Oleh: Ana Ummu Al Fatih 
(Aktivis Islam, Gresik) 

Mediaoposisi.com-Sebuah perhelatan akbar bersejarah baru saja usai. Hawa panasnya masih terasa, apalagi jika bukan Reuni Akbar Mujahid 212. Reuni Akbar ini dihadiri jutaan umat manusia, mereka hadir dan berkumpul di Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat, pada Ahad (2/12/2018). Peserta reuni datang dari berbagai penjuru tanah air.

Ibarat magnet, Reuni akbar 212 berhasil menyatukan jutaan manusia. Menurut Ketua Panitia Reuni Akbar Mujahid 212 pesertanya mencapai 8-10 juta. Ustadz Benard Abdul Jabbar mendapatkan info itu dari salah satu media yang menggunakan drone. (tribunjateng/03/12). Sebuah angka yang fantastis, belum pernah ada perhelatan akbar sebesar reuni 212 ini. Siapapun keheranan kekuatan apakah yang membuat para peserta ini datang, meski banyak rintangan yang menghadang.

Tentu tidak ada kekuatan apapun yang mampu melakukannya, meski kekuatan uang sekalipun. Jutaan umat manusia mulai dari yang tua renta, dewasa, pemuda, remaja, anak - anak, laki-laki, perempuan, Muslim, non - muslim, rakyat biasa hingga pemangku kuasa, pengusaha, bahkan selebriti tanah air, yang bertato yang berkulit hitam, yang berkulit putih, yang dari jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga penyandang disabel digerakkan, disatukan dan dihimpun dalam acara 212.

Pengerak hati itu tidak lain adalah Allah SWT, lantas siapa lagi. Berangkat dengan biaya sendiri, ada yang harus berjalan kaki , bersepeda kayuh. Bahkan yang mengharukan, ada seorang nenek yang sudah tua beliau mengaku sengaja menabung demi ikut reuni akbar 212. MasyaAllah.

Dibalik moment persatuan umat sebangsa dan setanah air itu, ada hal yang sangat membanggakan. Non muslim ikut diundang, mereka bahkan ikut bangga ditengah kibaran jutaan panji Rosulullah yang bertuliskan kalimat suci, "La Ilaha Illa-LLah Muhammad Rasulullah". Acara itu begitu khikmat, semua perbedaan menjadi satu, hanya ada persatuan dan persaudaraan.

Begitulah miniatur Islam, berlangsungnya acara Reuni 212 dengan aman, damai dan tertib itu mematahkan tudingan receh para pembenci islam. Tiada ulama besar yang hadir disana, AA Gym, Ust. Arifin Ilham, Habib Riezieq Syihab, Ustadz Abdul Somad namun peserta tetap tumpah ruah, damai. Mereka datang bukan karena ketokohan ulama tertentu. Mereka datang karena iman, datang karena hati yang tergerak untuk bersatu padu. Tiada lain penggerak hati ini adalah Allah SWT,lantas siapa yang mampu menandinginya.

Bantu Azzam membangun media Por-Islam

Kesuksesan acara reuni 212 juga menjadi bukti bahwa, sesungguhnya jati diri dan kepribadian seorang mukmin itu akan tercermin dimanapun, tanpa komando tanpa arahan. Aqidahnya menuntun mereka untuk memiliki integritas tinggi dimanapun itu. Mereka akan merasa diawasi Sang Maha Melihat, dimanapun mereka berada "muroqobatullah".

Inilah sejatinya pertunjukan akbar  jati diri umat Islam sebenarnya, yang mampu menepis label bahwa umat islam itu radikal, teroris. Antar umat beragama saling bertoleransi, dengan yang seaqidah saling berkasih sayang.

Inilah romantisme persatuan umat, saudara sebangsa dan setanah air yang paling dinanti. Semoga Allah SWT segera berkenan mempersatukan saudara seiman, sebangsa dan setanah air dengan syariat Islam yang mulia. Karena dengannya semua akan mulia dan terjaga tanpa pandang bulu.[MO/ge]

Posting Komentar