Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Dalam kasus muslim Uighur, publik dapat mengindera dua hal pada diri Presiden karena sikap diamnya. Meskipun, persoalan kezaliman Pemerintah China terhadap muslim Uighur telah ramai diperbincangkan diseluruh penjuru dunia.

Pertama, Presiden kosong visi. Tak tahu narasi apa yang mau dibangun dan disampaikan, untuk mengaktualisasikan nilai konstitusi negara dalam kancah politik internasional. Padahal, ini kesempatan baik bagi bangsa ini untuk menunjukan jati diri kepada China secara eksplisit dan kepada dunia internasional secara implisit.

Kedua, tampak jelas Presiden tidak mampu menyerap aspirasi apalagi berempati. Pertama, menyerap aspirasi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini memprotes kebijakan zalim China. Kedua, tak mampu berempati atas duka dan kesedihan muslim Uighur China.

Presiden yang lebih sibuk selvie ukur jalan, makan dan sholat di rest area, seolah tidak ada apa-apa disekelilingnya kemungkinan menunjukan tiga hal :

Pertama, sikap Presiden tahu akan kondisi tapi acuh pada keadaan.

Kedua, sikap Presiden tahu akan kondisi tapi mau lari atau mengalihkan kenyataan.

Ketiga, Presiden tak tahu apapun, tak punya staf, tak punya medsos, sehinga tidak memungkinkan Presiden tahu kejadian yang menimpa muslim Uighur.

Namun, masih dalam analisis Nasrudin Joha, sikap Presiden yang diam ini juga bisa disebabkan :

Pertama, ketergantungan yang kompleks terhadap China sehinga negara ini tak mampu mendongakkan kepala keada China. Wong abdi kok mau marah sama majikan, mana bisa ?

Kedua, Presiden adalah 'representasi' kepanjangan tangan China. Sehinga, kebijakan China juga bisa ditafsirkan kebijakan Presiden.

Jika ditinjau dari sikap Presiden dan partai koalisi, maka diamnya Presiden bisa ditafsirkan :

Pertama, dalam konteks apapun sikap Presiden baik bicara atau diam, dikhawatirkan merontokkan elektabilitas. Mengambil pilihan diam, dianggap lebih rendah resikonya bagi tuan Presiden, minim Resiko politik dan tidak menghambat asupan gizi politik.

Kedua, apapun yang akan diambil Presiden baik diam atau berstatement akan menjadi makanan empuk kritik oposisi. Sehingga, pilihan plonga plongo jauh lebih selamat ketimbang bicara bodo.

Dan masih banyak analisis lainnya. Udah, jangan kebanyakan analisis. Lebih baik, persiapan segera untuk demo di kedubes China hari. Biarkan tuan Presiden asyik bercengkrama dengan jalan tol nya. [MO/ge]

Posting Komentar