Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-  Sampai hari ini sejak dibentuknya densus 88 anti teror, negeri ini tidak pernah terbebas dari teror. Bahkan, setiap akhir tahun selalu saja ada 'reuni teroris',  seolah teroris terus ada dan dipelihara. Yang dituju gereja dan umat agama selain Islam. Dan tentu saja, teroris selalu dilekatkan kepada Islam.

Menjelang akhir tahun, Natal dan tahun baru, akan muncul kehebohan. Minimal ada aksi penyergapan, dan publikasi secara lebai penjagaan gereja. Sesekali, akan ada 'letupan letupan' untuk memastikan isu terorisme dapat lestari.


Anda boleh periksa, tidak perlu membongkar arsip atau kliping koran lama. Cukup Googling saja sebentar, arsip digital akan mengantarkan Anda pada aksi perburuan terorisme setiap akhir tahun. Layaknya reuni, terorisme juga punya jadwal tetap untuk di sambut dan di gegap gempitakan.

Framing jahat isu terorisme terhadap Islam juga sangat mudah diendus, setidaknya dapat dilihat dari beberapa aspek.

Pertama, isu terorisme selalu dikaitkan dengan motif keagamaan yang khas menjadi bagian dari ajaran Islam. Terorisme dilatarbelakangi jihad, pendirian Daulah Islam, khilafah, dan motif agama yang lekat dengan Islam.
Kejahatan terorisme sesadis apapun, meskipun membunuh nyawa dan merusak fasilitas publik, menebar teror dan ancaman, namun jika motifnya ingin membentuk negara baru yang bukan Islam seperti yang dilakukan OPM, memisahkan diri dari NKRI, menuntut kemerdekaan, tidak akan pernah disebut teroris. Predikat yang dilekatkan hanya KKB, naik pangkat menjadi KKSB.

Kedua, Framing jahat melalui proses pembuktian yang dikaitkan dengan Islam. Barang bukti berupa bendera tauhid, kitab Al Qur'an, kitab Jihad, menjadi sarana untuk mengkondisikan opini publik bahwa untuk identifikasi pelaku teroris dapat di indera melalui property yang dimiliki. Sederhananya, teroris itu yang suka bawa Quran dan bercita-cita ingin Syahid di jalan Allah SWT.
Padahal, apa hubungannya bukti dimaksud dengan perbuatan ? Jika terduga kedapatan memiliki UUD 45, apakah UUD itu juga diungkapkan menjadi batang bukti ? Atau memiliki ijazah perguruan tinggi negeri, apakah ijazah itu akan di shoot kamera berulang ulang ?

Ketiga, pengungkapan ciri ciri fisik dan kebiasaan teroris yang dilekatkan dengan Islam. Berjenggot, celana cingkrang, jika wanita berjilbab, rajin ibadah, bahkan ada yang ditangkap sedang menjalankan ibadah sholat tarawih di bulan ramadhan.
Jika teroris itu pemabuk, suka judi, main wanita, serong, atau suka ngutit duit rakyat seperti yang ada di Senayan, pastilah perilaku ini disembunyikan. Tapi jika teroris poligami, fakta ini akan disiarkan berulang ulang.

Keempat, pengungkapan riwayat hidup teroris yang juga dilekatkan dengan Islam. Santri pondok, pernah ke Mesir, aktif dalam kegiatan dakwah dan keagamaan, dan seabrek kegiatan yang terkait dengan Islam.
Coba, berani mengungkap teroris aktivis OSIS ? Ketua BEK fakultas PTN, atau alumni PTN ? Coba kasus korupsi, berani sebut pelaku alumni UI ? Alumni UGM ? Alumni unair ? Meskipun tidak menutup fakta, ada alumni PTN yang menjadi koruptor.

Kelima, jika terbukti aksi gagah gagahan yang menggunakan kekerasan bahkan bom pelakunya bukan Islam buru-buru diklarifikasi itu hanya kriminal biasa, bukan terorisme. Bom alam sutera, adalah contoh paling kontras ketika status kafir pelaku menggugurkan predikat teroris.
Jadi umat Islam harus mengambil posisi untuk memerangi pendengki Islam. Tidak ada terorisme, yang ada proses pengkondisian psikososial melalui isu terorisme.

Bukti paling sederhana, sejak isu terorisme bergulir sampai saat ini tidak pernah ada matinya. Jika memang ada, tidak mungkin negara dengan segala kekuatan dan kelengkapan persenjataan, kalah dengan teroris yang cuma modal bom panci, modal kebab, modal habatus saudah, modal jinten hitam.

Karena itu, jangan ikut merayakan reuni teroris. Itu cuma proposal pihak yang jahat terhadap umat Islam, itu bisnis darah, menganggap enteng nyawa manusia. Jika Anda ikut reuni, berarti Anda telah ikut andil membunuh jiwa yang telah Allah SWT haramkan. Didunia Anda akan dihantui korban, didoakan buruk oleh keluarga korban, menghadapi kesempitan hidup dan nestapa. Diakherat, Anda akan ada di neraka, kekal. [MO/sr]

Posting Komentar