Oleh : Rasmawati Asri

Mediaoposisi.com-Saudara kita Muslim di Uighur Xinjiang, China telah dibantai habis oleh rezim China. Karena mereka seorang Muslim. Berbagai macam cara dilakukan untuk menjauhkan Islam pada Muslim minoritas Uighur. Pelarangan demi pelarangan dilakukan. Penindasan pun dilakukan

Donasi Save Muslim Uighur

Anggota Komite Penghapusan Diskriminasi Rasional PBB, Gary McDougall, mengatakan sekitar dua juta warga Uighur dan kelompok minoritas Muslim dipaksa menjalani indoktrinasi di sejumlah penampungan politik di wilayah otonomi Xinjiang (Republika.co.id).

Mereka semua butuh bantuan. Terkhusus pada negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia. Tetapi kini dengan berdalih nasionalisme kita tidak dapat menolong, bahkan cuek terhadapnya. Wakil Presiden JK menganggap Indonesia tak dapat ikut campur dalam permasalahan ini karena itu merupakan masalah dalam negeri Cina (Cnnindonesia.com).

Sungguh sangat miris, padahal sebagai Muslim  bagaikan satu tubuh. Bila tubuh yang satu sakit maka sakit pula tubuh yang lainnya. Begitu pula dengan saudara Muslim di Uighur. Dengan dipersaudarakan lewat akidah. Seharusnya kita dapat merasakan sakitnya. Dan berusaha untuk mengobatinya. Bahkan menghilangkan rasa sakit itu jauh-jauh.

Dengan sikap nasionalisme ini akhirnya kita tersekat, dan tidak dapat berkutik. Akibat dari penerapan sistem Kapitalis Sekuler. Ketika Islam sudah tidak lagi menjadi aturan bagi setiap manusia. Maka kerusakan pun akan terjadi.

Dan tidak adanya perisai yang melindungi Muslim Uighur, bukan cuma itu. Masih ada Rohingya, Palestina, Irak yang sampai saat ini masalah belum kunjung tuntas. Maka dibutuhkan penuntasan yang sangat mendasar. Yaitu dengan dibentuk perisai yang kuat lagi kokoh, yaitu  dengan seorang Imam(Khalifah).

Sebagaimana sabda Nabi Saw. Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia (HR al-Bukhari dan Muslim). Maka perisai inilah yang menjadi satu-satunya yang bertanggungjawab. Tidak ada kekuatan yang lebih kuat selain seorang Khalifah. Bukan hanya kekuatan pribadi, tetapi pada institusi negara yakni dengan Khilafah.

Tentu ini semua dengan didasarkan pada akidah Islam. Ketika akidah ini sudah melekat pada setiap kaum Muslim. Apapun yang terjadi siap menang atau mati syahid. Rasa takut sudah tidak ada lagi. Karena di dalamnya adalah Allah sebagai tujuan hidupnya. Maka penting sekali kita dalam memperjuangkan kembali tegaknya Islam di bumi Pertiwi ini. Dengan begitu setiap Muslim dapat terlindungi dan terjaga.[MO/ge] 

Posting Komentar