Oleh : Nurdila Farha

Mediaoposisi.com-Terharu, Bangga, Sekaligus takjub, Tentu diliputi rasa syukur luar biasa kepada Allah SWT. menyaksikan Al-liwa’ dan ar-Rayah berkibar dengan gagah pada Acara “Reuni 212” Aksi Bela Tauhid. Bendera Rasululllah SAW. itu diusung dengan penuh semangat dan kebanggaan oleh jutaan umat Islam berkumpul di Monas dan sekitarnya, Ahad, 2 Desember 2018 lalu.

Ayo Sukseskan Campaign Kibarkan 1 Juta Bendera Tauhid Di Bumi

Mereka berasal dari berbagai latar belakang suku, bahasa, organisasi, kelompok dan mazhab. Mereka bukan hanya berasal dari Jakarta, namun dari berbagai kota dan daerah. Ada juga yang berasal dari luar Jawa. Bahkan ada yang sengaja datang dari luar negeri seperti Malaysia, Australia, dan beberapa negeri lain. Aksi besar dan super damai itu pun diliput oleh berbagai media di luar negeri.

Sebelumnya mungkin tak terbayangkan, Al-Liwa’ dan ar-Rayah, yang di negeri ini senantiasa dengan konsisten diusung dan disosialisasikan oleh HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dalam berbagai aksinya, bisa dikibarkan oleh jutaan umat islam sebagaimana saat ini.

Bantu Azzam membangun media Por-Islam

Menyaksikan jutaan Al-Liwa’ dan ar-Rayah berkibar seolah membenarkan satu jargon : “Satu Dibakar, Jutaan Berkibar!” Ya, aksi pengibaran jutaan Al-Liwa’ dan ar-Rayah di kawasan Monas pekan lalu tidak lain merupakan reaksi langsung terhadap aksi pembakaran Bendera Tauhid itu oleh oknum Banser di Garut beberapa waktu lalu.

Aksi besar tersebut sekaligus membuktikan bahwa berbagai upaya dari rezim dan para pendukungnya untuk mengalihkan isu dengan terus mempropagandakan bahwa yang dibakar adalah Bendera HTI, bukan Bendera Tauhid, gagal total. Umat kini tak lagi bisa dibohongi. Mereka sekarang tak lagi mudah ditipu. Mereka sudah cerdas. Mereka sudah mulai sadar. Mereka kini paham bahwa Al-Liwa’ dan ar-Rayah adalah milik mereka.

Bukan semata-mata milik Hizbut Tahrir. Ya, Al-Liwa’ dan ar-Rayah adalah bendera Tauhid. Bendera milik umat Islam. Tauhid itu sendiri adalah inti semua risalah yang dibawa oleh para nabi dan para rasul ke alam dunia. Alhasil, tauhid adalah inti agama Islam. Tauhid sekaligus merupakan misi utama Islam. 

Misi Islam ini mengandung makna bahwa manusia hanya layak menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT. Sebaliknya, mereka haram menyembah dan mempertuhankan sesama manusia. Ketaatan hanya kepada Allah SWT tentu menafikan pihak lain untuk ditaati. Tauhid pun meniscayakan bahwa pembuat hukum yag wajib ditaati hanyalah Allah SWT dialah sebaik-baik pembuat aturan bagi manusia.

Ketaatan pada hukum Allah adalah refleksi tauhid seorang Muslim. Ia tidak akan menjadikan syariah Islam sebagai perkara yang boleh dipilih sesuka hati. Ia memahami bahwa memilih hanya syariah Islam adalah kewajiban. Ia pun akan menjauhkan diri dari sikap sombong dan meremehkan hukum-hukum Allah SWT.

Akhirul kalam, tentu spirit atau semangat bela tauhid harus terus dirawat. Agar selalu tumbuh dan terus berkembang di tengah-tengah umat. Tak hanya muncul saat simbol-simbol Islam dihinakan. Tak hanya hadir saat syiar-syiar Islam direndahkan. Tak hanya mengemuka saat al-Quran dan kalimat tauhid dinistakan.

Namun, yang jauh lebih penting adalah saat hukum –hukum Allah SWT atau syariah Islam dicampakkan, sebagaimana yang terjadi saat ini. karena itu, spirit bela tauhid ini harus mewujud dalam visi sekaligus misi hidup seluruh umat islam. Mari kita siapkan Aksi Bela Tauhid selanjutnya: mendorong dan menuntut penguasa untuk segera menerapkan syariah Islam secara kaffah.[MO/ge]

Posting Komentar