Oleh : Nasrudin Joha
Mediaoposisi.com-Pemimpin itu merepresentasikan umatnya. Umat gembira, pemimpin bahagia. Umat menangis, pemimpin berduka. Tetapi, jika perasaan, suasana kebatinan, keadaan zahir, hingga posisi pemimpin tdk sejalan dengan umat, apakah dia layak disebut pemimpin ? Atau justru musuh umatnya ?

Kita perlu bertanya, apakah Jokowi bahagia saat umatnya gembira di agenda reuni 212. Apakah Jokowi bersedih, saat rakyat menangis memikirkan nasib ulamanya. Saat umat membela bendera tauhid, apakah Jokowi juga membelanya ?

Yang jelas, secara zahir dan terindera, saat umat bergembira di Monas, Jokowi malah bikin acara Busukan di Bogor. Saat umat merasakan kriminalisasi ulama, penindasan Islam, Jokowi justru bertanya ulama yg mana, anti Islamnya dimana.

Jadi jika ada kehendak umat yang berbeda dengan Jokowi, dimana umat menghendaki ganti Presiden sementara Jokowi masih terus membangun mimpi dua periode, sepertinya keduanya sudah tidak seiring sejalan. Karena kekuasaan mandatnya dari umat, pilihannya hanya satu : Jokowi selesai. Tidak mungkin, umat sang pemilik kekuasaan yang diminta selesai.

Reuni 212 yang membela kalimat tauhid, membela bendera tauhid sebagai simbol Islam adalah bukti berbedanya pilihan Jokowi dan umat. Jika Jokowi memilih yang lain, maka sah juga umat menentukan pilihan yang lain. Ini adalah hukum besi politik yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.

Tangguh Jokowi tinggal beberapa bulan, bukan untuk memperbaiki hubungan tetapi untuk segera meminta maaf sebelum akhirnya dikenang sebagai sejarah. Jangan sampai terpatri dalam sejarah umat, di negeri ini dahulu pernah dipimpin oleh seorang pemimpin yang represif dan anti Islam. Pemimpin yang memusuhi ulama, mengkriminalisasi simbol dan ajaran Islam, membubarkan ormas Islam, membiarkan penghinaan terhadap Islam merajalela.

Permohonan maaaf setidaknya akan membuat umat berfikir untuk tetap mempertimbangkan mencabut mandat tanpa merendahkan martabat. Tetapi ini sulit sekali terjadi. Rezim Jokowi telah mengambil jalan yang benar-benar berseberangan dengan umat.

Ya, bahkan bukan hanya Jokowi, semua Penjilat Jokowi juga melakukan hal yang sama. Menganggap remeh jutaan umat Islam yang berkumpul, padahal pilar legitimasi itu sudah dicabut secara de facto. Secara de jure, bulan April hanyalah seremoni pengukuhan pencabutan mandat. Secara hakekat, sejak lama Jokowi sudah tidak dianggap sebagai pemimpin umat.

Jokowi & Reuni 212, telah mengambil jalan yang berbeda. Jokowi telah mengambil jalan yang menyimpangi aspirasi umat. Pendukung Jokowi tidak sadar, nyinyiran tidak menambah jumlah suara, justru menguatkan agitasi perlawanan untuk mencabut mandat Jokowi.

Reuni 212 adalah arus umat, yang menginginkan kalimat tauhid sebagai acuan perjuangan. Barisan putra terbaik umat, yang rela berkorban untuk meninggikan kalimat tauhid.

Penyatuan umat dan kedaulatan tauhid, diawali dengan penerimaan dan pembelaan umat atas eksistensi bendera tauhid. Selanjutnya, umat akan menuntut diterapkannya hukum tauhid, umat menuntut negara menerapkan nilai dan ajaran tauhid. [MO/ge]

Posting Komentar