Oleh : Lia Sulastri
( Aktifis dakwah dan member akademi menulis kreatif )

Mediaoposisi.com-Pernikahan adalah suatu bentuk ibadah dimana seorang lelaki dan juga seorang perempuan melakukan akad yang bertujuan mendapatkan kehidupan sakinah ( tenang, damai ), mawaddah ( saling mencintai dengan penuh kasih sayang ) dan warohmah ( kehidupan yang dirahmati oleh Allah SWT ).

Save Uighur

Pernikahan bukan saja dipandang sebagai jalan untuk membangun rumah tangga semata tetapi lebih dari itu pernikahan juga adalah sarana untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyyah, memperluas dan memperkuat tali silaturahmi diantara manusia.

Pernikahan juga merupakan anjuran dari Allah SWT bagi manusia untuk mempertahankan keberadaannya dan mengendalikan perkembangbiakan dengan cara yang sesuai menurut kaidah norma agama.

Dalam Al Qur'an disebutkan " wahai manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Allah menciptakan pasangannya (hawa) dari (diri)nya, dan dari keduanya Allah perkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama Nya kamu saling meminta. Dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi mu ". ( QS. An-nisa : 1 ).

Namun saat ini pernikahan  menjadi suatu pandangan yang berbeda di masyarakat terutama pernikahan dini. Dimana pernikahan dini ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang masih dibawah umur. Bahkan anggota Komnas perempuan, Masruchah merekomendasikan agar batas minimal usia pernikahan perempuan ditetapkan berdasarkan kematangan kesehatan reproduksi diantara kisaran usia 20 tahun.

Di Indonesia sendiri pernikahan sudah diatur dalam undang-undang perkawinan pasal 7 ayat (1) yang menyebut : " perkawinan hanya di izinkan jika pihak pria sudah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 tahun ".

Namun banyak diantara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan masyarakat sipil yang menggugat isi undang-undang tersebut dengan anggapan bahwa dengan melakukan pernikahan dini akan mengakibatkan pada tingkat perceraian yang semakin tinggi dikalangan usia muda karena ketidakmatangan usia dalam memasuki dan membina sebuah rumah tangga, eksploitasi terhadap anak dan kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan yang melakukan pernikahan dini.

Sehingga dengan gencar dan masif mereka meminta kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk mengubah isi undang-undang dengan menaikkan batas minimal usia pernikahan.

Tentu saja hal ini menjadi sebuah polemik di masyarakat mengingat bahwa masalah pernikahan ini adalah masalah yang sensitif. Karena pada faktanya tidak sedikit masyarakat yang melakukan pernikahan dini tetapi dengan 'kondisi' rumah tangga yang baik-baik saja.

Hal ini semakin nyata terlihat bahwa ada upaya untuk mengubah pandangan masyarakat mengenai pernikahan itu sendiri. Dengan sistem yang ada saat ini dimana negara mengusung kapitalisme sekularisme, masyarakat semakin digiring pada pemahaman yang keliru bahkan salah. Manusia mampu membuat aturan yang seharusnya menjadi hak mutlak bagi Allah SWT, zat yang Maha Berkuasa pembuat segala peraturan.

Lalu apakah pernikahan dini dilarang dalam Islam?
Dalam pandangan Islam, tidak ada larangan untuk menikah dini. Karena pada dasarnya hukum Islam memiliki beberapa prinsip yakni melindungi agama, harta, jiwa, keturunan dan akal.

Di dalam Al-Qur'an disebutkan " Dan nikahkan lah orang-orang yang masih membujang diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memberi mereka kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian Nya), Maha Mengetahui " ( QS. An-Nur : 32 ).

Selama orang yang akan melakukan pernikahan sudah memasuki masa baligh dan mampu memberikan nafkah lahir maupun batin maka usia bukanlah menjadi patokan yang mendasar. Tentu hal ini pun dilandaskan pada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Maka sebagai umat muslim, sejatinya kita tidak boleh merubah apa yang sudah Allah tetapkan. Menikah merupakan fitrah dari Allah. Tidak ada paksaan untuk melakukan atau tidak melakukan nya. Semua kembali kepada hukum asalnya.

Hukum pernikahan yang bisa membuat suatu pernikahan menjadi sakinah, mawaddah dan warohmah adalah hanya dengan hukum Islam semata. Dan hukum Islam hanya bisa ditegakkan dalam naungan khilafah 'alaa minhajjinnubuwah sebagai Islam rahmatan lil 'aalamiin.[MO/ge]

Posting Komentar