Oleh: Cahya Sam

Mediaoposisi.com-Upaya pembersihan etnis muslim Uighur di Xinjiang, Cina semakin terlihat. Hal ini ditengarai dengan adanya kebijakan penahanan lebih dari 1 juta etnis muslim uighur oleh pemerintah Beijing di kamp-kamp re-edukasi yang terletak Cina Barat.

Didalam kamp tersebut mereka mengalami penyiksaan yang berat. Omir Bekli (42), seorang warga Kazakhstan yang lolos dari penahanan, setelah sebelumnya ditahan selama 20 hari di kamp tersebut mengungkapkan, bahwa penyiksaan di dalam kamp tersebut tidaklah manusiawi.

Mereka dirantai, tidak diperbolehkan makan dan tidur, dipukuli hingga berdarah, sedangkan para wanita di perkosa. Apabila menolak, maka mereka tidak segan-segan membunuhnya.

Sebelumnya, sejak awal 2018, pemerintah Beijing juga telah menetapkan kebijakan yang disebut dengan “Home Stay”. Yakni memobilisasi lebih dari satu juta kader dalam rangka memata-matai penduduk etnis muslim uighur. Para kader ini menetap di rumah-rumah penduduk selama beberapa hari dan mengumpulkan informasi mengenai keluarga, pandangan politik dan agama mereka.

Mereka juga melakukaan indoktrinasi politik, mengajari keluarga Bahasa Mandarin China, memaksa mereka menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu lain yang memuji Partai Komunis yang berkuasa di China, dan memastikan keluarga ikut serta dalam upacara pengebaran bendera setiap minggunya.

Pejabat Partai Komunis China (PKC) mengatakan bahwa alasan  penahanan massal adalah bagian dari upaya untuk ‘menindak terorisme, ekstremisme agama, dan separatisme’ di negara itu. Alasan potensi “ancaman ekstrim” inilah yang dipakai  untuk membenarkan pengawasan ketat dan penindasan tersebut. Nampak sekali kebencian yang dialamatkan terhadap orang  muslim.

Atas nama pemberantasan teroris, mereka melakukan kekejaman dan penindasan terhadap etnis mus-lim uighur, namun dilain sisi tidak menyadari bahwa mereka sendirilah teroris yang sebenarnya.

Terkait hal ini, Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin yang juga President of Asian Conference on Religions for Peace (ACRP) mengatakan bahwa penindasan yang dilakukan terhadap etnis muslim uighur merupakan pelanggaran nyata atas Hak Asasi Manusia dan hukum internasional.

Dia meminta Pemerintah Indonesia untuk menyatakan dan menyalurkan sikap umat Islam Indonesia dengan bersikap keras dan tegas terhadap pemerintah China dan membela nasib umat Islam di sana.

Sayangnya, sikap penguasa negri ini tak jauh berbeda dengan sikap sebelumnya dalam menanggapi isu Palestina maupun Rohingya. Terkesan lemah untuk sekedar bertindak tegas terhadap negara yang berlaku dzalim terhadap umat muslim. Misalnya memutuskan hubungan kerja dengan Negara tersebut, atau bahkan mengerahkan segenap balatentaranya untuk melindungi mereka yang mengalami penindasan.

Sayangnya dalam pernyataannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Indonesia menolak dengan tegas terhadap tindak pelanggaran HAM.

Namun tidak bisa turut campur dalam persoalan domestik yang terjadi di China. Itu artinya, menunjukkan sinyal bahwa Indonesia tidak akan berbuat lebih lanjut untuk membantu etnis muslim uighur. Dan menyerahkan sepenuhnya persoalan tersebut terhadap Cina.

Apabila mengingat hubungan yang harmonis antara RI-Cina sejauh ini, cukup memberi isyarat mengapa penguasa Negri ini cenderung ach.

Kerjasama dan juga hutang yang telah diglontorkan untuk Indonesia, semacam menjadi jerat politik yang meniscayakan ketundukan terhadap Negara Cina tersebut. Dengan besarnya pinjaman dari Cina, penguasa terlihat tak cukup kuat untuk menghilangkan jerat ini.

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem) Syafti Hidayat menduga, hubungan kedekatan antara kedua pemerintahan RI-China saat ini yang membuat Jokowi enggan melakukan protes.

“Karena kedekatan pemerintah Jokowi dengan China. Jokowi tak mau hubungannya terganggu dengan China gara-gara kelompok muslim Uighur,” ucapnya

Selain itu, tumbuh dan mengakarnya paham nasionalisme dan konsep Negara bangsa yang secara sengaja dihembuskan ditengah-tengah Negri muslim oleh Barat juga menjadi faktor lemahnya penguasa.

Paham inilah yang menyebabkan kaum muslim terbatasi oleh sekat-sekat wilayah yang berimbas pada disintegrasi, perpecahan dan ketidakpedulian terhadap kondisi kaum muslim yang lain. Tentu ini tidak sejalan dengan konsep dalam Islam. Bahwa umat muslim merupakan umat yang satu yang diikat dengan akidah Islam. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda:

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Jelas, persoalan Uighur bukan saja persoalan sebuah Negri, tapi persoalan umat muslim di seluruh dunia. Sebab begitulah Islam mengajarkan.

Untuk itu, wajib bagi penguasa Negri-negri muslim untuk menjadi yang terdepan dalam mengintervensi tindak kedzaliman yang terjadi atas umat muslim di penjuru dunia. Namun, lagi-lagi bila melihat fakta di Negri-negri muslim saat ini, tidak ada tindakan penguasa Negri muslim yang mampu menghentikan penindasan khususnya terhadap kaum muslim.

Tentara dan senjata mereka muslim seolah tak berarti. Upaya yang sudah dilakukan tidak jua memberi efek signifikan terhadap keselamatan etnis muslim uiughur . Sebab, mereka hanya mencukupkan pada kecaman belaka yang membuat luka umat semakin menganga.

Disinilah pentingnya umat muslim akan hadirnya Khilafah serta Khalifah yang akan menjadi perisai bagi umat. Yang melindungi umat dari kekejaman musuh-musuh yang membenci Islam. Perlindungan Khilafah atas umat muslim begitu jelas tercatat dalam sejarah.

Seperti pada masa Khalifah al-Mu’tasim, Kisah heroik Al-Mu’tashim dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah, yang disebut dengan Penaklukan kota Ammuriah.

Hanya untuk melindungi seorang muslimah yang mengalami pelecehan saja, khalifah menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki) ditempat perempuan itu berada.

Terdapat sebuah riwayat, bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah.

Khilafah akan menyatukan potensi umat Islam di seluruh dunia dan menggalang kekuatan militer/tentara dalam jumlah amat besar. Dengan begitu umat muslim mempunyai wibawa dan tidak mudah di tindas. Inilah yang tidak dikehendaki oleh para Barat maupun pembenci Islam.

Satu hal yang mereka sadari, ketika Khilafah tegak, maka akan menghancurkan dominasi dan penjajahan mereka atas umat Islam. Untuk itu, mereka merancang berbagai skenario agar umat Islam makin terpecah belah sekaligus menyerang siapa saja yang berjuang menegakkan Khilafah.

Posting Komentar