Oleh: Anisa, Alumni UI

Mediaoposisi.com-Jutaan orang hadir pada acara reuni 212 menjadi momentum bersejarah sekaligus menjadi syiar bahwasannya umat Islam di Indonesia khususnya masih memiliki ghirah yang kuat untuk membela agamanya.

Donasi Save Muslim Uighur

Jika sebelumnya bendera bertuliskan lafazh tauhid sering diidentikkan dengan bendera ormas HTI. Namun, umat kini sudah cerdas.

Mereka dengan lantangnya menyuarakan bahwa bendera tersebut bukanlah milik HTI, tetapi milik umat Islam. Mereka dengan bangga mengangkat tinggi rayah dan liwa. Peristiwa pembakaran bendera tauhid memberikan suatu hikmah yang besar, yaitu bagaimana kini simbol pemersatu umat sudah hadir di tengah-tengah umat dan menjadi bagian dari umat bukan hanya milik sekelompok orang atau organisasi tertentu.

Sebagai umat Islam sudah selayaknya kita mengambil ibrah bahwasannya peristiwa reuni 212 bukan-lah sekedar euforia sebuah perayaan tahunan belaka. Apalagi sekedar mengaitkan peristiwa ini dengan momentum politik di Indonesia, yaitu pemilu tahun 2019.

Kita layak memiliki sudut pandang berbeda yaitu bagaimana kita mampu melihat peristiwa ini menjadi sebuah momentum persatuan umat menuju kebangkitan Islam. Lalu bagaimana upaya menuju kepada persatuan dan kebangkitan hakiki tersebut?

Bendera Tauhid Simbol Pemersatu Umat
Bendera Rasulullah SAW, baik Al-Liwa (bendera putih) maupun Ar-Rayah (bendera hitam) pada hakikatnya bukanlah sekedar simbol bendera saja.

Namun, terdapat makna mendalam dari lafadz tauhid di dalamnya yang tidak lain adalah pondasi dari ajaran Islam itu sendiri, yaitu akidah Islam. Kalimat “Laa ilaha Ilallah Muhammadur Rasulullah” adalah kalimat yang akan membedakan keislaman dan kekufuran.

Dengan kalimat tersebut kita akan hidup dan mati. Dengan kalimat tersebut pula menunjukkan keimanan kita sebagai seorang Muslim beserta konsekuensi logisnya, yaitu terikat dengan hukum syara yang telah Allah tetapkan untuk kita.

Kalimat tauhid pada panji Rasulullah adalah simbol pemersatu umat yang akan mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat keanekaragaman bangsa, bahasa dan warna kulit.

Banyak hadits shahih atau minimal hasan yang menjelaskan seputar Al-Liwa dan Ar-Rayah ini. Di antaranya Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku akan memberikan Ar-Rayah ini kepada seseorang yang melalui kedua tangannya diraih kemenangan. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain dinyatakan, “Rayah Rasulullah SAW berwarna hitam dan Liwa-nya berwarna putih.” (HR. At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Ath-Thabarani dan Abu Yala).

Di dalam riwayat lain juga dinyatakan, “Rayah Rasulullah SAW berwarna hitam, persegi empat, terbuat dari kain wol Namirah.” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasai).

Lebih tegas dinyatakan dalam hadits lain, “Rayah Rasulullah SAW berwarna hitam dan Liwa-nya berwarna putih. Tertulis di situ Lâ ilâha Illalah Muhammad Rasulullah.” (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy SAW).

Semua hadits di atas shahih. Hadits-hadits tersebut dinyatakan di dalam banyak kitab hadits. Para ulama sudah membahas hal ini saat mereka menjelaskan hadits-hadits di atas dalam kitab syarh dan takhrîj-nya. Sebut saja seperti Kanz al-Ummal, Majma al-Zawâid, Fath al-Bâri, Tuhfah al-Ahwadzi, Umdah al-Qâri, Faydh al-Qâdir dan lainnya. Belum lagi dalam kitab sirah dan maghâzi yang di antaranya memiliki sanad kuat.

