Oleh: Annis Miskiyyah 
(Member AMK)

Mediaoposisi.com-Berdiri bulu kuduk saat nonton film horor yang ditayangkan televisi. Jantung berdegup keras dan mata terpejam ditutupi kedua tangan, ketika adegan yang menegangkan terjadi. Hantu-hantu itu seperti mau menerkam saja, tidak nyata namun ada.

Begitupun dengan HIV/AIDS yang merupakan virus sekaligus penyakit yang cukup mengerikan bagi penderitanya. Sampai sekarang belum ditemukan obatnya dan harus terus dirawat seumur hidup atau kematian segera datang. HIV/AIDS selalu mengintai dan menyergap siapapun yang lengah.

Pada November 1991, Freddie Mercury vokalis band Queen asal Inggris meninggal dunia pada usia 45 tahun. Menurut keterangan dokter, dia menderita penyakit bronkopneumoni yang timbul karena AIDS selama bertahun-tahun. Demikian juga dengan Prince superstart dunia, meninggal dunia pada 21 April 2016, dia tertular HIV sejak tahun 1990.

Bukan hanya artis dunia, ternyata HIV/ AIDS juga telah merenggut nyawa orang biasa. Di Garut, dikabarkan 3 orang penderita HIV/AIDS meninggal dunia pada tahun 2017 (garutnews.com, 17/1/2018).

Fenomena merebaknya penyakit horor, semakin membuat negeri ini ada pada kondisi ketakutan. Padahal, tanggal 1 Desember setiap tahunnya selalu diperingati sebagai 'Hari Aids se-dunia'. Namun tidak mengurangi kengerian bagi penderitanya, apalagi bagi masyarakat sekitar.

Sekulerisme Liberalisme Perparah Penyebaran Penyakit Horor
HIV merupakan virus yang sebabkan penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrom) menyerang sistem kekebalan tubuh dan merusak bagian dari sistem itu yaitu jenis sel darah putih yang disebut sel limfosit T. Menurut KAPETA Foundation, banyak orang yang tidak merasa berbeda telah terinfeksi HIV, bahkan banyak orang tidak merasa gejala apa-apa selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, tak sedikit orang yang tertular HIV tetapi tidak menyadarinya.

Sementara itu, penularan virus ini bisa dari transfusi darah, penularan dari ibu ke janin bayi yang dikandungnya,  penggunaan jarum suntik yang sama narkoba serta yang tertinggi lewat aktivitas seksual beresiko pasangan heteroseksual dan homoseksual.

Tidak salah jika disimpulkan bahwa Sekulerisme dan Liberalisme yang bercokol menjadi akar masalah dari menjamurnya penyakit ini. Sekulerisme Liberalisme sebuah paham yang menegasikan aturan agama dalam kehidupan, menjadikan manusia justru tunduk pada hawa nafsu mengatas-namakan Hak Asasi Manusia bebas berprilaku dan memandang kebahagiaan semu.

Melabrak norma dan aturan agama tanpa risih, mempertontonkan aneka kemaksiatan di depan mata. Bahkan, tanpa malu mereka meminta dukungan dunia. Selama hal tersebut masih ada, mustahil penyakit ini sirna.

Demikian juga dengan solusi pragmatis yang diberikan tak mampu tuntaskan masalah. Bila diperhatikan, hanya terjadi pendataan dan penanganan dan pemantauan bagi yang sudah terdata penderita serta bantuan medis. Lalu bagaimana yang belum atau tidak terdata, sementara mereka bermaksiat menularkan virus-virus jahat?

Contohnya Pemerintah Kabupaten Garut beri bantuan kepada 364 ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) sebagai penerima Iuran bantuan BPJS dalam rangka memperingati Hari Aids sedunia pada tahun 2017 yang bertema 'Saya Berani, Saya Sehat'.(garutnews.com, 17/1/2018)

Kemudian mengikuti arahan lembaga internasional dengan imbauan pembagian serta penggunaan alat kontrasepsi ke tengah masyarakat, tapi mereka tetap dibiarkan melakukan liwath dan zina. Tidak ada upaya pencegahan, penutupan akses berbuat kemaksiatan, pemberantasan pornografi dan pornoaksi, aturan serta sangsi yang tegas bagi pelaku kemaksiatan yang akan membuat jera.

Maka wajarlah, penularan penyakit horor ini semakin hari tidak terbendung, menular bahkan menjangkiti siapapun termasuk anak-anak.

Penyakit Horor Menghantui Negeri
Berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dalam hal ini, tidak dapat menghentikan penyebaran penyakit horor, karena tidak menyentuh akar masalah dan cenderung pragmatis. Ditambah sistem Kapitalisme Liberal yang sangat permisif terhadap perilaku maksiat, diantaranya narkoba, zina, pergaulan bebas bahkan perilaku bejat kaum sodom.

Akibatnya, wajar jika setiap tahun penderitanya semakin bertambah. Di dunia pada tahun 2016 tercatat lebih dari 36,7 juta jiwa yang hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Jumlahnya terus meningkat sampai sekarang (KOMPAS.com, 28/11/2017).

