Oleh : Novida Balqis Fitria Alfiani

Mediaoposisi.com- Baru saja kemarin umat kristiani merayakan perayaan natal. Begitu ketatnya pemerintah menjaga gereja-gereja dari gangguan yang mungkin terjadi. Seperti yang dilakukan Polda Riau yang siap siaga jelang perayaan natal dan tahun baru.

Dilansir dari m.merdeka.com (22/12/2018) menjelang perayaan natal dan tahun baru, Polda Riau sebanyak 940 personel bersiaga untuk pengamanan. Hal ini dilakukan melalui Operasi Lilin Muara Takus 2018 yang berlangsung selama 10 hari, sejak 23 Desember 2018 hingga 1 Januari 2019 mendatang.

Dalam operasi Lilin Muara Takus 2018 ini, kami juga turut mendirikan 40 pos pengamanan dan 16 pos pelayanan,” ujar Kapolda Riau Irjen Widodo Eko Prihastopo, Sabtu (22/12). (m.merdeka.com, 22/12/2018)

Selain itu, dilansir dari cnnindonesia.com (28/11/2018) polisi juga mengawasi ‘sel tidur’ jaringan terorisme yang dianggap menimbulkan serangan jelang penutupan tahun 2018. Polri pun mengerahkan kemampuan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dan mengerahkan kepolisian daerah untuk mengawasi sel ini.

Juga dilansir dari cnnindonesia.com (19/12/2018) Detasemen Khusus/Antiteror Polri menangkap 21 orang terduga pelaku teroris jelang hari raya natal 2018 dan tahun baru 2019. Terduga tersebut ditangkap meskipun belum menemukan indikasi serangan teror pada kedua perayaan tersebut. Penangkapan tersebut dilakukan selama sebulan terakhir, sejak bulan November 2018 hingga Desember 2018.

Satu bulan ini, bahkan 21 orang sudah kami tangkap dan proses hukum,” kata Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian di Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta Selatan pada Rabu (19/12). (cnnindonesia.com, 19/12/2018)

Fakta-fakta diatas dapat kita lihat, betapa ketatnya pemerintah menjaga dua perayaan tersebut. Dan begitu mudahnya pemerintah terus menerus menyudutkan isu terorisme ditengah masyarakat. Hal tersebut tentu secara tidak langsung pemerintah menyudutkan Islam dan umat Islam yang selama ini dianggap sebagai sumber pelaku teror.

Seakan-akan Islam adalah agama yang sesat dan suka menteror agama lain. Padahal, agama Islam adalah agama yang mulia, dan ajarannya membawa kedamaian. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta alam. Maka membunuh satu nyawa tanpa alasan yang haq dilarang dengan tegas dalam Surat Al Maidah ayat 32, yang artinya :
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”
Satu hal yang harus kita ketahui bersama. Perang melawan terorisme merupakan proyek barat untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Menakut-nakuti umat dengan alasan agama, dan berusaha menghadang kebangkitan umat.

Tentu seharusnya umat Islam tidak boleh terprovokasi dengan isu-isu dan propaganda soal terorisme yang mengatasnamakan Islam. Umat Islam harus jeli melihat kondisi umat yang terus dipojokkan.
Kenapa hanya Islam yang selalu dipojokkan? Kenapa hanya Islam yang dianggap membawa ajaran terorisme? Umat seharusnya berpikir mengenai hal itu. Tentu ajaran Islam bukanlah seperti yang diisukan oleh pemerintah dan kaum kafir barat.

Jika berpikir cemerlang, tentu akan kita dapati fakta bahwa ada pihak yang tidak suka umat Islam bersatu. Hal ini didasari ketika reuni 212 awal desember kemarin, dimana puluhan juta manusia mayoritas kaum muslimin bersatu meminta dan menuntut keadilan dari pemerintah untuk menghukum pelaku pembakaran bendera tauhid. Namun pada faktanya, pemerintah justru tidak suka dengan aksi tersebut. Buktinya, pada reuni 212 kemarin tidak ada media yang memberitakan aksi reuni 212 kecuali TvOne.

Jelaslah sudah, pemerintah negeri ini tidak ingin umat Islam bangkit dan bersatu. Maka dari itu, umat Islam harus cerdas dalam menyaring isu apapun yang disajikan oleh pemerintah. Umat Islam harus segera menyadari apa yang terjadi pada negeri ini. Umat seharusnya juga menyadari bahwa isu khilafah anti NKRI dan memecah belah umat adalah tidak benar. Seluruh ajaran Islam akan membawa kedamaian dan keadilan ketika diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai buktinya kepemimpinan Islam pernah berjaya mengayomi dua per tiga dunia selama hampir 14 abad lamanya dengan begitu damai.

T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam, menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Dia menyatakan, “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman -selama kurang lebih dua abad setelah penaklukkan Yunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. Kaum Kalvinis Hungaria dan Transilvania, serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik; kaum protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki, dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam… kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.

Tak heran karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Islam tidak hanya untuk umat Islam, akan tetapi juga rahmat bagi umat beragama lainnya, bahkan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini.
Saatnya kita bersama-sama berjuang menerapkan Islam di muka bumi ini. Dan menerapkan Islam secara keseluruhan di negeri ini. Campakkan sistem demokrasi yang justru tidak membawa kedamaian dan keadilan hingga saat ini. Dan hanya Islamlah agama yang sempurna, yang ajarannya meliputi seluruh aspek dan bidang. Yang membawa keadilan dan kedamaian ketika diterapkan.
Wallahu A’lam.[MO/sr]

Posting Komentar