merapatkan barisan Persatuan ini. Terjaganya ukhuwah dan persatuan ini tidak lain karena mereka diikat dengan kalimat tauhid—Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh—yang telah meleburkan berbagai perbedaan di antara mereka dan menjaga dari perpecahannya.

Tauhid Simbol Kesadaran akan Islam (Syariah)
Kalimat tauhid juga hakikatnya adalah simbol kesadaran akan Islam. Makna Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh—yang  mengusung keesaan Allah SWT dan menunjukkan Muhammad saw, sebagai utusan-Nya—pastinya membawa semangat perubahan terhadap kondisi masyarakat Arab Jahiliyah saat itu mengikuti aturan hawa nafsunya beralih benar-benar mengikuti apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw, yaitu ajaran Islam yang berisi aturan bagi semua lini kehidupan.

Masyarakat semakin memahami, bahwa apa yang terjadi pada mereka saat ini karena mereka tidak menjalankan perintah Allah dalam menjalani kehidupan pribadi, sosial dan masyarakatnya. Tidak heran Semenjak Aksi 212 tahun 2016, kesadaran ini terus bergulir, komunitas hijrah terus berkembang, generasi muda bahkan tua pun banyak yang kembali pada kesadaran Islam, ingin menjadi muslim yang kaffah, yang sebenar-benarnya, menjalankan semua perintah Allah dan Rasul-Nya.

Berbagai upaya untuk membendung kesadaran ini, sepertinya akan sia-sia. Betapa upaya merusak generasi muda, dengan narkoba, pergaulan bebas dan lain sebagainya, mendapatkan perlawanan dari berbagai kalangan. Bahkan sebaliknya, gerakan hijrah dari berbagai komunitas, baik artis, para bankir dan lainnya, semakin menyemangati kaum muslimin untuk belajar dan melaksanakan Islam sebagaimana seharusnya.

Bahkan dalam pengaturan urusan masyarakat pun banyak yang sudah sadar, bahwa semua yang terjadi saat ini karena aturan yang dibuat dan ditetapkan adalah aturan kapitalis yang hanya mementingkan para pemilik modal, kepentingan rakyat sebagai pemilik negeri ini diabaikan, sehingga banyak yang kemudian menyadari bahwa hak rakyat harus dikembalikan pada rakyat, dan mereka melihat kebijaksanaan itu ada pada Islam. Kesadaran akan Islam memiliki aturan yang paripurna pun sudah mulai menyebar luas. Kembali pada Islam, kembali pada Syariahnya.

Momen Bela Tauhid adalah momen untuk membela Islam, membela Aturan Allah, Membela Syariah Allah. Dan ini adalah bukti bahwa kalimat Tauhid yang harus ada di hati, harus ada di lesan dan dan dibuktikan dengan amalan nyata. Inilah makna iman terhadap kalimat Tauhid.

Bela Tauhid Simbol Kebangkitan dan Kemenangan Islam
Makna Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh—yang  mengusung keesaan Allah SWT dan menunjukkan Muhammad saw,  sebagai utusan-Nya—pastinya telah menunjukkan adanya semangat perubahan terhadap kondisi yang ada. Islam hadir untuk memanusiakan manusia. Membuat manusia bangkit. Sesuai dengan fitrah kemanusiaannya yang memiliki kemuliaan akal.

Kondisi saat ini, membuat manusia sadar bahwa kejadian-kejadian yang ada sangat jauh dari kata “waras”, banyak yang tidak sejalan dengan logika, banyak yang kita dipaksa menerima kejadian tidak masuk akal, banyak kedzaliman yang dipertontonkan. Hati nurani mana yang tidak terbangun, tersadar akan hal-hal yang timpang. Naluri mana yang langsung mengiyakan saja, tentu semuanya merasakan kegelisahan. Maka tidak heran bila semuanya menghendaki perubahan, untuk mengakhiri ketidakwarasan ini.

Kaum muslimin ingin bangkit, kaum muslimin ingin segera mengakhiri kedzaliman dengan menghadirkan keadilan, dan hal ini hanya bisa diraih dengan Islam. Inilah kebangkitan hakiki manusia yang dilandasi dengan pondasi Tauhid. Dengan itulah tatanan kehidupan masyarakat mencapai kegemilangannya bagaikan cahaya yang menjadi mercusuar kemuliaan manusia.
Kebangkitan Islam yang dilandasi pondasi Tauhid secara nyata menunjukkan kemenangan Islam. Demikianlah hakikatnya ketika kalimat Tauhid—Lâ  ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh—telah berkibar di seantero negeri. Itulah pertanda kemenangan Islam. Dan kita berharap kemenangan ini berawal dari sini menyebar ke seantero bumi.

Memang Kemenangan Islam bukan sekadar atas usaha manusia. Namun, kunci kemenangan adalah adanya pertolongan Allah SWT. Pertolongan Allah SWT akan diturunkan ketika terdapat kesabaran dan ketakwaan yang penuh pada perintah Allah SWT. Oleh karena itu, mudah-mudahan kita senantiasa memiliki kesabaran dan ketakwaan dalam membela Tauhid, dalam membela Islam, meski kita harus berkorban dan terkorban di dalamnya. Inilah kunci datangnya pertolongan Allah SWT. Sebaliknya, kemaksiatan dan ketidaksabaran adalah kunci kelemahan dan kekalahan. Maka tetap pegang teguh kalimat tauhid—Lâ  ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh—Kunci Islam kita, Kunci surga kita, Kunci Kemenangan Kita.

Karena itu, Aksi Bela Tauhid 212 mesti menjadi momentum untuk memperkuat kembali kesadaran Aqidah, Ukhuwah, dan Syariah. Kesadaran dan Persatuan yang akan membangkitkan umat. Dengan itu umat Islam kembali menjadi umat terbaik, umat yang memperoleh Kemenangan yang hakiki.

Allah SWT berfirman:

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ - بِنَصْرِ اللهِ
Pada hari ini, kaum Mukmin merasakan kebahagiaan karena memperoleh pertolongan Allah (TQS ar-Rum [30]: 4-5).[MO/sr]

Posting Komentar