By: Enung Sopiah

Mediaoposisi.com-Hiruk pikuk perayaan tahun baru masehi bersamaan dengan perayaan hari natal umat nasrani, kadang -kadang menjadi polemik bagi umat islam. Karena masih banyak umat islam yang awam akan ke-haraman mengikuti perayaan tahun baru masehi.

Sejarah perayaan tahun baru masehi ini pertama kali dirayakan oleh bangsa romawi, mereka mendedikasikannya untuk seorang dewa yang bernama Janus.

Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menghadap kedepan, satu wajah lagi menghadap kebelakang. Jelas-lah bahwa perayaan tahun baru masehi adalah perayaan hari besar agama, Jadi fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru masehi ini bukan berasal dari budaya kaum muslim.

Di negri sekuler yang menggunakan sistem demokrasi, perayaan tahun baru masehi ini biasa dirayakan oleh kebanyakan orang dengan hiburan-hiburan yang mengundang banyak kemaksiyatan, bahkan umat islam pun yang awam ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi ini.

Begitu-pun faktanya dengan perayaan natal, banyak juga umat islam yang ikut-ikutan merayakan secara tidak langsung dengan menggunakan atribut-atribut natal, atau dengan mengucapkan selamat natal, bahkan ada juga paksaan dari perusahaan untuk memakai atribut-atribut natal dengan dalih toleransi.

Mereka memandang ketika umat islam tidak mau memakai atribut natal, atau tidak mau mengucapkan selamat natal, maka umat islam mereka sebut telah melakukan intoleransi, sungguh fenomena ini sangat mengganggu umat islam, karena akan merusak aqidah kaum muslim.

Sementara arti toleransi yang sebenarnya adalah, membiarkan, menghargai, tidak mengganggu umat lain dalam melakukan ritual agamanya.

Jelas pengertian toleransi itu bukan berarti harus ikut-ikutan dalam melakukan ritual agama lain, karena semua itu akan merusak hubungan antar umat beragama dan merusak aqidah umat islam.

Toleransi haruslah dimaknai dengan baik dan secara bijaksana agar aqidah umat islam tetap terjaga. Allah SWT bahkan telah memperingatkan dalam Al-qur'an tentang toleransi beragama.

 Allah SWT berfirman : " Katakan-lah hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menyembah Tuhan yang aku sembah, untukmu agamamu dan untukku-lah agamaku". (QS. Al-Kafirun: 1-6).

Rasulullah SAW bersabda:" siapa yang meniru kebiasaan satu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut." (HR. Abu Daud )

Itulah dalil-dalil dalam Alqr'an dan as-sunnah yang menjelaskan toleransi menurut islam, dan keharaman mengikuti hari besar agama lain.

 Agama islam mempunyai dua hari raya besar, yaitu hari raya idul fitri dan hari raya idul adha, jadi dalam hal ini umat islam hanya boleh merayakan dua hari raya besarnya saja, dan tidak boleh atau haram merayakan hari raya agama lain. Islam telah mengatur semuanya sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT.

Masih banyak perkara yang dibolehkan syariat tentang bagaimana menjaga hubungan interaksi umat muslim terhadap non muslim seperti saling memberi hadiah, saling membantu ataupun perkara-perkara muamalah lainya.

Menjunjung toleransi bukan mengorbankan aqidah maka disinilah pentingnya umat mengkaji kembali islam kaffah, agar umat islam lebih faham bagaimana hak dan kewajiban seorang muslim, dan faham bahwa islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur seluruh asfek kehidupan, termasuk mengatur hubungan antar umat beragama, dan agar tidak dibodohi oleh orang-orang yang akan merusak aqidahnya.

Posting Komentar