oleh : Sitti Sarni, S.P 
(Founder Komunitas Pejuang Islam) 

Mediaoposisi.com-Berita kenaikan harga pangan di akhir tahun telah menghiasi media online. Perbincangan kenaikan harga pangan dari tahun ke tahun telah terulang. Seharusnya pemerintah mengantisipasi hal tersebut. Kenaikan harga pangan telah banyak diperbincangkan, seperti  yang dilansir Kontan.Co.Id. Tren kenaikan harga pangan di akhir tahun dinilai berpotensi terjadi di tahun 2018. Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyebut ada beberapa komponen yang menyebabkan kenaikan harga pangan di akhir tahun.

Komponen pertama adalah ancaman inflasi yang kemungkinan terjadi di akhir tahun. Menurut Eko Listianto selaku Wakil Direktur Indef menyebut, Inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price) dan inflasi bergejolak kerap menjadi pemicu lonjakan inflasi di Indonesia.

“Pemicu melonjaknya inflasi harga barang yang diatur pemerintah biasanya dipicu oleh kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Sementara inflasi barang bergejolak kerap kali terjadi ketika permintaan bahan pangan dan makanan mengalami lonjakan menghadapi lebaran, natal dan tahun baru,” kata Eko di Jakarta Selatan, Kamis (15/11).

Ketika rata-rata nilai tukar rupiah melonjak pada bulan Juli 2018 lalu Rp 14.414, inflasi turut melonjak hingga 0,41% yang merupakan angka tertinggi sepanjang Januari hingga Oktober 2018. Tahun 2018 beberapa komoditas yang dinilai menjadi pemicu inflasi adalah berasal dari volatile food.

Misalkan beras, daging ayam ras, telur ayam ras dan bumbu dapur yang diprediksi akan mendorong inflasi di akhir tahun. "Untuk beras, memiliki polemic tersendiri, untuk harga telur ayam dan daging ayam ras sejak Mei 2018 mengalami peningkatan dan puncaknya di bulan Juli 2018 karena supply telur dan daging yang kurang, sedangkan permintaan bertambah.

Untuk harga daging mengalami peningkatan, namun tidak signifikan," jelasnya.Memasuki November 2018, tren yang diadopsi dari tahun 2017 menunjukkan adanya kenaikan harga pangan hingga Januari awal tahun 2019. Oleh sebab itu, pemerintah diimbau melakukan antisipasi.Selanjutnya ada masalah impor yang sejauh ini terus dilakukan pemerintah. Hal ini dinilai tidak berkesudahan untuk menutupi kebutuhan dalam negeri. Padahal, komponen pangan tersebut mampu di berdayakan di tingkat petani dalam negeri.

Peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus juga membenarkan kecenderungan impor Indonesia ini. Menurutnya hal ini karena kurangnya perhatian pemerintah.

"Masalah pangan di Indonesia itu selalu diobati dengan impor. Impornya komoditas seperti buah-buahan atau bijih cokelat. Padahal kita juga punya keunggulan di sini. Ini karena pemerintah fokus pajale (padi, jagung kedelai), kalau pemerintah memperhatikan, ketergantungan impor akan berkurang," jelas Heri.

Saat ini ekspor Indonesia dinilai lebih rendah dibandingkan dengan impor. sejak 2007 neraca perdagangan hasil pertanian selalu mengalami defisit, bahkan permintaan valas turut mengguncang stabilitas rupiah.Selain itu, masalah data pangan seperti beras yang tidak akurat di pemerintahan menjadi polemic tersendiri yang menjadi masalah pemerintah menentukan kebijakan ke depannya. Oleh sebab itu Eko berharap pemerintah bisa bersinergi untuk memastikan data yang lebih valid.

Kapitalisme Akar Masalah 
Akar masalah  lingkaran setan dari sistem ekonomi  di negeri ini tidak lain dan tidak bukan adalah diterapkannya sistem kapitalisme - sekularisme. Ya, kapitalismelah sistem hidup yang membawa ekonomi di negeri ini masuk kedalam jurang kehancuran.Dengan slogan dari-oleh-untuk rakyat dan kembali rakyat . Slogan tersebut hanya sebatas slogan, alih-alih menyejaterahkan rakyat malah menyengsarakan rakyat.

