Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Lagi lagi, densus unjuk kezaliman. Main tangkap-tangkapan terduga, kalau salah tangkap apalagi tewas, tinggal ngeles 'teroris melawan'. Dan modal densus juga ringan, baru terduga langsung ditindak.

Mana dua alat bukti yang cukup ? Mana bukti permulaan yang cukup ? Hanya model data intel, terus main rangkap tangkapan ? Koruptor saja punya hak atas kepastian hukum dan persamaan kedudukan dimuka hukum. Kenapa Klo sudah dilabeli terduga teroris bisa bertindak diluar hukum ?

Om densus, itu yang di Godean cuma makan siang, dan jelas makan nasi. Noh, teroris OPM sudah makan nyawa, 31 pegawai Istaka Karya tewas, anggota TNI juga jadi korban. Kami dukung om densus Terbang ke Papua sono.

Jangan hanya gagah di dekat penduduk, di pemukiman, di kos-kosan, melawan terduga teroris bersenjatakan janggut panjang, celana cingkrang, habatus saudah atau kebab. Lawan tuh teroris OPM, di Medan tempur rimba Papua, dengan senapan mesin serbu, kita rakyat Indonesia mau lihat 'SEBERAPA GAGAH DENSUS 88 MELAWAN TERORIS OPM'.

Kami masih trauma, hilangnya nyawa Siyono, MJ, dan main tangkap tangkapan tanpa alasan yang jelas. Padahal, gaji, seragam, kegagahan, hingga moncong senapan yang kalian pegang berasal dari duit rakyat. Jangan hanya gagah menghadapi rakyat, tapi kelu menghadapi teroris OPM.

Om densus, itu OPM menantang presiden, menantang negara, ingin merdeka, tebar teror, merusak fasilitas publik, menghilangkan nyawa. Itu persis seperti definisi teroris sebagaimana diundangkan melalui UU No. 5 tahun 2018. Jadi kurang apa lagi ? Payung hukum cukup. Persenjataan cukup. Anggaran cukup. Tinggal nyali, densus punya nyali cukup tidak pergi ke Papua bela bangsa berantas teroris OPM ?

Kami sudah bosan dengan jualan isu terorisme. Kabar teroris tak lagi memiliki makna, karena praktiknya dilakukan secara tebang pilih. Terorisme hanya ditujukan kepada umat Islam. Beri kami satu saja bukti, bahwa terorisme itu juga berlaku bagi separatis OPM yang bukan Islam.

Kalau om densus lakukan ini, barulah rakyat percaya. Jika tidak, maaf Om kami ini punya banyak telinga dan banyak mata, kami memiliki putra terbaik yang dikaruniai akal sehat, logika teroris yang dijual terlalu dipaksakan.

Om densus, teroris OPM itu sudah lama, tidak perlu pusing cari jaringan ini dan itu. Motifnya juga jelas, ingin merdeka. Kurang apa lagi om ? Ya sudahlah, kami ini hanya bisa berteriak karena kalian yang punya wewenang dan senjata. Seharusnya, kami ini yang dilindungi, dijaga, dilayani, bukan terus diteror dan ditakut-takuti. [MO/ge]

Posting Komentar