Oleh: Sitti Amina

Mediaoposisi.com-Reuni akbar 212 sukses digelar di kawasan Monas ahad lalu (2/12/2018) berlangsung dengan damai dan mengharukan. Peserta yang hadir dari seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak hingga orang tua,dari kalangan rakyat maupun penguasa, jumlah peserta reuni akbar 212 kemarin sangat mengejutkan banyak pihak peserta yang hadir sebanyak 13,4 juta jiwa.

Ayo Sukseskan Campaign Kibarkan 1 Juta Bendera Tauhid Di Bumi

Menurut KabaSumbar.Net (04/12/2018) dari data tersebut didapat informasi akurat jika jumlah peserta Reuni Akbar Mujahid 212 kemarin adalah sebanyak 13,4 Juta jiwa! Jadi bukan delapan juta, bukan sepuluh juta, tapi tigabelas juta empatratusan ribu peserta.

Reuni ini merupakan moment bersejarah bagi Indonesia dimanajutaan  umat berkumpul untuk menunujukkan pembelaan dan meninggikan kalimat tauhid. Peserta yang hadir menghitamputihkan langit Jakarta sambil mengibarkan bendera Islam Liwa’ dan Rayah serta mengikrarkan semangat yang sama untuk bersatu dalam naungan Laa ilaaha illallaah Muhammad Rasuulullaah.

Hal ini membuktikan bendera tauhid bukanlah sembarang simbol, ini merupakan cerminan dari kesatuan pikiran dan perasaan umat Islam yang merindukan persatuan di bawah bendera tauhid. Allahu Akbar!

Bantu Azzam membangun media Por-Islam

Liwa’ Rayah adalah Panji dan Bendera yang dibawa Rasulullah SAW
Hal ini berdasarkan hadits berikut; Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai di Sunan al-Kubra telah mengeluarkan dari Yunus bin Ubaid mawla Muhammad bin al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim mengutusku kepada al-Bara’ bin ‘Azib bertanya tentang rayah Rasulullah Saw seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib berkata:“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam persegi panjang terbuat dari Namirah.”

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa’ (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’.Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.”.

Terkait warna, hadis-hadis sahih menyebutkan bahwa warna rayah adalah hitam dan liwa’nya adalah putih.Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata: “Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir: “Bahwa Nabi Saw masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.” Ibn Abiy Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata: “Liwa Rasulullah Saw berwarna putih.”

Adapun hadis-hadis yang menyebutkan warna lain seperti kuning dan merah, memang ada, tetapi kualitasnya dha’if dan ada yang sifatnya sementara. Hadis riwayat Imam Abu Dawud, yang juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Ibnu Adi, menyebutkan bahwa rayah Nabi adalah kuning.

حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ حَدَّثَنَا سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ الشَّعِيرِىُّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ عَنْ آخَرَ مِنْهُمْ قَالَ رَأَيْتُ رَايَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَفْرَاءَ.
Menurut shahib al-Badr al-Munir, dalam isnad-nya majhul.
Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabarani dan Abu Nu’aim al-Ashbahani,

عن جدته مزيدة العصرية ، « أن رسول الله صلى الله عليه وسلم عقد رايات الأنصار وجعلهن صفراء »

Hadis ini dha’if karena ada rawi bernama Hudu bin Abdullah bin Sa’d yang dinyatakan tidak tsiqah oleh Ibnu Hibban dan nyaris tidak dikenal menurut al-Dzahabi.
Demikian juga hadis dalam riwayat Thabarani menyebutkan bahwa warna rayah Nabi adalah merah,

“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَدَ رَايَةً لِبَنِي سُلَيْمٍ حَمْرَاءَ”.

Hadis ini dha’if karena ada rawi yang tidak dikenal menurut al-Haitsami dan Ibnu Hajar.
Terakhir, hadis riwayat Imam Ibnu Hibban, Ahmad, dan Abu Ya’la yang juga menyebutkan rayah berwarna merah dan statusnya sahih, kasusnya sementara di awal-awal urusan ini ketika di masa jahiliyah juga awalnya menggunakan rayah warna hitam,

وكان أمام هوازن رجل ضخم ، على جمل أحمر ، في يده راية سوداء ، إذا أدرك طعن بها ، وإذا فاته شيء بين يديه ، دفعها من خلفه ، فرصد له علي بن أبي طالب رضوان الله عليه ، ورجل من الأنصار كلاهما يريده

Apakah fungsinya hanya untuk perang?Memang awalnya begitu, rayah adalah panji-panji perang, dan liwa’ simbol kepemimpinan umum. Hal ini bertolak dari fakta bahwa liwa` dan rayah itu selalu dibawa oleh komandan perang di jaman Rasulullah dan para Khulafa` Rasyidin. Misalnya pada saat Perang Khaibar.

Demikian juga, rayah dan liwa’ sebagai pemersatu umat Islam. Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia (sirr) tertentu yang ada di balik suatu bendera, yaitu jika suatu kaum berhimpun di bawah satu bendera, artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut (ijtima’i kalimatihim) dan juga tanda persatuan hati mereka (ittihadi quluubihim).

Bendera Tauhid Pemersatu Umat
Reuni akbar 212 merupakan moment ukhuwah umat Islam dengan bangkitnya ghirah persatuan umat dan ini menjadi spirit baru bagi umat Islam untuk mengembalikan kewibawaan dan kekuatan al-liwa’ dan Ar-Royah sebagai bendera dan panji yang pernah dibawa Rasulullah SAW sebagai pemersatu umat Islam di dunia.

Kebangkitan umat Islam tidak dapat dibendung oleh siapapun jika Allah telah menghendaki, semua umat Islam saat ini telah  bangga dengan kalimat tauhid dan langkah kafir untuk menghalangi hanya sia-sia belaka karena persatuan umat di bawah bendera tauhid sudah dirindukan dan diinginkan oleh semua lapisan masyarakat. 

Persatuan dan kebangkitan umat Islam saat ini menjadikan musuh-musuh Islam gentar dan ketakutan, maka bangkitnya ghirah persatuan umat hari ini harus dibuktikan dengan perjuangan untuk mengembalikan tegaknya Khilafah Islamiyah. Karena hanya dengan persatuan umat di bawah naungan Khilafah persatuan kaum muslimin menjadi kekuatan besar dan menjadikan kalimat tauhid simbol keagungan negara. [MO/ge]

Posting Komentar