Oleh : Dila Kamilah Amalia 
Mahasiswi Keperawatan 

Mediaoposisi.com-212 menjadi momen yang amat dinanti dan ditunggu oleh banyak umat islam, baik di dalam maupun di luar Negri. Jika di dalam negeri, mereka berlomba-lomba untuk datang ke Jakarta. Berbagai usaha mereka tempuh. Mereka datang dengan menggunakan berbagai alat transportasi.

Motor, mobil, bus, kereta, pesawat bahkan ada yang berjalan kaki. Itu semua diupayakan demi hadir di momen besar berkumpulnya umat Islam, yakni dalam rangka membela agama Allah. Lain lagi dengan umat islam di luar Negri, banyak dari mereka yang membuat video dukungan guna menyukseskan acara 212.

Meski acara tersebut telah berlalu, sampai hari ini masih banyak orang yang nampaknya masih belum bisa move on dari momen manis berkumpulnya jutaan umat Islam di monas minggu pagi itu. Euforia masyarakat terus berlanjut, baik di dunia Maya maupun di dunia nyata. 212 masih menjadi topik perbincangan hangat.

Hal yang paling menyita perhatian khalayak ialah kehadiran lebih dari 8 juta jiwa umat Islam di acara tersebut. Jumlah massa yang sangat besar, bahkan melebihi jumlah peserta aksi perdana 212 pada tahun 2016.

Sama halnya seperti di tahun 2016, acara 212 tahun ini pun dihadiri oleh massa dari berbagai elemen masyarakat, lembaga, dan ormas Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), Laskar Pembela Islam (LPI), dan lain sebagainya.

Ketua Panitia Acara Reuni 212, Ustadz Bernard Abdul Jabbar mengatakan, reuni tersebut digelar sebagai rasa syukur untuk mengenang spirit perjuangan Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016 lalu.

"Peristiwa fenomenal Aksi Bela Islam jilid I 2016 pada 2 Desember. Kita hadir kembali di tempat ini untuk laksanakan reuni. Pertemuan kembali sebagai rasa syukur bahwa pada hari ini diingatkan kembali akan spirit perjuangan 212 yang telah menggemparkan seluruh dunia," ujar Bernard di lokasi, Minggu 2/12.

Selain di padati oleh jutaaan manusia, lokasi acara pun dipenuhi dengan kibaran lebih dari satu juta bendera tauhid. Setiap orang bangga membawa dan mengenakan atribut bertuliskan kalimat tauhid. Ini cukup menjadi bukti bahwa umat Islam masih memiliki satu pengikat yang masih mengikat hingga saat ini, yaitu kalimat Laa Ilahailallah Muhammadur Rasulullah.

Tak lagi tersekat organisasi, kelompok maupun mazhab tertentu, sebab kalimat tauhid tersebut telah menyatukan mereka.

Kalimat tauhid juga menjadi pondasi awal yang kokoh. Yang akan di jadiikan visi, misi, arah dan tujuan ke mana umat ini kedepan nya. Dan visi utama ialah penegakan kalimat tersebut, menuju pada perubahan hakiki. Bukan hanya perubahan yang bersifat individual, melainkan dalam konteks bermasyarakat.

Persatuan Di bawah Kalimat Tauhid.

Kalimat tauhid, bukan hanya sebagai landasan akidah maupun sebuah komitmen, namun konsekuensi pasti hidup di bawah kalimat LaaIlaahaillallah Muhammadur Rasulullah. Yakni bermakna menerapan hukum-hukum Allah di segala aspek kehidupan. Baik dalam tatanan rumah tangga hingga tatanan bernegara.

Allah SWT berfirman:
يُوقِنُونَ لِّقَوْمٍ حُكْمًا اللّهِ مِنَ أَحْسَنُ وَمَنْ يَبْغُونَ الْجَاهِلِيَّةِ أَفَحُكْمَ

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 50)

8 juta umat yang hadir dalam reuni 212 bisa menjadi gambaran, inilah kondisi jika umat telah bersatu di bawah kalimat tauhid dengan pengharapan yang amat sangat. 8 juta umat Islam yang berkumpul di reuni 212 ini telah terikat, dan memiliki visi menegakan kalimat tauhid. Hal ini akan menjadi ujung tombak perubahan hakiki yakni perubahan untuk meninggalkan sistem Kapitalisme yang telah nyata kegagalannya, dan berjuang bersama demi diterapkannya hukum-hukum Allah dalam segala aspek kehidupan.[MO/an]

Posting Komentar