Ani Herlina

Mediaoposisi.com-Diskrimasi China terhadap muslim Uighur sudah di luar batas kemanusiaan.  Satu juta Muslim Uighur disekap  di sebuah kamp-kamp khusus itu yang terjadi pada bulan Agustus dengan dalih untuk memerangi ektrimisme. Muslim Uighur juga di paksa untuk ikut partai komunis China. Kemana para pemimpin dunia muslim? Mereka mendadak bungkam.

Donasi Save Muslim Uighur

Muslim Uighur  merupakan etnis minoritas muslim yang bertempat tinggal di provinsi Xinjiang, China. Mereka membentuk sekitar 45 persen dari populasi warga di sana. Muslim Uighur  adalah etnis keturunan Turki yang menjadi warga kelas dua di negaranya sendiri. Hanya  karena mereka menjadi muslim minoritas di negara pengusung komunis.

Kebebasan beribadah di Uighur adalah hal yang teramat sulit. Larangan berpuasa, salat dan menampilkan atribut-atribut keislaman adalah sesuatu yang sering terjadi. Namun muslim Uighur lebih takut pada Tuhannya di bandingkan tekanan dan siksaan pemerintah. Sangat berat sekali tantangan menjadi muslim Uigur di bawah tekanan rezim komunis China.

‘Menurut laporan dari pengamat HAM, Mereka di perlakukan secara tidak manusiawi. Setelah di kirim ke pusat penahanan, mereka di pakasa untuk mematuhi propaganda Partai Komunis. Muslim Uighur ini diperintahkan menyanyian lagu-lagu kebangsaan dan slogan komunis. Mereka juga diwajibkan menghadiri sesi cuci otak setiap hari. Jika gagal mematuhinya, mereka disiksa dengan berbagai metode seperti dilarang tidur, dikurung diruang isolasi, hingga berbagai penyikasaan fisik lain.’

Dan muslim Uigur juga di perlakukan sebagai musuh negara karena identitas agama mereka yang muslim. Mereka di perlakukan secara tidak manusiawi. Dan sangat menyedihkannya permasalahan Uighur ini tidak memicu kemarahan dunia secara global kendatipun ada hanya sampai pada tahap kritik belum ada tindakan lain. Bahkan pemimpin dunia Islam di buat bungkam. Seperti halnya dengan pemimpin Indonesia yang  tidak bisa berkutik untuk menyuarakan kedzaliman China terhadap muslim Uighur.

Bungkamnya pemimpin Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia cukup menjengkelkan.  Pengaruh besar China terhadap Indonesia memang tidak diragukan lagi. Terutama banyaknya hutang Indonesia terhadap China membuat negeri ini tidak bisa berkutik. Hingga akhirnya tidak mampu menyuarakan kekejaman yang di lakukan pemerintah  China yang telah melaukan kejahatan kemanusiaan yaitu  melakukan pelanggaran HAM.

Dan diamnya dunia Islam karena China telah menjadi mitra dagang utama setiap negara mayoritas muslim. Banyak dari negara muslim tersebut adalah anggota Bank Investasi Infrastruktur Asia yag di pimpin oleh China atau berpastisipasi dalam Insiatif Sabuk dan Jalan China. Untuk Asia Selatan ada investasi Infra struktur.

Sedang untuk Asia Tenggara China adalah pasar utama komoditas kelapa sawit dan batu bara. Sedang untuk Timur Tengah mendapat keuntungan dari China karena China adalah importir terbesar minyak dunia dan penggunaan gas alamnya meningkat pesat.

Sehingga banyak negara di timur tengah yang memiliki ketergantungan ekonomi pada China. Maka adalah sesuatu hal yang sangat wajar jika para pemimpin muslim bungkam. Jika mereka mengotak-atik masalah Uighur otomatis hubungan positif mereka dengan China akan ternodai. Jadi diam adalah cara terbaik di banding mengurus pelanggaran HAM yang terjadi di Uighur. Yang terpenting simbiosis mutualisme diantara para pemimpin Negara muslim dengan China tetap terjaga.

Fakta sejarah yang tidak bisa di sembunyikan  di saat umat islam berhasil menguasai dunia maka agama-agama lain di biarkan hidup dengan bebas dan aman. Mereka juga mendapat tempat istimewa di bidang pemerintahan, seperti halnya yang pernah terjadi di masa Bani Umayah. Selama satu abad kementrian keuangan di pegang secara turun-temurun oleh keluarga Kristen.

Tapi, ketika non muslim berkuasa – maka selain agama yang berkuasa,agama Islam akan habis di tumpas. Bahkan terjadi genocide atau killing field. Seperti yang pernah terjadi di Spanyol, ketika kejayaan Islam di Andalusia jatuh di kalahkan raja Ferdinad dan Isabella. Maka pembunuhan, kristenisasi atau Evakuasi. Sedangkan islam adalah agama kemanusiaan yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusi tanpa membedakan bangsa, agama, atau warna.

Dalam islam menjaga wilayah kaum muslimin adalah suatu kewajiban baik dari ganguan internal maupun eksternal.Hal ini berkaitan dengan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum muslimin.

Imam haramain Al-Juwaini berkata, “Perhatian imam dalam menjaga perbatasan negeri kaum muslimin adalah hal yang penting, yaitu dengan menjaga benteng-benteng, memenuhinya dengan bahan makanan dan persediaan air, membangun parit, perlengkapan perang  dan peralatan untuk bertahan dan menyerang, dan hal ini menuntut adanya para pasukan yang menjaga setiap perbatasan.” (Giyatsul Umam, hal 156).

Hanya islam ajaran yang penuh dengan toleransi dan sangat menghargai pemeluk-pemeluk agama lainnya. Tidak diskriminatif dan tidak membeda-bedakan. Hal ini menunjukan bahwa islam adalah agama yang cinta akan kedamaian. Ajarannya bersifat universal untuk seluruh umat manusia. Sangat berbeda ketika non-Muslim menjadi mayoritas. Umat islam selalu mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dan refresif[MO/ge]

Posting Komentar