Oleh : Nasrudin Joha
(Catatan Menjelang Aksi Reuni 212)

Mediaoposisi.com-Siapapun yang mendalami kajian politik perubahan, tidak akan pernah mampu menampik realitas bahwa umat dan militer adalah dua anak kunci perubahan yang tidak bisa dikesampingkan. Tanpa dukungan umat dan militer, mustahil cita-cita perubahan yang diinginkan kaum muslimin, kaum yang menghendaki perubahan secara revolusioner dapat wujud menjadi nyata.

Memang benar, gerakan politik secara sepihak mampu meraih tampuk kekuasaan hanya dengan menggunakan kekuatan pilar militer dengan methode kudeta untuk dapat mengambil alih kekuasaan. Namun, kekuasaan yang diraih melalui jalan kudeta hakekatnya adalah kekuasaan yang ringkih, rawan diambil alih pihak yang lain, tanpa dukungan penuh dari umat.

Sebaliknya, gerakan politik berbasis massa secara sepihak juga dapat melakukan gerakan 'people power' dengan memaksimalkan kekuatan pilar umat, untuk meraih kekuasaan secara revolusioner. Lagi-lagi, kekuasaan yang diambil paksa melalui jalur pepple power ini juga merupakan kekuasaan yang lemah, dalam waktu sekejap bisa saja militer mengambil alih kekuasaan itu, meskipun sebelumnya telah dikuasai secara penuh.

Kekuasaan yang kokoh, kuat dan memiliki akar legitimasi paling mendasar adalah kekuasaan yang diinginkan umat dan didukung oleh militer. Dukungan pilar umat dan militer, menjadikan legitimasi kekuasaan yang diperoleh akan mengakar dan mendasar. 

Dengan ditopang pilar umat dan militer, kekuasaan yang tegak akan eksis dan mampu menghadapi tantangan eksternal dan rongrongan internal.

Tindakan rezim yang mengerahkan militer secara 'Show Of Force' untuk menyambut gelaran aksi Reuni 212, sesungguhnya mengkonfirmasi beberapa hal :

Pertama, rezim ingin menunjukan gigi taringnya kepada umat, bahwa bagaimanapun rezim memiliki keseluruhan alat kekuasaan negara. Pesan yang penting untuk disampaikan kepada umat, bahwa rezim telah siap mengambil 'seluruh tindakan yang memungkinkan dengan keseluruhan kekuatan yang tersedia' untuk memukul mundur umat, jika umat mencoba 'mengganggu' kekuasaan rezim.

Kedua, rezim gagal memahami suasana kebatinan umat. Rezim melihat gerakan umat sebagai 'ancaman politik', meskipun umat berulangkali menegaskan gerakan yang dilakukan adalah gerakan yang murni dilakukan atas dorongan akidah untuk membela eksistensi tauhid yang 'dilecehkan' oleh segelintir kalangan yang mendapat dukungan dari rezim.

Ketiga, unjuk kekuatan melalui institusi militer adalah konfirmasi kegagalan rezim merebut hati umat dengan memberikan pelayanan dan berkhidmat kepada umat. Rezim berusaha memaksa umat mendekat dan menopang kekuasaan rezim yang limbung dan hampir jatuh, dengan ujaran halus bernada teror dan ancaman.

Keempat, penggunaan unsur 'kekuatan militer' untuk pengkondisian suasana politik, juga menegaskan betapa pilar partai politik yang menopang rezim tidak dapat bekerja menyambung pilar legitimasi rakyat terhadap rezim. Partai, hanya mampu mengumbar agitasi politik dari menara gading, tak mampu mendekat apalagi 'menjamah' hati rakyat sehingga memberikan kepercayaan (Trust) kepada rezim.

