Oleh: Siti Aisyah

Mediaoposisi.com-Hadirnya jutaan umat dengan membawa bendera tauhid (Liwa dan Rayah) dalam reuni akbar aksi 212 merupakan tamparan keras kepada pemerintah yang tak mau mengakui yang dibakar Banser itu bendera tauhid! Reuni  akbar tersebut  membuktikan umat paham yang dibakar itu bendera tauhid dan rezim gagal menjaga agama dari penistaan!

Sebelumnya, usai perayaan Hari Santri Nasional di Lapangan Alun-Alun Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut pada Senin, 22 Oktober lalu, telah terjadi aksi pembakaran bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid. Video  yang berdurasi 02.05 menit yang diterima CNNIndonesia.com  viral di laman Youtube. Pembakaran  dilakukan oleh  anggota Banser  dengan dalih bendera tersebut diduga adalah bendera HTI. Anehnya dalih konyol tersebut langsung diamini pihak kepolisian dan juga Menkopolhukam Wiranto.

Ayo Sukseskan Campaign Kibarkan 1 Juta Bendera Tauhid Di Bumi

Fitnah Keji
Aksi pembakaran bendera tauhid yang bertuliskan 'Laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah' yakni Rayah (bendera  berwarna hitam) oleh anggota Banser telah menjelma menjadi polemik dan sorotan masyarakat luas. Pihak Banser sendiri  berdalih  motif pembakaran bendera tersebut sebagai simbol bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang sudah dibubarkan pemerintah. Namun, dipihak yang lain tidak terima begitu saja. Karena jelas sekali bendera tersebut adalah bendera Rasulullah SAW.

Menurut Sekretaris Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Barat, Johan Jouhar Anwari, kepada CNNIndonesia.com mengungkapkan bahwa  pembakaran itu tidak mungkin terjadi bila tidak ada sebabnya. Ansor itu NU, Banser itu NU, lahir di NU tidak mungkin membakar kalimat tauhid. Pembakaran itu dipicu oleh ulah seseorang yang membawa bendera HTI.

Begitu juga menurut Ketua GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, selaku pimpinan Bantuan Ansor Serbaguna (Banser), menyampaikan benda yang dibakar anggotanya adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pembakaran juga dilakukan untuk menghormati kalimat tauhid yang tertera pada lembaran kain hitam tersebut. Yaqut mengatakan tindakan itu sama dengan ketika menemukan mushaf Al-Qur’an tercecer yakni dibakar untuk menjaga kehormatannya daripada ditemukan di tempat yang tidak semestinya.


Begitu pula Guntur Romli  dalam cuitan di akun twitternya mengatakan bahwa Liwa dan Rayah  adalah bendera kelompok dakwah tertentu yang mencatut kalimah syahadat.

Maka, dalam menilai sebuah peristiwa, haruslah objektif karena menyangkut  perkara yang sensitif yakni terkait prinsip mendasar bagi umat Islam. Sudah selayaknya, pemerintah harus betul-betul menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Sebagai seorang Muslim yang masih memiliki semangat yang tinggi dalam beragama  pastinya akan marah dan kecewa ketika kalimah tauhid yang mulia dan suci dibakar dengan alasan apapun. Karena kalimah tauhid merupakan ruh dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, sangat disayangkan, tetap saja masih ada Muslim malah justru melontarkan berbagai tuduhan terhadap bendera tauhid.

Cara-cara busuk dan licik terus dimainkan untuk mengkriminalisasi bendera tauhid yang mulai dicintai umat terus dilakukan agar umat takut dan menjauhi simbol-simbol agamanya. Bahkan Dubes RI  di Riyadh, Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, mengeluarkan rilis terkait Imam Besar Habib Rizieq Shihab  yang menurut sejumlah media online dikabarkan diperiksa kepolisian Arab Saudi. Agus Maftuh Abegebriel dalam poin keempat menulis, adanya pemasangan bendera hitam yang 'mengarah pada ciri gerakan ekstrimisme' pada dinding belakang rumah. (Rilis KBRI, 7 November 2018)

Begitu juga, tindakan menghubungkan bendera tauhid dengan gerakan ekstrimis seperti ISIS, Al Qaeda jelas merupakan fitnah keji yang terus digulirkan. Padahal sudah jelas banyak hadits yang berbicara tentang bendera tersebut. Bahkan jika dikaji di dalam kitab-kitab para ulama hadis, Sirah dan Al-Maghazi maka akan mudah dijumpai bahwa bendera dalam Islam adalah perkara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Liwa dan Rayah Bendera Rasul
Namun, apa yang mereka katakan sebagai dalih bahwa  bendera yang dibakar itu adalah bendera HTI bukan bendera tauhid  tidak  lantas menjadikan sebagian kaum Muslim menerimananya. Karena  jelas sekali yang dibakar itu adalah bendera  Rasulullah SAW yang bertuliskan 'Laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah' yakni Rayah. 

