Oleh :Maya A 

Mediaoposisi.com-Umat Islam Indonesia baru saja usai merayakan hajatan besarnya, -reuni 212. Bertemakan "Dengan Tauhid Kita Menuju Kejayaan NKRI", Ustadz Bernard Abdul Jabbar selaku ketua panitia mengatakan bahwa reuni tersebut digelar sebagai rasa syukur untuk mengenang spirit perjuangan Aksi Bela Islam Desember  2016 lalu.

Romantisme dan kerinduan atas persatuan sebagaimana aksi sebelumnya, serta dorongan keras hasrat akan adanya perubahan, membawa umat berbondong-bondong datang dengan berbagai mode transportasi darat, laut bahkan udara. Tidak tanggung-tanggung, manusia dari berbagai daerah, kalangan dan profesi  tumpah ruah memadati kawasan Monas, Jakarta. Pemberitaannya pun masif hingga ke mancanegara (seperti Jepang, Malaysia), meski untuk ranah domestik sendiri begitu dirasa sepi.

Arena yang diapit Istana Presiden, Istana Wakil Presiden, Balai Kota DKI Jakarta, dan sejumlah kantor pemerintahan, Markas Kostrad TNI dan Markas Besar TNI AD menjadi saksi besarnya kekuatan rakyat.

Tak perlu menjadi perdebatan apakah basis massa tersebut berjumlah 8 juta, 10 juta atau bahkan hanya 40 ribu sebagaimana yang dikatakan polri. Toh, mereka yang dengki tetap tidak akan peduli dan tetap menganggap remeh aksi ini.

Namun, satu hal yang tidak bisa dipungkiri, bahwasanya persatuan umat dibawah panji tauhid bukan lagi sesuatu yang utopi/mustahil. Ketiadaan perisai yang menaungi umat, tidak lantas menjadikan mereka tercerai berai. Bahkan semakin membuktikan bahwasanya umat masih memiliki satu kesatuan dalam hal pemikiran, perasaan, serta visi yang hakiki, yakni menegakkan kalimat tauhid. Dimana dengan kalimat nan tinggi tersebut, segala perasaan ashobiyah/fanatisme golongan mampu disingkirkan.  Lebih dari itu, ikatan aqidah yang lahir dari kalimat tauhid ini bahkan mampu menghadirkan persatuan hakiki yang melibas perbedaan suku, ras bahkan batas negara.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam, tentu fakta bahwa eksistensi kaum muslim merupakan aset dan kekuatan bagi negeri ini. Tidak lagi seperti buih di lautan, kuantitas yang mengarah pada kualitas ini harusnya mampu menjadi potensi dalam mengawal perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan untuk mengulang gemilangnya peradaban sebagaimana dulu ketika hukum hukum Allah diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Kegemilangan peradaban berkat hijrahnya umat dari sistem jahiliah modern - sistem sekuler - sistem yang meniscayakan manusia berperan sebagaimana Tuhan dalam menetapkan hukum. Ujungnya, sudah pasti. Banyak sekali perjalanan hukum yang dirasa tidak adil, dzolim, dan cenderung condong pada kepentingan kelompok tertentu saja.

Dan jikalau boleh dirunut kembali, tuntutan ditegakkannya keadilan atas si penista agama itulah yang memprakarsai umat bersepakat untuk berkumpul, menunjukkan eksistensi diri bahwasanya Islam tidak bisa terus menerus disudutkan, distigmakan negatif, dan diremehkan.
Dan jikalau lah memang masih waras, momen mengagumkan semacam itu harusnya bisa menjadi kaca, sebagai bahan introspeksi bagi penguasa atas pengayoman nya selama ini kepada rakyat. Sudahkah mengayomi, atau justru menzalimi.

Bukan bertingkah sebaliknya, memandang persatuan ini sebagai ancaman sehingga menaruh curiga berlebihan yang tak berdasar.[MO/an]



Posting Komentar