Oleh: Ani Herlina 
(pendidik dan anggota di komunitas  Akedemi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Tragedi berdarah kembali lagi terjadi di Papua. Peristiwa pembunuhan 31 pekerja proyek Trans Papua diduga terjadi pada sabtu, 1 Desember dan  Minggu ,2 Desember 2018. Pembunuhan 31 pekerja Trans Papua tersebut  layak disebut teroris. Sesuai dengan UU  Nomor 5  tahun 2018 tentang pemberantasan terorisme.

Menurut Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Piter Reba  "Informasi kejadian ini bermula karena salah satu pekerja mengambil foto di saat KKB merayakan hari OPM/ PTN pada tgl 1 Desember. Hal tersebut  diketahui oleh kelompok KKB. Membuat mereka marah dan mencari orang yang sudah mengambil foto hingga terjadilah penembakan berimbas pada pekerja lainnya yang ada di kamp pembangunan jembatan."

Tak hanya membunuh 31 pekerja proyek  Tarans Papua, kelompok KKB juga menyerbu Pos TNI Yonif 755/Yalet Mbua, Nduga, Papua. Akibat penyerangan tersebut, satu anggota TNI tewas tertembak dan satu luka-luka.

Warga Negara yang tak bersalah di ekskusi para separatis Papua yang begitu banyak.  Mereka adalah para pekerja yang sedang mencari nafkah, menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Nyawa warga Negara begitu tak berharaga di tangan mereka.  Negara harus cepat turun tangan memberantas kelompok krminal bersenjata tersebut. Karena mereka sudah menyebaban terror yang sangat meluas dan membuat masyarakat sipil trauma berada dalam ancaman teror yang menyasar objek strategis public. Dan bisa jadi terror mereka juga ada muatan politik.

Menurut Mentri pertahanan  dan keamanan dalang di balik peristiwa tersebut adalah Organisasi Papua Merdeka.

Organisasi Papua Merdeka adalah gerakan separatis yang sangat mengancam kedaulatan NKRI, namun Negara cenderung santai menghadapi gerakan yang ingin memisahkan Papua dari Indonesia tersebut. Bahkan cenderung dipelihara untuk sebuah kepentingan. Berbeda halnya jika yang melalukan pembunuhan tersebut adalah gerakan ektrimis islam yang hanya baru asas tuduhan praduga.  Framimg media begitu keji  dan menyudutkan islam. Seakan-akan orang yang taat pada agamanya adalah gemar membunuh, melakukan terror dan pembantaian.

Kemana Densus 88? Disaat Papua dalam keadaan memanas harusnya mereka ada di garda terdepan untuk melindungi warga sipil yang tak bersalah. Bukankah tugas Densus 88 adalah menangkap terroris. OPM adalah bagian dari teroris yang sangat membahayakan. Mengancam kedaulatan karena disintegrasi Papua dari NKRI itu adalah cita-cita yang selalu OPM perjuangkan.

Banser yang mengaku paling Pancasila dan paling cinta NKRI juga layak berada di sana. Karena ini berkaitan dengan menjaga kedaulatan NKRI. Namun permasalahannya mereka berani atau tidak dikirim kesana. Selama ini gerak mereka yang sering memicu kontroversi hanya berada diwilayah yang sangat aman.

Keamanan dalam islam  sangat berkaitan erat dengan keimanan. Ketika keimanan lenyap maka akan tergoncangkan. Orang-orang yang meneriakan keamanan, ketertiban, dan keadilan itu tidak akan tercapai ketika mereka mencampakan nilai-nilai islam. Karena stabilitas keamanan akan tercapai dengan kembali pada syari’at islam. Menegakan hukum-hukum islam dan mengaplikasikan etika yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Alah menjanjikan orang-orang yang beriman dan mengamalkan Kitabullah dan sunnah Rasululah untuk menggantikan rasa takut mereka dengan curahan rasa aman. Dan janji Allah pasti selalu terlaksana.

Dalam Negara ada beberapa cara yang di tempuh dalam menegakan keamanan. Ada dengan jalan diktrator yaitu dengan jalan pemukulan dan penganiayaan, memaksakan kehendaknya adalah jalan menuju kemanan. Namun ada juga dengan jalan melepaskan kendali bagi bagi para penjahat dengan alasan bertentangan dengan HAM, yaitu Negara pengusung Liberalisme.

Pada kenyataannya kedua hal tersebut tidak membuat Negara berada dalam keamanan yang di inginkan. Kejahatan terbukti semakin hari semakin menggurita. Darah tertumpah dan nyawa melayang sudah menjadi  tayangan berita biasa tak jauh beda dengan acara gosip Televisi.

Berbeda dengan Islam Negara sangat menjamin keamanan masyrakatnya. Hukum di tegakan dengan adil, orang akan berpikir ribuan kali untuk berbuat kejahatan. Karena hudud/ sanksi yang di berlakukan islam pada seorang penjahat sangat berat. Nyawa di balas dengan nyawa, dan darah di balas dengan darah. Ini adalah hukum yang sangat adil, tindakan preventif yang memberikan efek jera dan terhindar dari aksi balas dendam.

Hudud diciptakan benar-benar untk menciptakan keamanan masyrakat. Qishash untuk orang yang membunuh bertujuan untuk memelihara darah manusia. Potong tangan untuk pencuri bertujuan untuk menjaga harta milik umat. Dan  rajam bagi para pejinah bertujuan untuk memelihara kehormatan.
Keamanan yang hakiki hanya akan terwujud dengan menghidupkan sprit totalitas penghambaan terhadap Allah SWT. Dengan menegakan Syari’at Allah.

Karena orang yang tidak memiliki ketakutan terhadap Allah tidak memiliki rasa adanya pengawasan Allah. Jiwanya akan liar, bebas tak terkali sehingga hidupnya tercipta untuk berbuat kerusakan dimuka bumi. Jadi mengharapkan ketentraman dan keadilan pada Negara demokrasi itu adalah mimpi. Tidak menegakan Syari’at Allah adalah faktor timbulnya kerusakan dimuka bumi. [MO/sr]




Posting Komentar