Oleh: Merli Ummu Khila 

Mediaoposisi.com- Bila jurnalistik tidak lagi bicara tentang fakta? Siapa yang bisa dipercaya?. Tanggal 2 Desember 2018 bukan saja sebagai hari bersejarah bersatu nya umat islam. Akan tetapi sekaligus hari bunuh diri massal pers Indonesia.

 Bagaimana tidak, sehari setelah aksi yaitu tanggal 3 desember 2018 media cetak seolah kompak tidak memuat peristiwa tersebut. Hanya 2 media nasional yang memuatnya yaitu Hanya Koran Rakyat Merdeka, Republika yang memuat berita dan foto peristiwa Reuni 212 di halaman muka. Rakyat Merdeka menulis Judul “212 Makin lama, Makin Besar Kenapa Ya?.” Republika menulis Judul “Reuni 212 Damai". Pada tanggal 2 Desember 2018, hanya 1 stasiun TV yang menyiarkan yaitu TV ONE.

Reuni Akbar 212 yang di hadir jutaan massa, yang tentu saja memadati banyak ruang publik, dari terminal, bandara, stasiun, hotel dan lainnya, bukan kan sudah memenuhi syarat sebuah berita. Bahkan dari segi jurnalistik apapun, aksi Reuni 212 lebih dari layak untuk diberitakan. Lalu mengapa banyak media yang tiba-tiba mendadak buta tuli?

Tidak butuh seorang pengamat untuk mengetahui alasannya. Bahkan seorang awam pun bisa menarik suatu kesimpulan. Bahwa karena aksi ini dilakukan umat islam yang selama ini vocal terhadap kebijakan pemerintah. Karena para peserta aksi adalah umat islam yang selalu dianggap radikal, anti pancasila, anti NKRI.

Media yang saat ini sebagian besar pemiliknya adalah para petinggi pendukung pemerintah. Inilah biang keladi nya. Keberpihakan media menjadi terang benderang.  Bukan hanya sekedar issue maupun opini. Terbukti pada setiap Harian yang terbit di tanggal 3 Desember 2018.

Reuni Akbar 212 kemarin bukanlah agenda politik, bahkan Banwaslu sudah menegaskan tidak ada pelanggaran saat acara berlangsung, acara tersebut berjalan dengan damai tanpa kericuhan. Dan hanya mengagendakan tausiah tanpa ada orasi apalagi kampanye.

Kini para pemilik media bersiap menuai badai karena angin yang mereka tebar. Ketidaknetralan mereka menjadi bumerang bagi keberlansungan hidup media itu sendiri. Apalah arti sebuah media cetak tanpa pembaca? Apalah arti sebuah stasiun TV tanpa pemirsa. Dan mereka bersiap ditinggalkan kedua nya.

Ketakutan rezim akan kebangkitan umat islam membuat mereka tidak bisa berpikir dengan akal sehat. Ibarat orang yang gugup, melakukan sesuatu tanpa pikir panjang. Mereka lupa bahwa umat masih punya media sosial yang masih bisa netral.

Ini semua bermuara pada satu kesalahan. Sistem yang dianut rezim membuat mereka hanya berbuat berdasarkan kepentingan, entah itu kepentingan golongan, kepentingan partai, kepentingan para tuan-tuan yang sudah menjajah  tanpa mereka sadari. Kuat nya cengkraman sistem kapitalisme dan liberlisme membuat manusia mengesampingkan naluri kemanusiaan demi kepentingan.

Aksi reuni 212 merupakan pembuktian bahwa umat mendambakan persatuan, mendambakan kehidupan yang damai, mendambakan keadilan, dan yang paling penting umat mendambakan  bisa hidup sejahtera dibawah aturan yang memanusiakan manusia.

Dan ini semua hanya islam yang mampu menjawabnya. Karena sistem islam terdiri dari 3 komponen penting yaitu individu yang bertakwa, masyarakat yang menjadi pengontrol dan negara sebagai pelaksana hukum syara. Dan aturan itu bersumber dari AL Qur’an dan As Sunnah.[MO/sr]



Posting Komentar