Oleh: Eriga Agustiningsasi, S.KM



Mediaoposisi.com-Harapan kemajuan bangsa kini digantungkan pada revolusi industri 4.0. Hal tersebut senada dengan harapan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Beliau memiliki harapan pada roadmap revolusi industri 4.0 bisa menjadikan ekonomi Indonesia menjadi 10 terbesar di dunia pada 2030. Sedangkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sudah mengemukakan keyakinannya bahwa Indonesia berpeluang besar menjadi pemain kunci di Asia dalam implementasi Industri 4.0. Ada dua potensi nyata yang melandasi keyakinan itu, yakni pasar yang besar dan ketrampilan. Dua potensi ini mampu mendukung pengembangan era digital (detik.com).

Kenyataan yang ada tak seindah dengan harapan yang ada di kepala. Jangankan menjadi pemain kunci di Asia, untuk benar-benar sampai menjadi produk nasional yang membanggakan dan menjadi tuan di negeri sendiri, hasil karya akademis itu harus bersinergi dengan dunia pengusaha dan dunia penguasa.

Prof. Fahmi Amhar, Professor for Spatial Information System di Badan Informasi Geospasial,  dalam tulisannya berjudul Pribadi Triple Helix, beliau mengatakan bahwa Dr. Kusmayanto Kadiman, mantan rektor ITB yang pernah menjadi Menristek, yang mempopulerkan istilah “triple helix” untuk menggambarkan konstruksi ideal sinergi antara kalangan akademisi (yang memproduksi riset dan SDM dalam bidang sains & teknologi), kalangan bisnis (yang menggunakan hasil riset dan SDM tersebut), dan kalangan government / pemerintah (yang membuat regulasi agar semua berjalan lancar, sinergis, konstruktif dan bermartabat).


Ternyata gambaran konstruksi ideal ‘Tripel helix’ ini berkiblat pada bagaimana pandangan Barat. Triple helix ini mencapai titik optimal kalau ketiganya melebur pada satu orang.  Prof Fahmi Amhar menggambarkan pribadi triple helix ala barat, diantaranya Thomas Alva Edison, sang penemu lebih dari 1000 paten terkait penggunaan listrik, ternyata juga seorang pebisnis ulung (pendiri General Electric), dan terkenal penawarannya dengan penguasa birokrasi di AS saat itu.  Penemu lain di masanya, tapi kurang memiliki kemampuan triple helix ini – misal Nikola Tesla – cenderung kurang memiliki dampak seperti Edison.  Hal yang sama juga terjadi pada Henry Ford, Seichiro Honda, Steve Jobs dan Bill Gates. 

Wajar jika kepintaran akan tergeser dengan kuatnya kebijakan/birokrasi dan ekonomi bisnis. Semua potensi peserta didik diarahkan ke bisnis dengan dukungan birokrasi. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang dicanangkan kapitalisme kepada negeri berkembang khususnya negeri kaum muslimin, yakni mencetak pekerja terdidik, bukan mencetak seorang ahli, baik sains teknologi maupun agama.

Kemajuan yang dialami umat muslim dalam peradaban Islam, tidak terlepas dari bagaimana paradigma Islam tentang ilmu dan fungsi negara. Hal tersebut dituliskan oleh Rini Syafri dalam tulisannya yang berjudul Penelaah dan Peneliti Kebijakan Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi. Beliau mengatakan bahwa ilmu bukan komoditas dan faktor produksi, akan tetapi jiwa kehidupan. 
Ditegaskan Rasulullah saw melalui lisannya yang mulia, ”Perumpamaan  petunjuk dan ilmu yang Allah swt mengutusku karenanya seperti air hujan yang menyirami bumi,”
(Terjemahan hadist riwayat Imam Bukhari dari Abu Musa dari Rasulullah saw);

Disamping itu, hal yang paling penting adalah hadirnya negara sebagai raain (pelayan) dan junnah (pelindung) dengan menerapkan Islam secara kaffah. Hasilnya? Lahir banyak ilmuan muslim yang berkontribusi sangat besar pada perubahan dunia, baik segi sains, teknologi maupun manusianya dalam peradaban yang mulia. Bahkan muslim dinobatkan sebagai peletak dasar ilmu yang hai ini dikembangkan Barat menjadi ilmu yang melahirkan kecanggihan teknologi yang kita pakai sehari-hari, dunia digital, era millienial, seperti Al Khawarizmi (penemu angka 0) maupun Ibnu Sina (bapak kedokteran).

Contoh lain, generasi Triple Helix versi Islam yakni Muhammad al-Fatih adalah pemimpin pembebasan Konstantinopel tetapi ternyata beliau juga seorang teknokrat ulung yang memahami dengan detil berbagai sains teknologi peperangan (beliau merancang konstruksi super-gun, dan juga memberikan metode memindahkan kapal melewati perbukitan) dan seorang eksekutif yang sangat paham hukum syariah.  Triple helix nya adalah juga 3S (Politik, SainsDan Syariah).

Ibnu Batutah adalah seorang penjelajah  yang berkelana lebih dari 75000 km. Beliau ditunjuk sebagai hakim, dan kemudian menuliskan seluruh pengalamannya secara sistematik dalam beberapa buku yang menjadi rujukan ilmiah geografi, politik, antropologi selama berabad-abad.  Triple Helix Ibnu Batutah adalah “3S” juga: Spatialist (traveller) – Syariah – Sains. Bayangkan, travelling nya menghasilkan sebuah karya hebat, berguna bagi umat.

Jika diperhatikan,Triple Helix ala Islam pasti ada Syariah di dalamnya, menandakan bahwa Syariah Islam menjadi dasar para ahli hebat, multitalented dalam segala aktivitas perbuatannya termasuk dalam ilmu dan penemuannya. Muslim akan bangkit dengan Islam kaffahnya. Nah, sekarang, bagaimana denganmu millenial?[MO/an]

Posting Komentar