Oleh : Restu Febriani

Mediaoposisi.com- Ahad, 2 november 2018 merupakan momen bersejarah bagi ummat Islam. Momen yang paling ditunggu-tunggu. Momen dimana seluruh ummat Islam berkumpul, bersatu karena dorongan yang sama, kecintaan mereka terhadap Allah, Rasul, Islam, dan kalimat tauhid.
Momen yang sangat langka memang. Bahkan hal ini hanya terjadi di Indonesia. Dikabarkan 10-13 juta orang berkumpul di Monas menghadiri reuni 212 jilid 3. Hal yang tidak kalah mengharukan adalah dimana para peserta reuni memakai atribut tauhid.

Seperti yang dikabarkan oleh Pantauan Suara.com “di lokasi, Minggu (2/12/2018), pukul 5.30 WIB kawasan Monas sudah dipenuhi oleh massa reuni 212. Masing-masing membawa atribut bertuliskan kalimat tauhid bernuansa putih dan hitam. Mulai dari bendera tauhid, ikat kepala, hingga kaos yang mereka kenakan pun bertuliskan kalimat tauhid.”

Didalam Islam bendera/ panji tauhid dinamakan “al-liwa dan ar-rayah”.
Ar-Rayah dan Al-Liwa adalah salah satu dari sekian banyak variasi bendera dan panji dalam Islam. Cirinya adalah warna dasar putih dan hitam. Panji penanda pasukan Nabi Muhammad SAW dinamai Rayat Al-Uqab atau Panji Elang dan warnanya polos. Namun kemudian seluruh panji hitam dari pasukan islam juga dinamai Al-Uqab. (Dari Wikipedia Indonesia)

Al-Liwa dan Ar-Rayah merupakan nama untuk bendera dan panji Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Secara bahasa, keduanya berkonotasi Al-‘Alam (bendera). Secara syar’i, Al-Liwa (jamaknya : Al-Alwiyah) dinamakan pula Ar-Rayah Al-‘Azhimah (panji agung), dikenal sebagai bendera negara atau simbol kedudukan pemimpin, yang tidak dipegang kecuali oleh pemimpin tertinggi peperangan atau komandan brigade pasukan (amir Al-Jaisy) yakni Khalifah itu sendiri, atau orang yang menerima mandat dari Khalifah, sebagai simbol kedudukan komandan pasukan. Ia memiliki karakteristik berwarna putih, dengan khath berwarna hitam :

لا إله إلا الله محمد رسول الله
Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah” berjumlah satu.

Sedangkan Ar-Rayah (jamaknya : Ar-rayat), ia adalah panji (Al-‘Alam) berwarna hitam, dengan khath berwarna putih :
لا إله إلا الله محمد رسول الله
Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”, dinamakan pula Al-‘Uqab.

Ar-Rayah berukuran lebih kecil daripada Al-Liwa dan digunakan sebagai panji jihad para pemimpin detasemen pasukan (satuan-satuan pasukan (kata’ib), tersebar sesuai dengan jumlah pemimpin detasemen dalam pasukan, sehingga berjumlah lebih dari satu.

Dalil-Dalil Al-Liwa & Ar-Rayah
Banyak dalil-dalil sunnah dan atsar yang menjelaskan tentang Al-Liwa dan Ar-Rayah, diantaranya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu :
كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ
Bendera (Liwa) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna putih, dan panjinya (Rayah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, Al-Baghawi, At-Tirmidzi)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhu :
كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْه ِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.” (HR. Ath-Thabrani)

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu :
أَنَّ النبي -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لِوَاؤُهُ يَوْمَ دَخَلَ مَكَّةَ أَبْيَضَ
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam liwa’-nya pada hari penaklukkan Kota Mekkah berwarna putih.” (HR. Ibn Majah, Al-Hakim, Ibn Hibban)

Dari Yunus bin Ubaid maula Muhammad bin Al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin Al-Qasim mengutusku kepada Al-Bara’ bin ‘Azib, aku bertanya tentang rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib menjawab :
كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ
(Ar-Rayah) ia berwarna hitam, berbentuk persegi panjang terbuat dari kain wol.” (HR. At-Tirmidzi, Al-Baghawi, An-Nasa’i)

Dari Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :
كَانَتْ رَايَةُ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ تُسَمَّى الْعُقَابَ
Rayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam disebut Al-‘Uqab.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Berdasarkan hadits-hadits diatas, maka sudah sangat jelas bahwa al-liwa dan ar-rayah merupakan panji dan bendera warisan Rasulullah SAW. Bukan bendera organisasi tertentu.
Allah SWT firmankan:

ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ {٣٢}
Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan kalbu (QS al-Hajj [22]: 32).”

Inilah sikap yang lahir dari ketakwaan kepada Allah SWT. Syaikh an-Nawawi al-Bantani (w. 1316 H), saat menukil ayat ini, menjelaskan, di antara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar-syiar Din-Nya. Sifat takwa ini ditunjukkan oleh sikap para Sahabat, Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

Zaid mengambil ar-Râyah, lalu ia gugur. Kemudian Ja’far mengambil ar-Râyah itu, lalu ia gugur. Selanjutnya Ibn Rawahah mengambil ar-Râyah itu, lalu ia pun gugur.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Maka tugas kita semua mendakwahkan Al-Liwa’ dan ar-Rayah, mengembalikan kewibawan kaum muslimin melalui simbol panji Al Liwa’ dan Ar Raya. Wibawa dan kekuatan al Liwa dan ar Raya sebagai bendera dan panji pemersatu kaum muslimin ini akan terwujud ketika keduanya menjadi simbol keagungan dalam daulah khilafah islamiyah. Dakwahkan Khilafah.

Karena Al-Liwa dan Ar-Rayah dengan syariah dan khilafah itu tidak dapat dipisahkan, al Liwa dan ar Rayah dahulu menjadi simbol eksistensi khilafah dan persatuan umat. Umat Islam harus berusaha semaksimal mungkin untuk memperjuangkan tegaknya khilafah Islamiyah. Sehingga seluruh ajaran Islam bisa ditegakkan untuk mengatur kehidupan mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.[MO/sr]

Posting Komentar