Oleh : Rizkya Amaroddini
(Mahasiswi STEI Hamfara)

Mediaoposisi.com-Era millenial tak menutup kemungkinan tak mengenal pemuda, karena jiwa pemuda menjadi acuan bangkitnya peradaban. Namun sungguh ironis pemuda yang menjadi  titik awal kebangkitan justru di jajah dari segi pola fikir dan pola sikap yakni dengan 5F( Food, Fun, Fashion, Film, Fonutan). Tindakan akan terealisasikan sesuai pemahamannya, sehingga wajar jika saat ini banyak pemuda yang memiliki pikiran tertutup dan  tidak perduli akan perkembangan dunia.

Ayo Sukseskan Campaign Kibarkan 1 Juta Bendera Tauhid Di Bumi

Maka sungguh ironi jika masih mengatakan Negeri ini mengalami kemajuan dari segi pemuda, sebab fakta memberi bukti bahwa masalah yang terus berkecimbung dalam pemuda masih dalam kadar rendah yakni masih ranah pacaran, minuman khamr, kesenangnan yang terus di wujudkan, dan tindakan-tindakan dzolim kepada dirinya dan orang lain, bahkan melecehkan agamanya sendiri.

Tak ingatkah jika darah para syuhada’ mendominasi para pemuda, namun era millennial kali ini umat di kecewakan dengan tindakan para pemuda yang merendahkan identitas dirinya sebagai muslim, agama menjadi bahan tertawaan, karikatur-karikatur yang menggambarkan Rosulullah menjadi hal yang biasa, berinteraksi dengan guru tanpa ada etika. Wahai kawula muda akan seperti ini kah cerminan Islam di akhir zaman.

Bantu Azzam membangun media Por-Islam

Ada segelintir para pemuda yang pro aktif namun tidak membuka pola fikir sehingga pengetahuan yang ia terima hanya dari guru-gurunya. Mereka apatis terhadap problematika yang menimpa ummat, mereka hanya di sibukkan dengan urusan pribadi. Tidak hanya itu dari sisi pendidikan kebijakan pemerintah memberikan aturan bahwa siswa-siswinya di didik dan menghabiskan waktu hanya di sekolah yang berguna untuk mengentaskan pemahaman pelajaran, mereka tidak di kenalkan Islam sesungguhnya seperti apa.

Dalam pengajaran pendidikan Agama Islam pun hanya berkisar 3 atau 2 jam, hal itu tidak menimbulkan kesadaran pemuda akan sebuah kebangkitan yang hakiki.  Seharusnya sebagai pemuda yang kritis tidak menutup pola fikir sehingga tidak akan menafikkan kebenaran dan mencari pembenaran atas tindakannya. Jadilah para pemuda yang kritis yang menerima pola fikir yang lain dan carilah kebenaran yang tidak tertutupi oleh kepentingan pribadi. 

Tampak jelas bagaimana para pemuda era millennial ini menghadapi gemerlapnya dunia.  Maka pemuda seperti apa yang mampu membangkitkan umat jika pola fikir tercampur dengan pemahaman barat. Dalam wujudnya dia adalah muslim namun pemahaman yang melahirkan tindakan mencerminkan barat.

Coba kita lihat bagaimana pemuda pada saat Peradaban Islam berjaya.  Mereka terlahir tidak sekedar menikmati masa mudanya namun mereka menjadi intelektual yang mampu menciptakan karya yang berguna hingga detik ini. Karya yang mereka hasilkan tidak sekedar wacana namun hasil dari karya tersebut menjadi acuan bagi dunia dalam pengembangan ilmu.

Lihatlah pemuda, tumpuan kebangkitan berada pada pundakmu. Barat akan senantiasa mencekoki para pemuda dengan kesenangan yang semu sehingga kesadaran untuk memikirkan ummat tersingkir perlahan. Saatnya rubah dunia ini menjadi peradaban yang gemilang.

Taka da yang tidak mungkin, karena Peradaban Islam telah membermi bukti bahwa pemuda maju dari sisi tsaqofah, ilmu bahkan ide-ide dasar dari teknologi. Kemenangan akan di dapatkan jika pemuda melayakkan dirinya menjadi Muhammad Al-Fatih setidaknya menjadi paasukannya, agar engkau akan di pilih Allah sebagai pasukan yang terbaik dan layak menjemput janji Allah dan Bisyaroh Rosulullah.[MO/ge]

Posting Komentar