Kebutuhan pangan adalah kebutuhan pokok, seharusnya negara menjamin kestabilan harga untuk rakyat. Kenaikan harga pangan dengan alasan akhir tahun secara berulang, seharusnya sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari. Hal ini membuktikan rezim gagal menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan dengan harga terjangkau. Hanya kita kembalikan ke ekonomi islam, rakyat akan sejaterah.

penyebab kenaikan harga pangan adanya  penerapan sistem ekonomi kapitalis yang berasas sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) dengan prinsip dasar free entrepreneur dimana prinsip ini mengurangi/meniadakan peran negara dalam pengelolaan sumberdaya dan pelayanan masyarakat, terjadinya kesenjangan pendapatan serta praktek-praktek ekonomi yang mengganggu stabilitas ekonomi (korupsi, suap, monopoli, penimbunan, dan sebagainya).

Permasalahan pangan ini tidak bisa dipandang sebagai permasalahan yang parsial dan Islam memberikan solusi komprehensif untuk menanggulanginya. Negara Khilafah sebagai institusi pengayom umat bertanggungjawab untuk melindungi kebutuhan dan kepentingan rakyatnya.

Bantu Azzam membangun media Por-Islam

Islam Solusinya
Ketahanan pangan dalam sistem Islam tidak terlepas dari sistem politik Islam. Politik ekonomi Islam yaitu jaminan pemenuhan semua kebutuhan primer (kebutuhan pokok bagi individu dan kebutuhan dasar bagi masyarakat) setiap orang individu per individu secara menyeluruh, berikut jaminan kemungkinan bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya, sesuai dengan kadar kesanggupannya sebagai individu yang hidup dalam masyarakat yang memiliki gaya hidup tertentu.

pada dasarnya pangan merupakan komoditas penting yang menjadi hak manusia. Dan negara wajib menjamin ketahanan pangan.Terpenuhinya kebutuhan pokok akan pangan bagi tiap individu ini akan menentukan ketahanan pangan sebuah negara. Selain itu, ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan yang dibutuhkan oleh rakyat besar pengaruhnya terhadap kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusia. Hal itu berpengaruh pada kemampuan, kekuatan dan stabilitas negara itu sendiri. 

Juga mempengaruhi tingkat kemajuan, daya saing dan kemampuan negara untuk memimpin dunia. Lebih dari itu, negara harus memiliki kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok dan pangan utama dari dalam negeri.  Sebab jika pangan pokok dan pangan utama berkaitan dengan hidup rakyat banyak tergantung pada negara lain melalui impor hal itu bisa membuat nasib negara tergadai pada negara lain. 

Ketergantungan pada impor bisa membuka jalan pengaruh asing terhadap politik, kestabilan dan sikap negara.  Ketergantungan pada impor juga berpengaruh pada stabilitas ekonomi dan moneter, bahkan bisa menjadi pemicu krisis.  Akibatnya stabilitas dan ketahanan negara bahkan eksistensi negara sebagai negara yang independen, secara keseluruhan bisa menjadi taruhan.

ketahanan pangan dalam Islam mencakup: (1) Jaminan pemenuhan kebutuhan pokok pangan oleh Khilafah; (2) Ketersediaan pangan dan keterjangkauan pangan oleh individu masyarakat; dan (3) Kemandirian Pangan Negara.

Islam merupakan agama yang tidak hanya mengurusi permasalahan ibadah mahdho saja. Tetapi Islam begitu sempurna, dalam masalah ekonomi seperti ketahanan pangan pun Islam punya solusinya. Ketahanan pangan dalam islam, memandang pemenuhan kebutuhan pokok dengan ketersediaan dan keterjangkauan pangan oleh tatanan individu masyarakat.

Serta ditambah dengan kemandirian negara. Islam mewujudkan ketahanan pangan, dari tatanan individu, masyarakat dan negara. Ketiganya itu mempunyai peran yang saling berkaitan.[MO/ge]

Posting Komentar