Mediaoposisi.com-Bolehlah membuat citra, kesan baik, penampakan profil yang mengagumkan. Tapi sekedarnya saja. Jangan berlebihan. Waktu kecil, ibu saya selaku menggunakan micin (merk Sasa) untuk penyedap rasa, dan selalu diminta diberikan sekedarnya, secukupnya.

Tapi seiring perubahan zaman, merantau ke kota, tradisi memasak menggunakan micin mulai ditinggalkan. Keluarga kami, terbiasa menggunakan penyedap rasa alami, kombinasi bumbu, garam dan gula.

Nah, pencitraan politik itu seperti micin, perlu tapi ya sekedarnya. Pada era yang terbuka akan informasi, justru pencitraan itu yang alami saja. Kebanyakan micin malah bikin eneg.

Micin pencitraan politik itu bisa foto/video, publikasi dan pemberitaan. Publikasi dengan sentuhan 'Framing' camera, atau latar peristiwa, atau setting kegiatan, boleh saja dipublikasikan sebagai pemanis citra. Bahkan, divisi humas dan komunikasi korporasi itu tugasnya memang mengemas agenda agar 'layak konsumsi publik' atau setidaknya tidak membuat publik eneg dengan tampilan atau informasi korporat yang disajikan.

Tapi saya harus katakan, agenda pencitraan tuan Presiden Jokowi saat berkunjung meninjau lokasi bencana Sunami Banten - Lampung itu kebanyakan micin. Masyarakat bukanya merekam kesan tentang kepedulian, kesahajaan, gerak cepat dan ketanggapan, perenungan dan kontemplasi, visi atas masa depan bangsa, justru sebaiknya.

Karena kebanyakan micin, sorotan camera dan video yang mengabadikan kegiatan Presiden di pinggir pantai justru dicibir, dianggap lebai, dibuliy, ditanggapi sinis, pada pokoknya citra yang muncul justru citra negatif, termasuk tetapi tidak terbatas pada:

kurang empati, tidak paham masalah, mengkerdilkan korban dan mengutamakan kunjungan alam, kesan safari wisata bencana ketimbang sidak bencana, tak menguasai masalah, lebih mengutamakan citra ketimbang tanggap darurat bencana, dan sebagainya.

Bahkan, saking kesalnya netizen didunia maya banyak mengedarkan foto monyet dipinggir pantai dengan aksen serupa, namun dengan capture dan komentar beragam. Foto-foto monyet dipinggir pantai ini cepat viral seiring beredar luasnya kunjungan bencana tuan Presiden.

Yang lebih menampar muka Pak presiden, ada foto beberapa kunjungan bencana Pak Presiden di berapa lokasi bencana yang juga kebanyakan micin. Disandingkan, dengan foto selvie monyet dipinggir pantai.

Saya kira, ini kritikan rakyat yang secara smiotik melambangkan perlawanan yang luar biasa dahsyat. Disinilah, terlihat sensitifitas lingkaran Jokowi yang kurang peka terhadap dinamika ditengah rakyat, sehingga strategi kampanye masih menggunakan cara lama yang sudah dianggap kuno.

Tim TKN Jokowi gagal menyerap aspirasi dan kecenderungan rakyat, kemudian menyajikannya dalam biduk kegiatan tuan Presiden yang berkesesuaian dengan suasana kebatinan rakyat. Foto-foto tuan Presiden dipinggir pantai justru melukai rakyat, baik umum apalagi yang menjadi korban bencana.

Substansi penanganan bencana justru tidak tertangani dengan baik. Masalah Buol, misalnya Presiden hanya instruksi untuk beli, padahal anggaran telah diajukan sejak Januari dan ada pemangkasan. Sama persis ketika Tsunami Palu, diketahui alat Buol telah lama udzur sejak tahun 2014. Lantas, selama empat tahun ini Pemerintah ngapain ? Sibuk dan berbangga bikin jalan, tapi alat deteksi dini Tsunami yang terkait keselamatan rakyat kok tidak kelar-kelar persoalannya ?

Belum lagi, keluhan dari korban yang belum tertangani dengan baik. Keluhan dari NTB dan Palu, dimana tuan Presiden terlalu banyak janji dan belum (baca: tidak) ditepati.

Jadi sekali lagi, tuan Presiden jangan kebanyakan micin. Rakyat ini serius hidup terlunta-lunta dan berjuang menyambung nyawa. Janganlah tuan Presiden malah sibuk membuat sinetron untuk mengunduh citra. Tuan Presiden, saya tegaskan : JANGAN KEBANYAKAN MICIN. []

Posting Komentar