Oleh : Mutia Kanza

Mediaoposisi.com-Akibat Ditelikung Gelontoran Investasi Cina, Kedekatan pemerintah dengan Cina dianggap menjadi salah satu ganjalan sehingga Indonesia tak cukup vokal mengecam Negeri Tirai Bambu atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis minoritas Uighur di Xinjiang.

Sejumlah pengamat menangkap sinyal bahwa Indonesia kurang lantang merespons persekusi Cina atas suku minoritas Muslim ini karena Presiden Joko Widodo hingga saat ini masih bungkam terkait persoalan Uighur (cnnindonesia.com, 21/12/2018).

Sikap diam yang ditunjukkan oleh pemerintah terhadap tindakan keji yang dilakukan oleh Cina terhadap Muslim Uighur di Xinjiang merupakan dampak dari ketergantungan pemerintah kepada Negeri Tirai Bambu tersebut.

Sebelum ini pemerintah Indonesia dan Cina telah berkomitmen meningkatkan kerja sama di bidang investasi dan perdagangan sejumlah sektor.

Hal ini di antaranya didorong dalam perhelatan acara Indonesia-China Business Forum on Investment and Trade 2018 dengan tema Doing Business with Wonderful Indonesia yang digelar pada 26 September 2018 di Beijing. (msn.com, 29/09/2018).

Terbukti bahwa investasi asing adalah jalan bagi penjajahan. Jalinan hubungan mesra antara pemerintah dengan Cina telah membuat pemerintah kehilangan rasa kemanusiaan hinga tidak mampu memiliki kepedulian terhadap penderitaan Muslim Uighur.

Hal senada juga simapaikan oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon. Dia menganggap pemerintah RI sebagai peliharaan Cina lantaran tidak berani vokal mengkritik dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis minoritas Uighur di Xinjiang (cnnindonesia.com, 20/12/2018).

Indonesia adalah negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Akan tetapi tidak berdaya untuk menyelamatkan Muslim Uighur di hadapan Cina.

Padahal yang sedang menjerit meminta tolong adalah saudara seakidah. Semustinya pemerintah tidak boleh tinggal diam dengan hilangnya nyawa Muslim Uighur. Bukankah di sisi Allah hilangnya nyawa seorang muslim lebih lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Sudah saatnya umat Islam sadar bahwa sampai kapan pun pemimpin dalam sistem Kapitalis Demokrasi akan lebih berpihak pada kepentingan pemilik modal dibanding kepada nasib umat Islam yang tertindas penuh derita.

Ketidak berdayaan pemerintah untuk menolong Muslim Uighur dari kejahatan Cina menjadi buktinya. Maka hanya pada pemimpin yang lahir dari sistem buatan Allah Swt dan warisan Rasulullah Saw saja lah kita dapat berharap keselamatan untuk saudara seakidah kita di Uighur dan di berbagai wilayah lain.

Sistem itu tidak lain adalah Khilafah yang pernah tersebut dari lisan Baginda Rasulullah Saw yang mulia sejak empatbelas abad yang lalu. Beliau bersabda.

ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ ...
'
... Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih). Sehingga menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk ikut serta dalam perjuangan penegakannya.[MO/ge]

Posting Komentar