Namun, penggunaan militer untuk dilibatkan dalam 'pengamanan' aksi reuni 212 yang secara konstitusi menjadi tugas kepolisian ini, semakin menunjukan rezim sedang melubangi pilar kekuasaannya sendiri dengan membuat blunder politik. Pertemuan dan interaksi hangat antara umat dan militer, meskipun dalam posisi sebagai 'peserta' dan 'pengaman' dapat menjadi ajang konsolidasi alami antara umat militer.

Militer dalam jarak yang dekat mampu mengindera secara langsung, betapa wajah-wajah ikhlas umat yang menyemut mengitari Monas, bukanlah wajah beringas seperti yang dituduhkan. Mereka adalah umat, yang dengan kesabaran dan keikhlasan selalu sabar dan terus mengambil ikhtiar secara damai atas berbagai untuk mengoreksi berbagai kebijakan zalim yang ditelurkan rezim.

Umat adalah kumpulan orang yang memahami betul, bahwa hanya dengan Islam negeri ini dapat diselamatkan. Mereka akan mengadu dan melakukan berbagai diskusi dan curhat politik yang hangat dengan militer, mengadukan tentang buruknya perlakuan rezim pada umat.

Disisi yang lain, resonansi perasaan dizalimi ini juga akan menyamakan frekuensi gerakan umat dan militer. Militer juga paham betul, bahwa rezim ini juga tidak saja mengabaikan umat, tetapi juga mengabaikan dirinya.

Militer yang lahir dan dibesarkan dari rahim umat, pasti terunggah perasaan senasib sepenang-gungannya, perasaan berada pada tindihan kezaliman yang sangat, akibat ulah kebijakan rezim. Resonansi ini, pada titik tertentu akan menghasilkan ion-ion kohesi internal antara umat dan militer untuk membuat komitmen bersama melakukan perubahan agar keluar dari himpitan kezaliman.

Reuni 212 akan menjadi ajang konsilidasi alamiah antara militer dan umat, dalam jumlah yang sangat fantastis. Uniknya, hasil konsolidasi alamiah antara umat dan militer ini akan alamiah pula menyebar magnitutnya keseluruh pelosok negeri seiring kepulangan peserta reuni 212 ke daerah asal, yang kelak ini akan berubah menjadi sumbu pemantik gerakan perubahan yang revolusioner. Perubahan yang bisa menggulung kekuasaan rezim sampai ke akar-akarnya.

Jika konsolidasi alamiah antara umat dan militer ini telah sepakat pada satu tujuan idiil konsepsi perubahan, yang memiliki visi politik untuk membuat perubahan secara revolusioner, dan bersepakat untuk memberikan pilar kekuasaan dan legitimasi kepada entitas politik yang mengemban ide-ide yang telah disepakati, tidak mustahil perubahan besar itu akan segera hadir di negeri ini. 

Apalagi, jika konsepsi itu adalah konsepsi ideologi yang berasal dari Ruh tauhid, menghadirkan serangkaian konsep bersistem yang mampu diaplikasikan dalam entitas politik praktis (baca: negara), yang mampu dipahami secara rinci hingga maknanya mampu ditunjuk oleh jari, niscaya perubahan itu sudah sangat dekat.

Konsolidasi alami antara umat dan militer ini akan menghasilkan perubahan yang unik. Perubahan yang benar-benar didukung oleh umat dan militer. Perubahan itu bukan ditempuh dengan jalan kudeta, bukan pula melalui upaya people power. 

Tetapi perubahan yang dikehendaki umat dan didukung militer, perubahan yang di ridloi oleh umat dan militer, perubahan melalui methode penyerahterimaan kekuasaan dari umat dan militer kepada entitas politik yang mereka percaya, persis sebagaimana Aus dan Kazrat menyerahkan kekuasaan mereka kepada entitas politik yang dipimpin oleh Nabi SAW dan para sahabat di Madinah. 

Kapankah saat itu terjadi ? Nampaknya rezim sedang mempercepat waktunya dengan menyiapkan prakondisi melalui 'konsolidasi' alamiah melalui gerakan reuni 212. [MO/ge].

Posting Komentar