Oleh: Yuyun Novia
(Revowriter Chapter Bogor)

Mediaoposisi.com- Cuitan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia menuai sensasi. Osamah al-Suaibi mengomentari aksi reuni 212 lalu dengan menjelaskan bahwa latar belakang aksi tersebut adalah pembakaran bendera tauhid oleh kelompok menyimpang, tanpa menyebut secara spesifik kelompok manapun. Namun bagai kebakaran jenggot, pihak GP Anshor dan PBNU merasa tersinggung atas pernyataan tersebut.

Gelombang protes akhirnya muncul dari kubu ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Tagar "Usir Dubes Arab Saudi" dan "PBNU Protes Dubes Saudi" menjadi tranding topic yang hangat beberapa hari ini. Pihak GP Anshor bahkan menyurati Kemenlu RI agar segera memanggil Osamah untuk dimintai klarifikasi dan permintaan maaf bahkan menuntut pemberian sanksi dengan memulangkan saja al-Suaibi.

Tindakan Osamah yang mengunggah pernyataan pribadi di laman twitter merupakan hak berekspresi dan menyampaikan pendapat yang dijamin Undang-undang. Terlebih, saat menyebut oknum pembakar bendera tauhid sebagai kelompok menyimpang, dia sama sekali tidak tunjuk nama ormas manapun. Terlebih, tindakan membakar bendera di Garut tersebut memang merupakan tindakan anomali yang menyimpang dari keumuman sikap Muslim Indonesia. Merupakan hal yang aneh jika kalimat syahadat, kalimat tauhid yang tertera di sehelai kain dibakar. Apalagi jika itu dilakukan secara sadar dan dengan bangga sambil bernyanyi dan mengepalkan tangan oleh muslim.

Hendaknya sebelum playing victim, para pihak yang merasa tersinggung itu mesti berkaca diri. Bukankah baru beberapa waktu lalu mereka meminta maaf pada umat Islam Indonesia atas ulah gegabah membakar bendera tauhid yang memicu kemarahan dan kekecewaan rakyat Indonesia? Mengapa kini malah bertindak seolah pihak yang tersakiti dengan pernyataan seorang Dubes negeri Muslim yang menyebut perlakuan barbar dan vandalisme pembakaran kalimat suci sebagai bentuk penyimpangan?

Maka, introspeksilah! Dulu, leluhur ulama yang melahirkan ormas terbesar Indonesia membela NKRI dengan memperjuangkan dan memuliakan kalimat tauhid. Bukan membakarnya! Jika hendak menyematkan kebesaran jasa para penghulu ormas terdahulu, maka teladani dengan benar akhlak mereka dengan menjaga agama, bukan malah membuat gaduh umat Islam Indonesia. Nahdlatul Ulama yakni kebangkitan ulama sebagaimana dicita-citakan para pendahulu kita adalah dengan menegakkan syariat Islam dengan sempurna.[MO/sr]


Posting Komentar