Oleh: Uqie Naima

Mediaoposisi.com-Kekhawatiran masyarakat Indonesia seakan tidak ada habisnya. Belumlah hilang masalah yang satu datang lagi kasus yang lain. Gencarnya isu teroris, Islam garis keras, sertifikasi ulama/ustadz atau khilafahphobia, seakan belum cukup menghadang Islam Ideologis bangkit di negeri ini. Berbagai upaya makar dan monsterisasi ajaran Islam  semakin nyata terpampang di depan mata.

Baru-baru ini beredar informasi yang dikeluarkan Badan Intelijen Negara (BIN) terkait 41 mesjid yang masuk “Zona Merah” dan terpapar radikalisme seakan memperpanjang daftar horor dan teror negeri ini. Mirisnya, isu yang menyebar ke tengah masyarakat datang dari pemerintah karena alasan yang bersifat politis terhadap “Islam Ideologis”.

Menurut Juru Bicara Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto, temuan 41 mesjid yang terpapar radikalisme di lingkungan pemerintah didapat dari hasil survei Perhimpunan pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Nahdlatul Ulama. Wawan menuturkan, hasil survei tersebut kemudian didalami lebih lanjut oleh BIN sebagai ‘early warning’ dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, menjaga sikap toleran dan menghargai kebhinekaan. Adapun kategori radikalisme  dilihat dari konten yang dibawakan penceramah di masjid tersebut (TribunJogja.com).
Berbagai Upaya Rezim Menjegal Kebangkitan Islam

Dewan Pengawas P3M, Agus Muhammad menyebut data 41 masjid di lingkungan pemerintah ini berdasarkan hasil studi P3M yang bekerjasama dengan Rumah Kebangsaan. Studi dimaksud untuk menjaga masjid sebagai tempat sujud, menjaga kejernihan hati sekaligus menjaga keluhuran budi, bukan untuk tujuan lain. Ada 100 masjid pemerintah dari kementerian, lembaga dan BUMN yang dipilih menjadi sampel.

Walaupun operasional masjid-masjid tersebut kebanyakan sudah mandiri (tidak pakai uang negara), tapi masjid tersebut berada di lingkungan pemerintah yang semestinya menyuarakan perdamaian dan kemaslahatan umat. Bahkan, ceramah di beberapa masjid itu disinyalir bersuara keras, cenderung provokasi, padahal ini adalah masjid negara, ujar Agus (Viva.co.id).

Menurut Anggota Komisi I DPR, Charles Honoris, tindakan BIN adalah tindakan positif. Adanya 41 masjid terpapar radikalisme di instansi pemerintah, merupakan peringatan atau alarm bagi Indonesia. Penyebaran paham radikal dan intoleransi  harus diwaspadai.  Di sisi lain, mantan ketua PKS, Hidayat Nur Wahid menganggap aneh jika data yang dipakai oleh BIN bukan data BIN. Seharusnya, BIN memiliki data idependen. Kemudian data itu diserahkan kepada presiden sebagai pengguna (user), bukan masyarakat. Informasi inilah yang akhirnya membuat keresahan masyarakat.

Upaya pencitra-burukkan Islam dan ide Khilafah adalah bagian dari upaya Barat—khususnya AS—dalam menata dunia menurut kepentingan dan cara pandang ideologi mereka. Barat mengklaim diri sebagai pemegang supremasi kebenaran, sedangkan semua yang mengancam kepentingannya dalam hal ini Islam atau gerakan Islam dianggap jalan yang sesat. Barat menggunakan media massa sebagai sarana pembentuk makna (public opinion).

Kesan buruk mengenai Islam dan ide khilafah perlu diciptakan agar penindasan dan sekularisasi kepada kaum Muslim dapat dilakukan dengan persetujuan publik. Umumnya, yang menjadi korban atau objek utama dari monsterisasi ini adalah kaum Muslim atau ormas Islam yang tidak sehaluan dan menolak rezim kapitalis-sekular bercokol di bumi Allah SWT.

Makar Kufur Takkan Bisa Mengalahkan Makar Allah
Di munculkannya kembali isu radikalisme masjid dan penceramah, menunjukkan tingkat kepanikan yang tinggi rezim sekular neolib menghadapi kesadaran politik umat Islam yang kian menguat, terutama jelang “Aksi Bela Tauhid 212“  (tanggal 2 Desember 2018). Rezim refresif anti Islam semakin kentara menggulirkan isu-isu teror murahan. Alih-alih memperbaiki kinerja pemerintah yang semakin amburadul, ternyata sibuk  menyasar kaum Muslim dengan jerat pasal dan undang-undang karetnya.

Rezim Sekular senantiasa membuat makar menghadang lajunya Islam Kaaffah, padahal Allah SWT adalah sebaik-baik pembalas tipu daya (makar). Sebagaimana Firman Allah : “Mereka mengatur tipu daya, lalu Allah membalas tipu daya mereka, dan Allah sebaik-baik yang membalas tipu daya” (TQS. Ali Imran [3]:54).

Kaum Muslimin tidak boleh terpengaruh dan terpedaya dengan isu-isu yang di desain mendiskreditkan Islam dan ajarannya. Kebencian orang kafir terhadap kaum Muslimin adalah realita yang sangat jelas. Sayangnya, kebencian itu didukung oleh kaum Muslim bodoh, cinta harta, tahta dan wanita. Sesama Muslim saling menghadang, membully, memfitnah dan mencurigai. Sementara kepada kaum kafir mereka patuh, taat dan mendukung apapun tindakan keji mereka.

Cara yang tepat untuk menghadapi tipu daya mereka adalah dengan sabar dan bertakwa kepada Allah SWT. Fokus dan istiqamah di jalan dakwah, hingga nashrullah itu datang. Tetap melaju dalam gerbong yang sama, melalui tahap demi tahap thariqah Rasulullah SAW. Kita raih, kita songsong Daulah Islam ‘ala Minhajj an-Nubuwwah tegak kembali sebagaimana Daulah Islam tegak di Madinah al-Munawwarah.[MO/sr]

Posting Komentar