Oleh: Wulan Eka Sari,
(Aktivis Mahasiswi)
Mediaoposisi.com- DPRD Kota Pariaman dan Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum. Beleid tersebut juga mengatur sanksi bagi pelaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) bila dianggap mengganggu ketertiban umum.
Wakil Wali Kota Pariaman Mardison Mahyuddin menjelaskan bahwa pengajuan ranperda yang juga mengatur spesifik tentang pelaku LGBT ini dilatari keinginan pemerintah untuk menindak pelaku  LGBT, termasuk waria, yang dianggap meresahkan masyarakat. Menurutnya, Perda tentang LGBT ini sekaligus menjadi upaya mitigasi penyebaran perilaku LGBT di Kota Pariaman. (Republika.co.id, 28/11/2018)
Pada pasal 24 Perda tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum, diatur tentang aktivitas setiap orang yang berperilaku sebagai waria dan diketahui mengganggu ketentraman masyarakat bisa dikenakan sanksi. Sementara di pasal 25 disinggung tentang larangan aktivitas setiap orang perempuan atau lai-laki yang melakukan perbuatan asusila sesama jenis. Denda yang bisa dikenakan atas pelanggaran pasal-pasal tersebut sebesar Rp 1 juta.
Tentu, langka Pemerintah Kota Pariaman ini layak diapresiasi. Di saat beberapa kalangan anti terhadap perda berbau syariah. Pemerintah setempat justru berani mengambil terobosan. Terlepas dari sanksi yang diterapkan sangat ringan. Dari sisi kepekaan dan antisipasi tentu patut diapresiasi, tapi dari sisi efek jera tentu masih jauh. Kalangan LGBT itu tidak sedikit dari kaum the have, di back up LSM-LSM berduit. Nilai 1 juta rupiah itu ringan bagi mereka.
Selain itu, LGBT jelas merusak sistem sosial dan kemanusiaan. Belum lagi ancaman penyakit kelamin dan kanker anus. Fitrah manusia ialah berpasangan pria-wanita, agar memiliki keturunan. Sekarang dengan LGBT sistem sosial ini menjadi rusak, mengancam keturunan dan jelas haram menurut agama.
Untuk dapat menuntaskan permasalah ini sampai ke akar-akarnya, maka solusi dari masalah ini harus dimulai dari preventif, yaitu pencegahan. Caranya dengan menciptakan sistem sosial yang sehat, interaksi pria dan wanita terjaga serta sesama pria dan wanita pun juga terjaga.
Sebenarnya Sistem Islam telah menjelaskan secara lengkap dan komprehensif. Selain itu, Islam juga berasal dari Sang Pencipta Alam Semesta, Manusia dan Kehidupan. Yang tidak dikeragui lagi Kemahatahuan Allah Swt. Allahlah yang paling mengetahui mana yang terbaik dan yang mendatangkan kemaslahatan untuk makhluk-Nya. Untuk itu, marilah kita me;ihat sistem ini mengatur dalam masalah LGBT.
Sanksi LGBT dalam sistem Islam ditindak dengan jelas dan tegas.  Untuk kaum lesbian, dikenal dengan istilah as-sadaaq atau al-musahaqah. Lesbian adalah hubungan seksual yang terjadi di antara sesama wanita. Lesbian berbeda dengan zina. Hukumannya diserahkan kepada hakim dengan hukuman ta’zir.
Untuk kaum Gay, para sahabat Nabi Saw berbeda pendapat mengenai teknis hukuman untuk gay. Menurut Ali bin Abi Thalib ra kaum gay harus dibakar dengan api. Menurut Ibnu Abbas ra harus dicari dulu bangunan tertinggi di suatu tempat, lalu jatuhkan gay dengan kepala di bawah, dan setelah sampai di tanah dilempari dia dengan batu. Menurut Umar bin Khaththab ra dan Utsman bin Affan ra gay dihukum mati dengan cara ditimpakan dinding tembok padanya sampai mati. Memang para sahabat berbeda pendapat tentang caranya, namun semuanya sepakat gay wajib dihukum mati.
Untuk kaum Biseksual, dikenal dengan istilah liwath. Hukumannya adalah dibunuh. Sesuai dengan Sabda Nabi saw.: “Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah keduanya.” (HR Al-Khamsah, kecuali an-Nasa’i)
Sedangan untuk kaum transgender, transgender adalah perbuatan menyerupai lain jenis. Baik dalam berbicara, berbusana, maupun dalam berbuat, termasuk dalam aktivitas seksual. Islam mengharamkan perbuatan menyerupai lain jenis sesuai hadits bahwa Nabi saw mengutuk laki-laki menyerupai wanita dan mengutuk wanita menyerupai laki-laki. (HR Ahmad, 1/227 & 339)
Hukumannya, jika sekedar berbicara atau berbusana menyerupai lawan jenis, adalah diusir dari pemukiman atau perkampungan. Nabi saw telah mengutuk orang-orang waria (mukhhannats) dari kalangan laki-laki dan orang-orang tomboy (mutarajjilat) dari kalangan perempuan. Nabi saw berkata, “Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian.” Maka Nabi saw pernah mengusir Fulan dan Umar ra juga pernah mengusir Fulan. (HR Bukhari no. 5886 dan 6834). Jika transgender melakukan hubungan seksual maka hukumannya disesuaikan dengan faktanya.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelaslah bahwa LGBT adalah perbuatan yang diharamkan Islam dan merupakan tindakan kriminal. Karenanya dengan penerapan  syariah Islam secara totalitas, masyarakat akan terlindungi. Oleh karena itu, Umat harus kembali ke sistem kehidupan yang normal, manusiawi, sesuai fitrah, yaitu Islam. Karenanya, Islam harus menjadi pilar dan peraturan Negara ini. Jikalau kita mengingakan umat selamat dari LGBT. [MO/sr] 

Posting Komentar