Sementara itu, di Indonesia, berdasarkan data Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, hingga Maret 2017 tercatat 242.699 jiwa positif HIV dan 87.453 jiwa positif AIDS. Terbanyak secara nasional berada di DKI Jakarta. Mereka rata-rata masih berusia produktif antara 20-29 tahun (okezone.com, 30/5/2018).

Tidak hanya di kota-kota besar, HIV/AIDS juga menjangkiti Kabupaten Garut. Ada 601 penduduk di 31 Kecamatan yang positif terinfeksi HIV/AIDS, terbanyak di Kecamatan Garut Kota, Tarogong kidul dan Tarogong kaler. (garutnews.com, 28/11/2017).

Bagaimana mau maju dan sejahtera negeri Indonesia, jika Sumber Daya Manusianya justru terjangkit penyakit horor. Yang ada kualitas dan kuantitas kesehatan akan merosot tajam.

Seharusnya semua pihak menyadari akar masalah dari penyebaran penyakit horor yang mengancam negeri ini adalah sistem Sekulerisme Liberalisme. Sudah saatnya kita campakkan dan menggantinya dengan sistem hidup yang memberi solusi menyelamatkan negeri.

Islam Solusi Tuntas Selamatkan Negeri
Penyebaran penyakit horor semakin mengancam keselamatan negeri, maka harus ada solusi yang mengakar dan secara komprehensif berasal dari Sang Pencipta. Semua itu, hanya ada pada Islam, bukan pada sistem aturan lainnya. Mulai dari solusi preventif hingga kuratif. Hanya Islam yang mampu selamatkan negeri.

Islam akan menjadikan individu-individu beriman dan bertakwa. Semua orang harus membina diri agar berpola pikir dan berpola sikap Islam. Sehingga, akan menjadi pengekang yang bisa menundukkan hawa nafsu agar selalu taat aturan Sang Pencipta dimanapun berada.

Berupaya menyalurkan pemenuhan naluri kasih sayang yang dihalalkan dengan jalan pernikahan yang Syar'i bila sudah mampu. Bila belum, maka diupayakan mengalihkan kepada naluri beragama, salah satunya dengan shaum. Tidak terpikirkan melanggar perintah dan larangan Allah, apalagi bermaksiat. Jika ada yang terjerumus, maka segera bertaubat nashuha, berhijrah segera, berkumpul bersama komunitas yang senantiasa menjaga iman dan takwa.

Islam juga mengharuskan amar ma'ruf nahyi mungkar saling menasehati dan muhasah baik bagi diri, masyarakat maupun penguasa negeri, agar tetap dan menjalankan aturan Islam bukan yang lain dalam setiap aspek kehidupan serta menolak kemaksiatan mengancam keselamatan negeri.

Islam pun menjadikan negara sebagai pelaksana penerap sistem Islam kaffah terutama sistem pergaulan pria dan wanita dan sistem sosial yang akan menjaga keharmonisan, memberantas pornoaksi dan pornografi, melarang berdirinya komunitas-komunitas kemaksiatan.

Negara sebagai pelindung warganya dari serangan ideologi maupun paham seperti sekulerisme liberalisme yang rusak dan merusak. Caranya meningkatkan mendidik, membina, memahamkan masyarakat secara terus menerus dengan ilmu dan tsaqafah Islam sehingga pola pikir dan pola sikapnya Islami.

Jika masih ada yang melanggar perintah dan larangan Allah maka akan dijatuhi sangsi sesuai Syariat Islam yang bersifat jawabir (menghapus dosa) dan jawazir (memberi efek jera) baik bagi pelaku maupun masyarakat. Bagi pelaku zina mukhson akan dihukum rajam sampai mati, sedangkan pelaku zina ghaira mukhson dihukum cambuk 100kali dan diasingkan 1 tahun.

Pelaku liwath dan pasangan liwathnya akan dihukum mati dengan cara dijatuhkan dari tempat yang sangat tinggi. Pelaku narkoba baik pemakai maupun pengedar juga akan dikenai sangsi sesuai yang ditetapkan Qadhi (hakim). Pelaksanaan eksekusi, harus disaksikan umat. Jadi tidak ada celah, penyakit horor ini ada.

Negara juga di dalam Islam, harus sangat menaruh perhatian besar pada pelayanan kualitas serta kuantitas kesehatan secara gratis. Ada deteksi dini keberadaan HIV AIDS agar tidak menular. Caranya dengan isolasi khusus bagi para penderita sebagaimana perlakuan terhadap para penderita penyakit menular lainnya. Kemudian mendorong para ahli melakukan berbagai riset penilitian agar ditemukan obat maupun vaksin yang bisa menyembuhkan dan mengobati penyakit horor tersebut.

Allah SWT telah berfirman dalam Al Qur'an surat Al Maidah ayat 50 yang artinya, "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang menyakini (agamanya)?"[MO/ge]

Posting Komentar