Oleh : Iin 
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Saat ini kaum muslimin lebih paham politik sekuler daripada politik Islam. Wajar saja, karena terlalu lama kaum Muslim dibiarkan buta dan tersesat dari politik yang hakiki. Umat Islam menjadi asing dengan ajaran agamanya dan pada akhirnya "phobia Islam politik".

Menganut politik sekular tak ubahnya membiarkan penyakit menggerogoti tulang. Tak terasa, tapi nyata merusak dan menyimpangkan akal sehat. Paham sekular yang selama ini  di adopsi negara RI telah berkontribusi besar menjauhkan kaum Muslim dari ideologi Islam dan menjerumuskannya ke dalam  ideologi kapitalis sekular dan  liberal.

Pemikiran dan jiwa kaum Muslim terus dicekoki hedonisme dan kebebasan  dalam payung hukum bernama HAM.  Membiarkan kehidupan masyarakat terhimpit dan tertindas akibat iming-iming dan janji palsu para penguasa.  Kemunduran berpikir masyarakat menjadi sasaran empuk kaum komprador menguasai aset vital negara Indonesia. Kekayaan alam yang melimpah ruah  menjadi santapan negara-negara asing dan aseng yang rakus.

Sumber daya  alam terus di keruk, di rampok, menyisakan hutang yang membelenggu dan terus meningkat. Negara kita menjadi sangat rawan mengalami kegoncangan ekonomi dan politik. Keberpihakan rezim negeri kepada asing dan aseng semakin memperparah kegagalan sistem yang dianutnya. Merasa bahwa sistemnya-lah yang baik dibandingkan sistem Islam.

Dengan demikian komplit sudah kebobrokannya. Karena anti syariat Islam, pro penjajah ketimbang pribumi, maka tak ada kata lain untuk rezim ini selain kata "gagal". Gagal memberikan hak mendasar kepada rakyat berupa keamanan, kenyamanan, pelayanan kesehatan dan pendidikan,  serta gagal  membangun citra baik di mata umat dan syara'. Bangga dengan pinjaman yang diberikan IMF dan Bank Dunia, merasa hebat saat melayani kepentingan IMF dan Bank dunia. Padahal secara global IMF telah mengakui kegagalan ideologi neo-liberalisme.

Lantas bagaimanakah membuat tanah air tercinta ini bisa menjadi sebuah negara  besar? Tidak lain  dengan segera mencampakkan ideologi sekuler-liberal dan kembali kepada politik Islam yang bersumber dari Allah Yang Maha Sempurna dan contoh Rasulullah saw,  yakni dari Al-Qur'an dan As-sunnah. Suatu keniscayaan akan menyelamatkan umat manusia serta memberikan rahmat bagi seluruh alam manakala aspek kehidupan sejalan dengan perintah Allah dan RasulNya.
Islam sebagai ideologi negara akan memastikan seluruh hukum yang berlaku bersumber dari syari'ah Islam.

Dalam politik Islam, batas musuh dan kawan terhadap politik luar negeri sangat jelas dan tegas. Dakwah Islam semata-mata ditujukan untuk menyebarluaskan Islam keseluruh dunia bukan untuk mengeksploitasi kekayaan negara-negara lain.

Maka sudah saatnya  umat Islam melek politik. Memahami pengaturan dan pengontrolan secara hakiki, bukan seperti sekarang dengan di adopsinya hukum dan aturan bathil lagi kufur. Masyarakat yang mengenal Islam kulit luar nya saja atau masih parsial, sudah tentu mudah terpengaruh isu negatif atau bahkan antipati dengan ajarannya sendiri yaitu Islam.  Memuliakan paham sekular tapi melecehkan paham Islam. Tanpa paham politik Islam, seluruh negara  akan terus tertindas  oleh politik sekuler-liberal.

Salah satu cara memahami politik Islam yaitu seluruh umat Islam harus berjuang dan terus berusaha menegakkan kembali Daulah Khilafah Islamiyah yang menjadikan Islam sebagai ideologi sekaligus asas negaranya.

Insitusi Islam-lah yang akan menerapkan hukum Allah dan RasulNya,  mengemban ideologi Islam keseluruh dunia sekaligus menjadi satu-satunya Negara Adidaya di dunia. Mari kita songsong
kembalinya Khilafah 'ala Minhajj An-Nubuwwah yang dijanjikan Allah dan Rosulnya agar segera tegak.[MO/sr]



Posting Komentar