Oleh: Ammylia Rostikasari, S.S. 
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-Partai Solidaritas Indonesia (PSI) lagi-lagi membuat sensasi. Habis menyatakan sikap tak akan melirik Perda Syariah, kemudian Calegnya (baca: Guntur Romli) yang melecehkan jamaah 212 dengan sebutan kaum Monaslimin yang ibadahnya dilakukan setahun sekali di Monas, kini giliran bahasan poligami yang disudutkannya.

Save Uighur

Menghadapi tahun Pemilu, partai peserta dalam pesta demokrasi saling kompetisi dalam unjuk gigi. Tak terkecuali dengan PSI ini. Tingkahnya juga Calegnya  kerap kali memercik amarah masyarakat khususnya kaum Muslim. Betapa tidak, pernyataan-pernyataan mulut besarnya sering menyenggol syariah.

Hidup dalam iklim demokrasi bagai panggung selebriti, berkompetisi dengan berbagai macam siasat walau dengan amunisi sensasi tanpa menampilkan prestasi. Karena tujuan mereka yang pertama kali diraih adalah eksistensi di tengah masyarakat. Dikenal dulu kemudian populer, tak hirau dengan pandangan positif atau bahkan sebaliknya.

Atas nama inovasi dan pembaharuan Indonesia pun dilakukan, meski dengan menyudutkan nilai-nilai keislaman. Seperti ungkapan Bul ‘ala zam-zam fatu’rof. Sebenarnya itu adalah pepatah Arab, yang memiliki makna kencingi sumur zam-zam maka kamu akan terkenal. Menurut maknanya adalah seseorang yang ingin terkenal, tetapi menempuh cara yang tidak wajar alias nyeleneh.

Sensasi yang dibuahkan PSI tentulah menuai kontroversi, apalagi seringkali menyudutkan ajaran Islam dan Kaum Muslim. Mulut besarnya bagai menantang Sang Pembuat Hukum yaitu Allah Subhanahu wata’ala. Teranyar, penolakan terhadap poligami pun dicetuskan. Mereka berjanji akan berjuang untuk membuat peraturan larangan poligami di negeri ini.

Sejatinya Allah mensyariatkan poligami sebagai bagian dari ajaran Islam. Adanya sebagai kebolehan bukan kewajiban. Bagi yang berkemampuan silakan menjalani, bagi yang tidak bukan berarti seenak-nya mencela dan mendiskreditkan. Bahkan Allah memfirmankan siapa saja yang merendahkan ajaran Islam, termasuk poligami dengan ancaman yang akan menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam.

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan Allah sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka” (QS Muhammad:9).
Oleh sebab itu, PSI yang sebenarnya lebih pantas dengan kepanjangan Partai Sensasi Indonesia berhentilah dari segala promosi sensasi yang menantang ajaran Ilahi. Walhasil, bukan simpati masyarakat yang didapati justru buncah emosi, terutama dari Kaum Muslim.

Sejatinya keberadaan partai adalah sebuah keniscayaan dalam menciptakan perubahan dalam arah kebaikan. Namun, partai yang dibutuhkan bukanlah macam PSI.

Partai atau gerakan yang semestinya ada dalam mewujudkan perubahan Indonesia yang lebih baik adalah partai yang menyuguhkan prestasi. Aksinya penuh dengan edukasi yang mencerdaskan umat. Landasannya merujuk kepada Kalam Ilahi dan hadist nabi. Sistem yang diperjuangkannya bukanlah demokrasi.

Namun, sistem pemerintahan Islam yang mumpuni dalam menciptakan kesejahteraan hakiki. Sebuah sistem yang telah nyata menjadi adidaya selama 13 abad lebih lamanya. Adanya membentang bermula dari Madinah lalu melintas negara juga benua.

Rasulullah saw. sebagai pelopornya dan para khalifah sebagai penerusnya. Inilah yang semestinya layak diperjuangkan umat, menerapkan syariat Islam kaffah dalam institusi Daulah Khilafah Islamiyah. Sehingga umat senantiasa disuguhi edukasi bukan sensasi.[MO/ge]

Posting Komentar