Hakikat Perubahan Hakiki
Perubahan hakiki adalah transformasi  yang mampu mengantarkan masyarakat menuju kebangkitan hakiki. 

Sebuah perubahan tidaklah disebut perubahan hakiki, jika perubahan itu tidak menjadikan masyarakat berubah menuju keadaan yang lebih baik dibandingkan keadaan sebelumnya.   Sedangkan faktor yang menentukan apakah suatu masyarakat mengalami kebangkitan atau tidak, adalah peradaban yang ditegakkan masyarakat tersebut.

Dr. Mohammad Al-Qashshas di dalam salah satu masterpiecenya, Kitab Usus al-Nahdlah al-Raasyidah (Pondasi Kebangkitan), menyatakan:

“Faktor yang menentukan bangkit dan mundurnya suatu masyarakat adalah peradaban yang dimiliki masyarakat tersebut.  Jika peradabannya tinggi, niscaya masyarakat di situ akan bangkit.  Jika peradabannya mundur, mereka tidak akan pernah mengetahui kebangkitan. 

Ketika kita membicarakan peradaban yang ada di tengah-tengah masyarakat, berarti kita sedang membicarakan jalan hidup (way of life), pola perilaku dan pola hubungan yang menjadikan sebuah masyarakat memiliki kekhasan”. Adapun peradaban, ia dibentuk oleh pemikiran tertentu yang kompleks dan majemuk. 

Pemikiran tersebut, ada kalanya berupa pemikiran yang rendah dan ada kalanya pemikiran tinggi yang memancarkan sistem kehidupan (ideologi). 

Hanya saja, sekadar mengalami transformasi menuju peradaban yang lebih tinggi, tidak serta merta perubahan tersebut disebut perubahan hakiki. Yang menentukan hakiki atau tidaknya sebuah perubahan adalah benar atau tidaknya peradaban yang ditegakkan. 

Jika peradaban yang ditegakkan di tengah-tengah masyarakat, benar (sahih), maka masyarakat tersebut dikatakan telah mengalami perubahan hakiki. Sebaliknya, jika peradabannya bathil, maka masyarakat tersebut tidak dikatakan mengalami kebangkitan hakiki.

Adapun faktor yang menentukan benar tidaknya sebuah peradaban adalah akidah (pemikiran mendasar) yang menyangga peradaban tersebut.  Jika akidahnya benar dan lurus, maka peradaban tersebut dikatakan peradaban sahih.

Jika akidahnya batil, peradaban tersebut dikatakan peradaban batil. Islam adalah satu-satunya ideologi yang mampu menciptakan perubahan yang hakiki tersebut, karena ideologi Islam sejalan dengan fitrah manusia, memuaskan akal. Dengan demikian, perubahan hakiki adalah transformasi menuju tegaknya peradaban Islam (al-hadlarah al-Islaamiyyah).

Argumentasi yang menyatakan bahwa bersatunya berbagai bangsa yang berbeda agama, ras, bahasa adalah sesuatu hal yang utopis sebenarnya sudah bisa terbantahkan oleh berbagai fakta bahkan di era sekarang. Misalnya saja saat ini ada 28 negara Eropa yang berbeda agama, ras, politik, dan bahasa berhasil bersatu membentuk masyarakat bersama.

Dan 19 di antaranya memiliki mata uang bersama, yaitu Euro.  Fakta lain yaitu di era tahun 90-an, tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur, dirobohkan oleh rakyat mereka sendiri, karena mereka ingin bersatu dalam satu negara. Dan akhirnya sekarang mereka bisa bersatu dalam satu negara Jerman. Jika di dunia ini boleh ada negara kapitalis, boleh ada negara sosialis/komunis, lalu apa salahnya jika umat Islam punya cita-cita bersatu dalam satu negara Islam?

Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam tentu tidak hanya memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi umat Islam saja. Namun, bagi seluruh umat manusia. Sejarah membuktikan bahwa selama kurang lebih 13 abad lamanya, sistem Khilafah mampu mengeluarkan manusia dari kegelapan dan keterpurukan menuju kepada cahaya Islam dan kejayaan.

Bahkan Barat yang notabene kini menjadi sebuah negara adidaya justru banyak berutang jasa dalam kemajuan peradaban kepada negara khilafah. Sebut saja Montgomery Watt dalam bukunya The Influence of Islam on Medieval Europe (1994) menyatakan, “Peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri, tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya”.

Peran Kelompok Dakwah dalam Upaya Menyongsong Kebangkitan Islam
Momentum reuni 212 yang menunjukkan kuatnya ghirah umat Islam di Indonesia seharusnya dijadi-kan bahan evaluasi bagi para pengemban dakwah untuk semakin gencar menjalankan setiap thariqah yang dilaksanakan Rasulullah SAW, begitu pun mengoptimalkan berbagai uslub agar opini persatuan dan kebangkitan Islam semakin mengkristal dalam benak umat.

Setiap harakah dakwah pada hakikatnya memiliki tugas besar untuk menyadarkan umat bahwasanya perubahan hakiki hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan Islam secara kaffah melalui penegak-kan Daulah Khilafah Islamiyah.  Umat perlu disadarkan bahwasanya kebangkitan yang hakiki tidak akan pernah muncul jika umat masih berada di bawah cengkeraman ideologi kapitalisme. Begitu pun umat tidak pernah akan bisa meraih kebangkitan jika menggantungkan kepada sistem demokrasi-sekuler buatan manusia.

Upaya untuk menegakkan kembali Khilafah tidak mungkin diwujudkan tanpa adanya dukungan umat.  Pasalnya, umat adalah pemilik sejati kekuasaan. Umat tidak akan mungkin memberikan dukungan, sebelum mereka menyadari kerusakan peradaban sekarang (kapitalisme), serta wajibnya menegakkan syariat Islam secara menyeluruh dalam koridor Khilafah Islamiyyah. 

Penyadaran dan pengorganisasian umat untuk penegakkan Khilafah Islamiyyah, tidak mungkin dilakukan seorang diri.  Di tengah-tengah umat harus ada gerakan Islam yang tidak pernah lelah mendidik, mengembalikan kesadaran, mengorganisir dan memimpin mereka untuk mendirikan Khilafah Islamiyyah.  Gerakan inilah yang akan mengorganisir, memimpin dan mengantarkan umat menuju perubahan hakiki.

Khatimah
Kebangkitan yang hakiki pada hakikatnya hanyalah bersumber dari mabda atau ideologi yang sahih, yaitu Islam.

Akidah Islam akan menjadi qaidah fikriyah (landasan berpikir) yang di atasnya akan dibangun pemikiran-pemikiran cabang tentang apapun, termasuk sistem aturan yang akan menjadi solusi permasalahan kehidupan.
Akidah ini pula yang akan menjadi qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) yang akan memimpin para pengembannya untuk berjalan ke arah yang diinginkan oleh akidah tersebut.

Upaya dakwah yang dilakukan untuk menyongsong kebangkitan Islam tentulah harus mengikuti thariqah yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW

(1) selalu memulai dakwah dengan pemurnian dan penguatan aqidah umat sehingga melahirkan ketundukan totalitas kepada syariat
(2) menguatkan pemahaman umat akan syariat sehingga memiliki gambaran yang utuh tentang syariat Islam berikut metode penerapan oleh negara

(3) membina kesadaran politik masyarakat agar mau diatur oleh syariat dalam seluruh urusannya dan (4) menguatkan pemahaman tentang dakwah sehingga umat mau berdakwah bersama untuk mewujudkan masyarakat dan sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah.[MO/ge]

Posting Komentar