Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Ini adalah soal pembelaanku terhadap agamaku, soal keteguhanku meninggikan kalimat tauhid, memastikan Liwa dan Royah berkibar di Jakarta. Kedatanganku ke Jakarta, bukan sebabku mengundi nasib untuk bertaruh hidup di ibukota.

Ini soal perjuangan panjang, soal komitmen diri yang telah berikrar menjadi 'PENJAGA ISLAM YANG TERPERCAYA'. Karenanya, Ba'da aksi bela tauhid, aku tetap memiliki energi berlebih dan tak akan surut, untuk mengikuti agenda dakwah lainnya.

Jadi, ke Jakarta itu bukan akhir ya, itu awalan saja. Perjuanganku akan terus merangsek hingga Islam bertengger di tampuk kekuasaan, sehingga kelak hanya syariat Allah SWT saja yang memiliki wewenang mengatur manusia.

Jika Anda ingin mengukur keteguhanku, menantangku untuk menjelaskan betapa mulianya syariat Islam, datanglah ke Jakarta. Di aksi bela tauhid 212, Anda akan menyaksikan persatuan, keikhlasan dan pembelaan terhadap agama tauhid, nampak kontras pada tiap inchi momentumnya.

Iya, Jakarta aku akan datang. Bukan untuk menemui kekasihku yang lalu, yang telah lama kutalak tiga sebagaimana dunia. Bukan pula karena ujaran Koes plus yang ke Jakarta hanya karena 'walau apa yang terjadi'. Bukan pula, untuk mengulas 'ingatan kata iringi kau pergi' Sheila on 7. Tapi, aku ke Jakarta karena bela tauhid.

Jakarta adalah titik tolak dakwah Islam, yang kelak agama ini akan membebaskan seluruh umat dan bangsa, dari penghambaan kepada makhluk menuju menghamba hanya kepada Allah SWT semata. Proses penubuhan, yang kelak akan disambung dengan proses Unifikasi.

Jakarta, adalah negerinya Fatahillah, Faletehan, negeri yang kelak akan menjadi pusat peradaban, meskipun akhirnya pusat peradaban itu akan kembali ke Syam. Jakarta, adalah awal dari rencana besar untuk menggiring umat manusia memasuki gerbang pintu-pintu surga.

Jakarta, aku akan menemui sahabatku yang hanya karib melalui layar persegi empat. Yang hanya mampu berucap melalui sentuhan kata dari untaian huruf yang ditata.

Jakarta, adalah momentum besar migrasi interaksi dari dunia maya menuju dunia nyata. Ya, di Jakarta aku akan memeluk saudaraku seiman Islam, yang selama ini kami hanya karib di sosial media.

Jakarta akan membuktikan, pergerakan itu bermula dari keributan sosial media dan pada akhirnya merambah ke dunia nyata. Jakarta, adalah tempat menyemai benih perjuangan yang kelak akan menyebar ke seluruh penjuru tanah air, dibawa oleh kafilah-kafilah 212, dan ditanam dengan penuh harap diseluruh tanah perjuangan nusantara.

Ya, ke Jakarta aku kan kembali. Walaupun penenggak hukum dan ulama Syu' terus menghalangi. Ke Jakarta aku akan buktikan cintaku pada illahi rabbi, dengan kukorbankan apapun yang memungkinkanku untuk hadir pada Reuni 212, aksi bela tauhid di Jakarta. [MO/ge].

Posting Komentar