Oleh: Octha Dhika Rizky 
(Aliansi Penulis Perempuan untuk Generasi)

Mediaoposisi.com-Tak terasa 2 tahun berlalu dan momentum persatuan umat telah di depan mata "2 Desember". Ya, aksi 212 ialah sebuah peristiwa bersejarah sepanjang perjalanan Indonesia. Kisah yang mengetuk pintu jiwa bahwa persatuan umat bukan lagi utopis. Diliput dari Hidayatullah.com (8/12/2016), Indonesia khususnya umat Islam mencatat sejarah baru pada Jum’at, 2 Desember 2016.

Untuk pertama kalinya, umat Islam melaksanakan shalat Jum’at terbesar yang dilaksanakan di Tugu Monumen Nasional (Monas) dengan shaf yang tertib.

Kini, aksi ini kembali mengenang 2 tahun perjalanannya lewat tajuk "Reuni Akbar Mujahid 212" yang in syaa Allah akan berlangsung pada Minggu, 2 Desember 2018. Dilansir dari Tribunnews.com (28/11/2018), pada tahun ini rencana pelaksanaan acara 212 memasuki tahun ketiga. Ini merupakan reuni kedua setelah Persaudaraan Alumni (PA) 212 menggelar acara serupa tahun 2017 lalu.

Akar Penyebab di Balik Aksi 212
Kita tentu tidak asing lagi dengan sebuah fenomena yang menjadi pemicu utama aksi 212. Sebuah penistaan yang dilakukan oleh salah seorang oknum pemerintah bernama Basuki Tjahaja Purnama (alias Ahok). Sang Mantan Gubernur DKI Jakarta ini telah menistakan ayat Al-Qur'an (Q.S. Al-Maidah: 51) sehingga menuai kemarahan kaum muslimin. Kemarahan ini terwujud melalui aksi bela Islam hingga beberapa jilid dan yang terbesar adalah aksi 212 dikomandoi Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab.

Namun, tak banyak yang tahu mengenai fenomena lain di balik aksi ini, pemicu yang turut menjadi alasan utama mengapa Ahok terdorong untuk menistakan Al-Qur'an. Sesungguhnya tak lama sebelum penistaan ini terjadi, telah berlangsung juga sebuah aksi yang mengangkat tema "Haram Pemimpin Kafir", sebuah aksi yang diprakarsai oleh salah satu ormas Islam yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sekitar 20 ribu massa HTI dan warga Jakarta mengikuti aksi Tolak Pemimpin Kafir, Ahad (4/9/2016) di Patung Kuda, Monas, Jakarta. (Voa.Islam.com, 4/9/2016)

Melalui aksi ini umat dan para ulama turut menyuarakan bahwa tak pantas bagi umat Islam dipimpin oleh seorang pemimpin yang kafir, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 51 tersebut. Menanggapi aksi ini, maka Ahok terusik dan terpiculah untuk menistakan Al-Qur'an lewat pernyataannya yang fenomenal di Kabupaten Kepulauan Seribu pada Selasa (27/9/2016), "Jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah: 51".

Sontak, umat Islam sangat marah mendengar kalimat penistaan ini dan mulailah terjadi beberapa aksi yang menuntut agar Ahok dihukum atas kesalahannya. Akhirnya, aksi berbagai jilid ini berujung pada vonis yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara atas Ahok pada Selasa (9/5/2017), berupa 2 tahun kurungan penjara.

Pasca aksi dan vonis jatuh, muncul kembali fenomena baru yang jika kita cermati sangat erat kaitannya dengan kasus Ahok. Ada dua fenomena yang cukup menyita perhatian publik:
1) Kriminalisasi ulama, dalam hal ini kriminalisasi terhadap Imam Besar FPI, Habib Rizieq.

 Beberapa kasus mulai menyeret namanya pasca keberhasilannya dalam memimpin aksi 212. Salah satu kasus yang cukup membuat heboh adalah kasus chat mesum pada akhir Januari 2017.
2) Pembubaran ormas, korban utamanya adalah HTI, ormas Islam yang dicabut status badan hukumnya secara sepihak lewat Perppu Ormas pada 19 Juli 2017. Ini terjadi pasca HTI menjadi pelopor aksi Tolak Pemimpin Kafir yang membuat Ahok marah.

Inilah sebagian rentetan peristiwa seputar aksi 212. Lantas, apa yang menjadi akar penyebab dari semua fenomena ini? Penyebabnya tak lain adalah sistem kufur yang saat ini mencengkeram umat, yakni sistem demokrasi.

Demokrasilah yang memberi ruang bagi pemimpin kafir untuk memimpin umat Islam, demokrasi pula yang mempermainkan hukum hingga umat harus turun berkali-kali ke jalan untuk menuntut keadilan. Demokrasi juga yang membiarkan kriminalisasi ulama dan ormas terjadi, sebagai balasan atas vonis yang jatuh kepada junjungan mereka.

Reuni 212, Saatnya Umat Bersatu
Tak lama lagi atas izin Allah, Reuni 212 yang kedua akan kembali berlangsung. Harapannya, ini bukan hanya sekedar reuni atas nama euforia belaka. Namun, ada esensi luar biasa yang perlu kita petik, yaitu persatuan umat.

Sudah saatnya umat Islam bersatu, karena hanya dengan persatuanlah umat ini akan memiliki kekuatan untuk menangkal serangan kaum kafir penjajah. Sudah saatnya umat ini bangkit, kembali menjadi negara adidaya layaknya kejayaan Islam yang dulu menaungi 2/3 wilayah dunia selama lebih kurang 13 abad lamanya.

Sayang, persatuan dan kebangkitan takkan terwujud tanpa adanya kesadaran dari umat Islam itu sendiri. Kesadaran bahwa mereka adalah hamba yang harusnya tunduk pada Sang Pencipta, Allah SWT. Sementara ketundukan totalitas takkan terwujud tanpa penerapan aturan Allah secara sempurna, melalui sebuah institusi penerap Islam kaffah yaitu Khilafah Islamiyah.

Peran Intelektual dalam Kebangkitan Umat
Intelektual khususnya mahasiswa adalah manusia yang diberi kelebihan berupa potensi yang besar. Mereka adalah makhluk yang kritis, cerdas, serta memiliki andil dalam pencetus perubahan. Mereka adalah sang agen perubahan (The Agent of Change).

Sekarang, momentum persatuan dan kebangkitan umat semakin dekat. Saatnya para intelektual muslim mengambil peran besar dalam proyek luar biasa ini. Dakwah sudah seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri para intelektual muslim.

Sebab, mereka bukan sembarang intelektual, bukan pula mahasiswa biasa-biasa saja. Tapi, mereka adalah intelektual yang istimewa dengan Islam, merekalah mahasiswa yang menjadikan Allah satu-satunya tumpuan hidupnya, mereka adalah para generasi terbaik umat yang akan mengangkat umat dari keterpurukan menuju kebangkitan yang hakiki, yaitu kebangkitan Islam.

Wahai para intelektual, ambillah peranmu. Jadilah pemeran yang luar biasa, karena yang luar biasa adalah mereka yang berjuang. Bukan yang hanya menonton, atau hanya sekedar menunggu.[MO/ge]

Posting Komentar