Oleh: Yuyun Rumiwati
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Mediaoposisi.com- Reuni 212 2018 telah terlaksana dengan mempesona. Bertaburan hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Persaudaraan, ketertiban, kadamaian, pengorbanan dan lainya.

Jutaan orang yang berkumpul menjadi pesona indah Indonesia di mata dunia. Kuantitas yang telah membuktikan kualitas yang tidak akan terlupakan, " begitu pengamat politik Rocky Gerung menyampaikan dalam TV One 4 Desember 2018.

Kualitas ditunjukkan mulai dari kesadaran intelektual yang melatarbelalakangi peserta datang. Bukan karena imingan materi pun bayaran. Bahkan, mereka rela memberikan apa pun yang mereka punya tanpa harapan imbalan.

Kesatuan pemikiran dan perasaan sebagai umat yang butuh keadilan menepiskan segala perbedaan kepentingan. Kecintaan terhadap kalimat tauhid meleburkan segala perbedaan dan egoisme kelompok maupun kesukuan.

Persatuan untuk berubah menuju negeri baldatun thayyibatun wa robbun ghofur itulah impian umat. Bukan skedar negeri yang bisa membangun insfrastruktur, begitu kurang lebih yang disampaikan salah satu pembicara di reuni 212.

Kesadaran dan semangat untuk berubah dengan landasan akidah mulai muncul di tengah umat. Diperkuat dengan pembelaan dan kebanggaan  kalimat tauhid sebagai bendera rasulullah pun telah kembali ke umat.

Sebuah pemandangan yang serasa mustahil terjadi di saat umat duji dan dikotak-kotak dengan istilah radikal, intoleran, oleh pihak-pihak yang tidak menghendaki persatuan.

Intelektual yang terwujut dalam bentuk karakter yang mengagumkan. Telah menjadi penghapus islamophobia yang selama ini dipropagandakan ke tengah umat. Wajah ramah dan saling tolong menolong tanpa memandang suku, ras, ormas bahkan agama bukan lagi teori tapi bukti yang nyata dalam acara tersebut.

Berangkat dari kesamaan rasa, pikir yang didasari ide dan kesadaran untuk berubah menuju keadilan menjadikan bukti dan keyakinan tersendiri bahwa ide bisa menghasilkan perubahan.

Fenomena 212 juga menjadi moment pengokoh perjuangan umat tidak sekedar perubahan pada rezim tapi juga sistem. Jika selama ini umat bersatu berkumpul karena ketidakpuasan terhadap rezim yang kurang adil. Maka suatu saat umat pun akan sadar dan faham bahwa muara ketidakadilan ini karena ketidaktepatan sistem kapitalis yang bercokol.

Sistem kapitalis demokrasi yang memberi peluang bagi pihak yang berkuasa untuk menghalalkan segala cara demi mempertahankan kekuasaannya.

Pembelaan terhadap kalimat tauhid pada suatu saat akan mengantarkan pada komitmen umat untuk melakukan konsekuensi kalimat tauhid. Menjadikan Allah satu-satunya sebagai Allahu ahad Allahu shamad. Allah satu-satu sang pencipta dan pengatur.

Kesadaran akan konsekuensi kalimat tauhid butuh terus dirawat dan dijaga serta diperjuangkan. Hingga mengkristal menjadi satu kerinduan dan tuntunan untuk berhukum hanya pada aturan Allah SWT. Dan kesiapan untuk mencampakkan hukum buatan manusia yang telah banyak membawa kesengsaraan dan ketidakadilan bagi umat.

Dan bukan hal yang mustahil dengan kesadaran iman dan intelektual ini, umat akan memberikan loyalitasnya kepada kepemimpinan Islam sebagaimana yang diwariskan rasulullah yaitu sistem Khilafah 'ala min hajji nubuwah.

Oleh karena itu pencerdasan kepada umat bahwa sistem ideal (khilafah) sebagai ajaran Islam butuh terus diberikan. Kesadaran terhadapnya, akan mengantarkan loyalitas dan pembelaan umat sebagaimana pembelasn terhadap bendera tauhid yang selama ini dikrminalisasi sebagai bendera Isis dan tetoris. Dengan penggambaran dalil yang jelas akhirnya umat pun yakin bahwa itu bendera kaum muslimin.

Kesadaran umat tehadap metode perubahan jalan umat yang dicontohkan rasulullah, sekaligus akan mematahkan propaganda negatif bahwa perubahan sistem itu menakutkan dan berdarah-darah sebagaimana ide sosialis komunis.[MO/sr]

Posting Komentar