Juru bicara HTI Ismail Yusanto tidak sepakat dengan pernyataan Yaqut soal pembakaran bendera tersebut. Menurutnya, benda yang dibakar jelas  adalah panji Rayah, bukan bendera organisasinya yang telah dinyatakan terlarang oleh pemerintah.  Dia mengatakan itu adalah bendera Rayah yang digunakan Nabi Muhammad SAW. “Bahkan Kemendagri sudah mengklarifikasi bahwa itu bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia," kata Ismail.

Soal panji Rasullulah tersebut, Ismail merujuk pada hadits yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi. Menurutnya, di sana disebutkan bahwa Rayah berwarna hitam dan Liwa berwarna putih. Pengetahuan tentang Rayah didapatkan dari Hadis riwayat Tirmidzi yang mengutip Al-Barra bin Azib, sementara Liwa mengutip Hadis riwayat Tirmidzi yang diriwayatkan Ibnu Abbas.

Bantu Azzam membangun media Por-Islam

Pada 2 Desember 2017 lalu, dalam wawancaranya,  Ismail menyatakan alasan masa HTI kerap membawa Liwa dan Rayah adalah sebagai simbol. “Karena memang bagian dari usaha organisasi untuk mengenalkan persatuan semua Islam di seluruh dunia,” ujarnya.

Sebenarnya terdapat banyak hadits shahih atau minimal hasan yang menyebutkan bahwa Rayah berwarna hitam dan Liwa berwarna putih, seperti yang diungkapkan  oleh Jubir HTI Ismail Yusanto. Namun masih banyak lagi hadits yang lainnya, antara lain: Terkait warna bendera Rasulullah, hadits yang paling masyhur dan sering disebut adalah  hadits yang diriwayatkan sahabat Jabir dan Ibnu Abbas. “Dari Ibnu Abbas berkata bahwa Rayah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan Liwa nya berwarna putih” (HR Tirmidzi).

Dalam redaksi yang lain juga disebutkan dan diriwayatkan An-Nasa’i. “Dari Jabir Radhiallahu ‘anhu bahwasannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Kota Makkah dan Liwa’nya berwarna putih.” (HR Tirmidzi).

Hadits shahih lainnya juga diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Al-Harits bin Hasan dan lainnya. Meskipun redaksinya agak berbeda, kesimpulan yang dapat diambil adalah warna Liwa berwarna putih dan Rayah berwarna hitam.

Ada hadits lainnya yang menyebutkan bahwa Rayah Nabi itu berwarna kuning. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Baihaqi dan Ibnu Adi. Dari Uqbah bin Mukram berkata kepada kami Mukram, berkata pada kami Salm Ibn Qutaibah Asy-Syairi dari Syu’bah dari Simak dari sahabat yang tidak diketahui namanya, ia berkata, “Aku melihat bahwasanya bendera Nabi SAW berwarna kuning.” (HR. Abu Daud).

Namun, dalam sanad hadits ini ada perawi yang majhul (tidak dikenal oleh ulama hadits)  sebagaimana tertulis dalam Al-Badru Al-Munir karya Ibnu Al-Mulaqin.
Syaikh Abdullah bin Muhammad bi Sa’ad Al-Hujaili dalam Al-Alamu Nabawiy as-Syarif wa Tatbiqatihi al-Qadimatu wa al-Ma‘ashiratu menyebutkan bahwa seseorang yang melihat Rayah Nabi setelah peperangan akan menyatakan berwarna kuning karena panji tersebut telah berdebu.

Ada hadits dhaif juga yang menyebutkan bahwa Rayah Nabi berwarna merah. Hadits ini riwayat Thabrani didhaifkan oleh Al-Haitsami dan Ibnu Hajar karena ada rawi yang tidak dikenal.

“Bahwasannya Nabi Shallahu alaihi wa sallam menetapkan untuk Rayah Bani Salim berwarna merah.” (HR. Thabrani dalam kitabnya Al-Mu’jamul Kabir No. 425)

Dari uraian di atas, jelas sekali, ini bukti bahwa bendera Liwa dan Rayah adalah bendera Rasulullah SAW bukan bendera dari ormas tertentu yang selayaknya kita sebagai kaum Muslimin harus bangga mengibarkannya karena dengan Liwa dan Rayah sebagai simbol pemersatu umat di bawah naungan pemerintahan Islam. [MO/ge]

Posting Komentar