Oleh Sunti dari Mojokerto

Mediaoposisi.com-Baru-baru ini rakyat Indonesia dihebohkan dengan kebijakan KPU yang membolehkan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) nyoblos saat pemilu tahun 2019. Hal ini disebutkan dalam laman berita yang dilansir oleh RadarBogor.id, tanggal 22 November 2018. Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) alias orang gila bakal diperbolehkan nyoblos pada pemilu nanti. Pasalnya, mereka akan masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) .

KPU mengklaim memiliki landasan kuat untuk memasukkan ODGJ sebagai bagian dari DPT. Hanya, dalam praktiknya di lapangan, ada persyaratan tambahan. Hal itu disampaikan komisioner KPU Ilham Saputra saat ditemui di KPU kemarin (21/11). Dia menjelaskan, KPU tidak asal memasukkan seseorang dalam DPT. Termasuk dalam hal ini ODGJ. ’’Pengakomodiran kami lakukan karena ada putusan MK,’’ terangnya. Putusan nomor 135/PUU-XIII/2015 itu mengakomodir ODGJ untuk tetap bisa memiliki hak pilih.

Hanya di masa rezim ini dan di pemilu tahun 2019 ada kebijakan seperti ini. Kebijakan yang sama sekali tidak masuk akal dan terlihat dipaksakan. Bagaimana mungkin orang yang dengan dirinya sendiri saja tidak ingat, bicaranya ngelantur, tidak bisa mengontrol emosi,tidak bisa berfikir jernih, tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah diperbolehkan untuk memilih pemimpin.

Beginilah jika negara menganut sistem yang memiliki peraturan bukan dari sang pencipta manusia yaitu sistem demokrasi. Sistem ini melarang agama mengatur kehidupan (sekularisme), bebas dalam berprilaku (liberalisme), tidak sesuai fitrah manusia karena disatu sisi mengakui Tuhan tetapi disisi lain manusialah yang layak menetapkan aturan, segala sesuatu didasarkan pada nafsu, ambisi dan atas keuntungan semata. Apapun dilakukan meskipun harus menabrak aturan, halal haram sudah tidak lagi menjadi acuan.

Solusi Islam Untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa
Orang dengan gangguan jiwa merupakan fenomena sosial yang kerap ada di sekitar kita. Meski demikian, Islam juga menaruh perhatian bagi mereka. Dalam kajian fikih, orang dengan gangguan jiwa termasuk dalam kelompok yang tidak terbebani syariat dan amalnya tidak akan dihisab kelak di hari akhir.

Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah Muhammad SAW, diriwayatkan dari Imam Ahmad. "Catatan amal diangkat dari tiga jenis orang : orang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai dia baligh dan orang gila sampai dia sembuh dari gilanya."

Jika Alloh saja tidak membebaninya dengan syariat bahkan apa yang mereka lakukan tidaklah dihisab di akhirat. Ini membuktikan bahwa orang dengan gangguan jiwa tidak mampu untuk menjalankan amal perbuatan dengan benar sesuai syariat karena hilangnya akal daripadanya. Memperbolehkan mereka untuk mengikuti pencoblosan pemilu sangatlah tidak lazim.

Kebijakan ini sangatlah bertentangan dengan syariat islam. Harusnya kita mulai berfikir dan kembali kepada syariat islam yang mengatur segala aspek kehidupan sesuai dengan fitrah manusia.[MO/ge]

Posting Komentar