Nurhidayat Syamsir 
(Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan UHO)

Mediaoposisi.com-Penghujung tahun 2018 sedang ramai masyarakat membicarakan dan mempersi-apkan diri menyambut pergantian tahun baru.

Disela ramainya perbincangan penyambutan tahun baru 2019 ini, ada perbincangan yang tak kalah menarik dari persiapan kemeriahan tahun baru yaitu fluktuasi harga pangan menjelang tahun baru. Berikut harga pangan yang diperkirakan meningkat dipenghujung tahun 2018 seperti telur dan cabai (CNNIndonesia, 18/12/2018).

Peristiwa ini menuai respon pihak masyarakat. Salah seorang Ibu rumah tangga, Ningsih berharap pemerintah dapat segera mengendalikan kenaikan harga telur dan kebutuhan pokok lain agar tidak melonjak (Jakarta, CNN Indonesia).

Menanggapi hal ini Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku jengkel ketika mendengar banyak Ibu rumah tangga yang berteriak harga pangan saat ini mahal.

Menurut Moeldoko, Ibu-ibu rumah tangga seharusnya bisa lebih mandiri untuk memenuhi kebutu-hannya. Misalnya menanam sayur-sayuran di rumah. “Kalau ada Ibu-ibu teriak harga mahal, jengkel saya. Mbok ya ambil 2-3 pohon (untuk ditanam di rumah)”, sahut dia dalam outlook Agribisnis 2019 di Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (13/12/2018).

Moeldoko jelas sangat bodoh dan tak peduli rakyat kecil, ambil 2-3 pohon untuk ditanam lalu mereka mau makan apa kalo sudah menanam? makan ndasmu? waktu untuk tanam dan memberikan hasil jelas butuh waktu, dan hasilnyapun apakah sesuai kebutuhan saat panen?

Cerminan bahwa saat moeldoko tengah berbicara sangat sombong dan merasa bahwa dirinya tak perlu pusing biaya makan karena sudah ditanggung negara.

Sistem Ekonomi Liberal, Makan Enak Jadi Susah
Kenaikan harga pangan seperti tidak ada hentinya, senantiasa berulang, “Makan enak jadi susah”. Hal ini tentunya meresahkan kalangan masyarakat dan membutuhkan penanganan yang serius dalam menghadapi fluktuasi pangan.

Seharusnya bahan pangan ini dapat dijangkau oleh setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Mahalnya harga bahan pangan beredar dikalangan masyarakat dengan alasan kenaikan harga disebabkan tingginya permintaan di akhir tahun sehingga ketersediaan pasokan bahan pangan menjadi terbatas.

Jika kenaikan harga pangan ini disebabkan oleh hal demikian, lalu kemana slogan  “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman” ditempatkan? Benarkah fluktuasi harga pangan murni sebagai siklus ekonomi semata?.

Setidaknya alasan umum yang diterima masyarakat mengenai hal ini disebabkan karena kelangkaan (Scarcity) bahan pangan dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, yang tidak terbatas dan terus-menerus.

Fluktuasi harga pangan ini tidak lepas dari dampak penerapan sistem ekonomi kapitalisme-liberalisme, yakni sistem yang erat kaitannya dengan persetujuan dan dukungan kepemilikan individu yang menghendaki aset dan modal lalu kemudian mengelolanya dengan dalih hak kepemilikan, termasuk juga kekeliruan dalam mendistribusikan bahan pangan di tengah-tengah masyarakat.

Alhasil, baik pengelolaan maupun pendistribusian bahan pangan pun menjadi problematika. Disatu sisi kelangkaan pangan ini selalu diatasi dengan melakukan impor bahan pangan demi memenuhi permintaan pasar.

Namun disisi lain, mengingat keberadaan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mumpuni seharusnya mampu mengatasi kelangkaan pangan, sehingga tidak harus melakukan impor ditengah kosongnya lahan yang tak termanfaatkan secara maksimal.

Pendistribusian bahan pangan ini terbilang tidak maksimal, pasalnya sering terjadi kekayaan yang terkadang menumpuk pada suatu keluarga atau elit kelas tertentu, sementara mayoritas rakyat mengalami kekurangan kekayaan (bahan pangan).

Jika kekayaan alam dimanfaatkan dan didistribusikan secara adil maka polemik fluktuasi pangan ini bisa teratasi.

Islam Menuntaskan Masalah Pangan
Sistem ekonomi Islam dibangun berdasarkan akidah islam, yakni meyakini bahwa Allah swt. pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan beserta hubungan semuanya itu dengan kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang (akhirat dan hisab).

Dengan keyakinan ini, seorang muslim menyadari keterikatan terhadap hukum Allah swt. sebab menyadari bahwa segala perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah (QS. Al-Hijr: 92-93; QS. Yunus: 61), termasuk dalam kebijakan mengelola ekonomi untuk kemaslahatan umat.

Dalam Islam, pengelolaan kekayaan alam (bahan pangan) ditempuh dengan perihal meningkatkan kegiatan yang lebih hebat dan melakukan perluasan lahan pertanian. Semua kebijakan menyangkut pertanian harus ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan. Produksi pangan sangat penting agar ketersediaan bahan pangan pokok dapat terpenuhi.

Pendistribusian bahan pangan ini, Islam akan mengendalikan harga sehingga tidak merugikan baik penjual maupun pembeli. Hal ini ditempuh dengan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan sehat dan baik.

Hal yang penting adalah penegakan hukum ekonomi dan transaksi khususnya terkait dengan prod-uksi, distribusi, perdagangan dan transaksi, juga melarang dan menghilangkan distorsi pasar seperti penimbunan, penaikan dan penurunan harga yang tidak wajar untuk merusak pasar,

meminimalkan informasi yang tidak seimbang dengan menyediakan dan meng-up-date informasi tentang pasar, stok bahan pangan, perkembangan harga dan sebagainya, serta pelaksanaan fungsi dalam memonitor transaksi di pasar.

Khalifah Umar ra. pada masa paceklik melanda Hijaz sehingga harga pangan melambung. Khalifah Umar tidak mematok harga, tetapi mendatangkan bahan dari Syam dan memerintahkan Amru bin al-‘Ash wali Mesir untuk mengirimkan bahan dari Mesir ke Hijaz.

Ini artinya ada pengontrolan terhadap permintaan dan penawaran yang mampu mengatur kelancaran produksi, juga dengan menyerap bahan pangan pada saat kelebihan permintaan (over supply) dengan cara membeli dan menyimpannya di gudang.

Sebaliknya, memasok bahan pangan ke pasar saat terjadi kelangkaan (under supply) dengan mengeluarkan bahan pangan ke pasar dari gudang atau mendatangkan bahan pangan dari daerah surplus.

Inilah Islam, memproteksi setiap sendi kehidupan agar berjalan sebagaimana mestinya, jika menemukan problematika maka Islam akan menuntaskannya sesuai syariat.[MO]

Posting Komentar