Oleh : Chusnatul Jannah 
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Mediaoposisi.com-Zaman keberlimpahan informasi cukup menguntungkan bagi kaum muslim. Sosial media saat ini menjelma menjadi corong berita bagi mereka. Peran media mainstream tak lagi ideal sebagaimana fungsi jurnalistiknya. Idealisme mereka tergadaikan kerena kepentingan pemilik kekuasaan. Hal ini bisa kita lihat pada peristiwa besar yang terjadi di 2 Desember kemarin.

Gempitanya helatan Reuni 212 bisa kita dapatkan di berbagai akun sosial media. Sebaliknya, sukses-nya Reuni 212 justru sepi pemberitaan di media-media nasional. Bahkan cenderung disembunyikan. Senada dengan apa yang disampaikan Rocky Gerung dalam debat ILC di TvOne, selasa 4/12/2018 lalu, jika media tak memberitakan adanya fakta yang terjadi di ruang publik maka pers sedang melakukan penggelapan sejarah.

Menurutnya, pers seperti sudah menjadi humas pemerintah. Memang begitulah adanya. Dua tahun terakhir media seolah mati rasa dengan kebenaran. Lebih banyak melakukan framing dan penggorengan isu. Lebih-lebih kepada Islam dan kaum muslim. 

Maka tak heran bila banyak kalangan wartawan senior merasa prihatin dengan perilaku pers hari ini. M. Niagara, mantan Wasekjen PWI mengatakan mayoritas media mainstream  tidak lagi berada di orbit jurnalisme yang sesungguhnya. Mereka ramai-ramai telah ‘menjual diri’ mereka dengan sangat murah.

Mereka telah berubah menjadi WTS (Wartawan Tanpa Surat Kabar) yang hidupnya hanya mengejar amplop.  Bunuh diri pers, begitu kata Hersubeno Arief. Wartawan senior, Ilham Bintang juga menuliskan rakyat telah menemukan cara sendiri untuk menyampaikan berita. “Rakyat telah mencabut media mainstream dari sanubarinya!”.

Pemberitaan media yang kerap tak berimbang juga mendapat teguran keras dari calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto. Ia bahkan tak mau diwawancara oleh media yang hanya menguntungkan pihak tertentu.

Reuni 212 menjadi tamparan keras bagi media yang sudah mati rasa dengan fakta dan kebenaran. Wajar bila obyektifitas media dipertanyakan. Harusnya mereka bersikap netral, bukan memanfaat-kannya untuk kepentingan politik tertentu. Kenetralan media dilihat dari cara dia menyampaikan berita secara proporsional, apa adanya, dan bebas dari kepentingan apapun. Sebab, ianya sumber informasi masyarakat.

Menurut Sosiolog pakar media, Noam Chomsky menyatakan, dalam media sekuler kapitalis, media selalu dijadikan alat oleh penguasa untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan penting diarahkan pada peursoalan remeh, bahkan menjadikan publik menyalahkan diri sendiri.

Media sebagai institusi sosial mempunyai fungsi penting dalam komunikasi. Media sebagai wadah penyampaian informasi, hiburan, pendidikan, juga berfungsi sebagai kontrol sosial. Media mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sosial. Perannya sangat potensial untuk mengangkat dan membuat opini publik sekaligus sebagai wadah berdialog antar lapisan masyarakat.

Peran media seperti pisau bermata dua, bisa berperan positif sekaligus juga negatif.  Peran inilah yang harus dicermati oleh media dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai penyampai informasi. Maka sudah selayaknya media lebih berperan dengan menyajikan berita dan informasi yang berimbang, netral, dan obyektif.

Di Barat, khususnya AS dan negara-negara Eropa, berbagai media massa dimanfaatkan untuk menghantam ajaran islam. Sebagai contoh, kasus bom Paris. Media internasional terus membesar-kannya lalu mengaitkannya dengan Islam.

Islam masih dianggap sebagai ajaran yang mengajarkan kekerasan dan terorisme. Jangan sampai hal serupa dilakukan oleh media dan insan jurnalis Indonesia. Memanfaatkan media untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Begitu antipati dalam memberitakan peristiwa positif yang berkaitan dengan Islam. Lalu membesar-besarkan bahkan menggoreng isu negatif yang berkaitan dengan Islam.

Semisal terorisme, radikalisme, dan intoleransi. Jika hal ini terus terjadi, maka jangan salahkan umat bila mereka mencari jalannya sendiri dalam menyampaikan fakta dan kebenaran yang tengah terjadi.[MO/ge]

Posting Komentar