Oleh: Sulastri 
(Pemerhati Umat)

Mediaoposisi.com-Sekulerisme yang sudah mendarah daging di sebagian tubuh kaum muslim, seolah sudah kronis, Karena sudah menjalar di setiap sendi-sendi kehidupan. Bukan hanya dikalangan masyarakat yang awam terhadap pemahaman agama, bahkan untuk kalangan ulama sekelas MUI pun tidak bisa mengelak dari sekulerisme.

Seperti berita yang dilansir CNN Indonesia Majlis Ulama Indonesia (MUI), memperbolehkan Bank Syariah memakai dana non halal untuk kemaslahatan umat.

Hal itu diputuskan dalam rapat Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI di Ancol, Jakarta pada kamis (8/11) yang di pimpin ketua MUI yang juga Cawapres No urut 01 Ma’ruf Amin.

Ma’ruf menjelaskan bahwa dana non halal merupakan segala bentuk pemasukkan Bank Syariah yang bersumber dari kegiatan yang tidak halal ia mencontohkan salah satu pendapatan non halal itu berupa denda saat  nasabah terlambat mengembalikan pinjaman (Jakarta, CNN Indonesia, 8/11)

Inilah buah dari berkembangnya sekulerisme. Paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Paham ini benar-benar membuat umat terlena dengan hingar binger kehidupan. Melewati batasan-batasan syariah Allah sudah merupakan hal biasa yang wajar dilakukan. Halal haram sudah tidak lagi dipedulikan.

Pun demikian dengan para ulama yang pada hakekatnya merupakan sosok panutan dalam menapaki kehidupan ini. Perannya dalam membimbing umat ke jalan yang benar sudah semakin pudar dan dan perlahan akan menghilang.

Keputusan MUI memperbolehkan Bank Syariah memakai dana non halal untuk kemaslahatan umat merupakan keputusan salah di level fatal, sebab ini akan menggiring umat, mengajari umat, bahkan memaksa umat untuk melanggar hukum yang sudah ditetapkan Allah SWT. Kebijakan ini pun benar-benar menodai peran ulama yang seharusnya membawa umat di jalan yang benar  untuk menapaki kehidupan dunia dan akhirat.

Sebenarnya apapun dalih yang digunakan untuk membela dan melindungi keputusan itu, hakekatnya tetap salah. Karena dana sekecil apapun ketika itu haram, tetap tidak boleh digunakan.

Mungkin inilah yang disebutkan oleh Rasulullah SAW fitnah yang akan menjangkiti ulama adalah kecintaan terhadap harta dan kedudukan, ulama yang semacam itu oleh Rasulullah di sebut dengan ulama salathin ( Ulama Penguasa), karena mereka akan menjadi stempel penguasa, fatwahnya akan menjadi pembenar atas kebijakan-kebijakan zalimnya.

Alangkah ironis jika himmah (semangat) seseorang ulama sampai bergeser dari koridornya. Semula hanya untuk akhirat, menjadi pecinta dan pemburu dunia, yang tadinya sebagai pengingat dan pengoreksi si penguasa, menjadi pembenar dan pendukung atas kezaliman mereka.

Tugas ulama adalah menjadi pengawal yang tegas bagi penguasa agar senantiasa berada dijalan yang benar, tidak menyimpang dari koridor Syariah dan tidak berlaku zalim.  Jika yang mereka lakukan justru sebaliknya, maka itu akan menyebabkan kerusakan dimana-mana.

Hujjatul Islam Imam al Ghazali dalam Al Ihya mengatakan “ Rusaknya umat itu disebabkan rusaknya penguasa, rusaknya penguasa itu disebabkan oleh rusaknya ulama, rusaknya ulama disebabkan oleh kecintaan mereka atas dunia dan kedudukan

Ulama harus tetap berpegang teguh pada posisi keulamaannya yang sangat mulia. Para ulama adalah pewaris para nabi, tugas ulama para nabi termasuk Rasulullah adalah untuk menegakkan tauhid dan hukum-hukum Allah (Syariah Islam). Hal yang sama tentu menjadi tugas para ulama saat ini. Inilah tugas berat ulama hari ini, yang dibebankan oleh Rasulullah diatas pundak mereka, dan ketika mereka sudah tergelincir dapat berpotensi menghancurkan Islam itu sendiri.

Al Imam ibnu Abdilbarr sebagaimana tercantum dalam Jami Bayan Al-Ilin wa Fadlihi mengatakan “para ulama mengibaratkan ketergelinciran ulama itu bagaikan bocornya sebuah bahtra, yang jika tenggelam maka banyak manusia juga akan ikut tenggelam bersamanya”.

Oleh karena itu kita hidup di zaman ini tanpa Rasulullah, para ulamalah yang menjadi sandaran, panutan, bahkan penerang di kegelapan jalan kehidupan. Manusia akan selalu mendapat petunjuk dan tidak akan salah dalam melangkahkan kakinya. Rasulullah bersabda “Sesungguhnya ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk dalam kegelapan bumi dan laut, apabila dia terbenam, maka jalan akan tampak kabur” (HR. Ahmad).

Salah satu penyebab tergelincirnya ulama pun adalah menyusupnya paham sekuler, yang tidak lagi menimbang, mengukur dan memperhatikannya masalah kehidupan sesuai hukum ketetapan Allah. Ketika paham ini semakin meluas akan terlihat seperti sesuatu hal yang wajar, namun bisa menghancurkan Islam dari dalam.

Dan dampaknya hukum Allah yang seharusnya digunakan untuk memecahkan segala problematika kehidupan akan tersingkirkan olehnya. Sudah saatnya kita mencampakkan sejauh-jauhnya sekulerisme di tengah-tengah kita, di tengah masyarakat dan Negara untuk kembali pada islam agar Syariah Allah terjaga dan islam akan menjadi Rahmatan Lil alamin. Walahualam bis Shawab [MO/sr]

Posting Komentar