Oleh: Sitti Sarni,S.P 
(Founder Komunitas Pejuang Islam)

Mediaoposisi.com- Acara reuni 212 kemarin tepatnya pada tanggal 2 Desember menjadi topik utama dimedia online. Aksi ini menjadi perbincangan nasional bahkan internasional. Aksi ini dihadiri banyak masa, bukan hanya anak muda, remaja anak kecil bahkan orang tua rentan pun datang untuk berkumpul dengan saudara-saudara muslim lainnya. Aksi ini dihadiri dengan jumlah masa yang sangat banyak seperti yang dilansir Eramuslim.com.

Jumlah Peserta Reuni Akbar Mujahid 212 kemarin memang sungguh mengagetkan banyak pihak. Jika ICW sempat menyebut cuma didatangi 20.000an peserta dan kepolisian cuma ratusan ribu peserta, bahkan Jubir PSI yang juga pentolan JIL Guntur Romli bilang jumlah peserta Reuni Akbar 212 masih kalah dari peserta tari poco-poco-nya Jokowi di Monas beberapa waktu lalu, maka ada data yang tak bisa dibantah yang didapatkan Iwan Piliang yang bersumber dari jumlah IMEI telepon genggam peserta Reuni Akbar Mujahid 212 yang didapat dari MSC atau pusat operatornya masing-masing.

Dari data tersebut didapat informasi akurat jika jumlah peserta Reuni Akbar Mujahid 212 kemarin adalah sebanyak 13,4 Juta jiwa ! Jadi bukan delapan juta, bukan sepuluh juta, tapi tigabelas juta empatratusan ribu peserta (Eramuslim, 3/13).

Campakkan Kapitalisme 
Inilah persatuan yang dirindukan semua umat manusia. Kehadiran jutaan umat Islam di Aksi 212 kemarin menjadi bukti bahwa umat memiliki satu pengikat dan satu visi yakni menegakkan kalimah tauhid. Persatuan dibawah kalimat tauhid yang menjadi bukti bahwa umat menginginkan satu aturan yaitu aturan islam.

Persatuan dalam kalimat tauhid merupakan persatuan yang menuju perubahan hakiki yang menginginkan penerapan hukum-hukum Allah swt dalam seluruh aspek kehidupan. Umat mulai sadar,  bahwa aturan yang diterapkan sekarang adalah aturan manusia, yang aturan itu bisa direvisi bila aturan itu bertolak belakang dengan para kapitalis. Umat ingin mencampakan sistem kapitalisme -sekulerisme demokrasi ini yang tidak mensejaterahkan umat manusia. Dengan hanya meninggalkan sistem kapitalisme-sekulerisme ini,  umat manusia akan sejaterah. Umat manusia akan sejaterah hanya dengan aturan allah swt.

Tauhid, Persatuan Umat
Aksi 212 yang dilakukan umat Islam di Jakarta mengingatkan kita bahwa persatuan kaum muslimin haruslah dibangun atas azas tauhid. Persatuan umat Islam bukanlah didasari atas kepentingan politik, tidak pula didasari atas manfaat duiawi, tidak pula berdasarkan batas wilayah bangsa aupun negara. Tapi persatuan Islam haruslah berdasarkan kalimat tauhid, kalimat lailahaillallah, yang menjadi simbol keislaman dan simbol kepatuhan terhadap Zat Pencipta dan Pengatur alam semesta. Islam menjadikan tali Allah sebagai perekat utama dalam membangun persatuan.

Bukan tali kebangsaan. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersatu, maka jelas yang dikehendaki adalah persatuan atas ikatan yang hakiki. Ikatan yang tidak memandang perbedaan apapun selain iman dan taqwa. Karenanya, kita selalu diperintahkan untuk bersatu dengan memegang erat tali Allah, yaitu bersandar kepada prinsip kesatuan dalam memenangkan syariat Islam. Rasanya percuma jika ada slogan persatuan umat Islam bilamana bersatu kepada selain tali Allah alias bersandar kepada selain syariat Islam. Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali-Imran; 103)

Saat pertama kali tiba di kota Madinah, Rasulullah SAW langsung mempersatukan kaum muslimin dengan ikatan iman. Beliau berhasil mempersaudarakan, dua suku besar (suku Aus dan Khazraj) yang sebelumnya saling bermusuhan dalam waktu yang cukup lama. Ikatan persudaraan yang terbangun di antara mereka diabadikan oleh Allah salam firman-Nya:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“…Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;..” (QS. Ali-Imran: 103)

Dengan ikatan iman, Rasulullah saw berhasil mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin layaknya saudara kandung sendiri. Mereka berbeda suku dan bangsa tapi mereka saling mencintai satu sama lain. Kaum Anshar sebagai pribumi di kota Madinah rela berkorban demi mengutamakan (itsar) terhadap kaum muhajirin yang datang dari Makkah. Sungguh persaudaraan yang sulit dicari badingannya hingga sekarang. Allah ta’ala berfirman:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Demikianlah bentuk ikatan persaudaraan yang diharapkan dalam Islam. Persaudaraan yang dibangun atas dasar iman. Tidak ada hal yang membeda-bedakan selain ketaqwaan semata. Walaupun kabilahnya berbeda, bahasanya tak sama, warna kulit beragam rupa, tapi mereka bersaudara dalam ikatan Islam, “Semua orang mukmin adalah bersaudara,” Rasulullah mempersatukan hati mereka dengan ikatan iman tanpa memandang perbedaan apapun juga.

Sungguh sebuah ikatan yang tidak mampu ditandingi oleh ikatan apapun juga yang direkayasa oleh manusia hingga hari ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri adalah sosok teladan dalam hal ini. Beliau sangat mencintai tempat kelahirannya, Makkah. Bahkan ketika diperintahkan untuk berhijrah dan terpaksa harus meninggal Makkah, beliau bersabda:

 “Wahai Makkah, tidak ada negeri yang lebih baik dan lebih kucintai dari pada engkau. Andai kaumku tidak mengusirku darimu, aku tidak akan pernah tinggal di negeri lain.” (HR. At Tirmidzi).

Iya, beliau mencintai Makkah. Namun ketika potensi dakwahnya redup dan ajaran Islam tidak bisa berkembang, maka beliau memilih untuk meninggalkan Makkah. Beliau hijrah ke Madinah dan di sanalah beliau berhasil membangun dakwah. Kecintaan beliau pun terhadap kota Makkah diruntuhkan demi Islam.

Walaupun bukan tempat kelahirannya, namun beliau selalu berusaha untuk mencintai Madinah. Demikianlah hakikat cinta terhadap tanah kelahiran. Cintanya tidak boleh melampaui kecintaan kepada Sang Pencipta. Sebab prinsip seorang muslim, keridhaan Allah adalah di atas segala-galanya. Sementara dunia tidak lain hanyalah perantara semata.

Jauhnya tempat tinggal dengan tanah kelahiran bukan sebuah masalah, Tapi yang menjadi masalah adalah ketika hidup tidak bisa meraih kecintaan dari Sang Kuasa. Persatuan yang hakiki, persatuan  yang hanya berlandaskan tauhid bukan yang lain. Waallahu A'lam [MO/sr]


Posting Komentar