Oleh: Ulfah Sari Sakti,SPi 
(Jurnalis Muslimah Kendari)

Mediaoposisi.com- Tidak ada alasan bagi kaum muslimin untuk tidak peduli dengan sesamanya, karena kaum muslimin bagaikan tubuh yang jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya akan susah tidur atau merasakan demam.   Demikian yang harus umat muslim Indonesia lakukan untuk umat muslim di Yaman, khususnya untuk anak-anak mereka yang dikabarkan menderita kelaparan akibat perang dua kelompok muslim.

UNICEF : sekitar 8,6 juta anak-anak Yaman saat ini tidak memiliki akses ke air minum.  Berbicara melalui Twitter, UNICEF memperingatkan bahwa kurangnya akses ke air bersih dan layanan kesehatan kronis membuat anak-anak Yaman beresiko terserang kolera, penyakit menular (yang mematikan) dan bakteri.  Menurut angka PBB, sekitar 85.000 anak-anak Yaman yang berusia kurang dari 5 tahun meninggal karena kekurangan gizi sejak konflik di Yaman bermula pada tahun 2015. 

Memasuki tahun keempat, sekitar 14 juta orang Yaman (kira-kira setengah dari penduduk negara itu) beresiko kelaparan.  “Kami terperangah, ada sekitar 85.000 anak-anak di Yaman mungkin telah mati karena kelaparan ekstrim sejak perang dimulai,” kata Direktur Save the Children untuk Yaman, Tamer Kirolos. (seraamedia.org/23/11/2018).

Atas hal tersebut, Ketua Umum DPP Rabithal Alawiyah, Habib Zen bin Smith menyatakan duka yang mendalam.  Ia menilai kondisi terkini di Yaman sudah mengarah pada terjadinya tragedi kemanusiaan luar biasa, seperti kelaparan yang masif sehingga jatuh korban, terutama anak-anak, perempuan dan lanjut usia.  Sebab itu dirinya menghimbau kepada pemerintah Indoensia untuk berperan secara aktif mengupayakan perdamaian di Yaman, melalui berbagai saluran diplomatik yang ada.  Termasuk mendesak penghentian serangan Saudi Arabia yang mengakibatkan korban sipil.  Selain itu blokade harus dibuka,  agar bantuan kemanusiaan bisa masuk untuk mengurangi kesengsaraan rakyat Yaman. (m.republika.co.id).
Islam Kaffah Solusi Perlindungan Anak Yaman

Terjadinya perang di Yaman membuktikan dunia butuh sistem pemerintahan yang lengkap dan telah terbukti kejayaannya yaitu Khilafah Islamiyah .  Khilafah merupakan simbol bersatunya umat muslim dalam satu wadah pemerintahan Islam yang kaffah, sekaligus bukti kebangkitan dan kemenangan Islam dari sistem kapitalis sekuler.  Sehubungan dengan perang, sesungguhnya Islam sangat membenci kekerasan apalagi perang. 

QS Al Baqarah : 216 “Diwajibkan atas kamu berperang padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu tidak senangi, (namun) bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kamu, dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagi kamu ; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui

Bahkan dalam perang Islam melarang membunuh perempuan dan anak-anak, seperti terdapat dalam HR Bukhari dan Muslim (“Aku mendapati seorang wanita yang terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah saw. Kemudian beliau (Rasulullah saw) melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak dalam peperangan”), HR An Nasai, Ahmad Al Hakim dan Baihaqi dari Aswad bin Sari RA (“Aku menemui Rasulullah saw dan ikut berperang bersama beliau, pada waktu itu bertepatan pada waktu zuhur.  Anggota pasukan bertempur dengan hebat sehingga mereka membunuh anak-anak-dalam riwayat lain denga lafaz dzurriyah-.Sampaikanlah berita itu kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda.  Mengapa orang-orang itu melampaui batas dalam berperang sehingga membunuh anak-anak.  Seorang laki-laki berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka adalah anak-anak kaum musyrikin, Rasul menjawab, Ingat janganlah membunuh anak-anak.  Beliau juga bersabda, setiap jiwa terlahir diatas fitrah hingga ia mampu mengungkapkan sendiri dengan lisannya apa yang ada dalam hatinya, lalu kedua orang tuaNyalah yang menjadikan dia Yahudi atau Nasrani”).   

Dalam Islam, seorang anak sangat diperhatikan mulai dari memilihkan pasangan yang sholeh/sholehah sebelum menikah, mengucapkan doa sebelum berhubungan badan untuk menjaganya dari gangguan setan, memperhatikannya ketika berada di rahim ibunya (QS Ath Thalaq : 6), memperlihatkan rasa senang ketika dia dilahirkan (QS An Nahl ; 58-59), menjaganya agar tetap hidup baik ketika di dalam rahim maupun ketika telah lahir (QS Al Isra : 31), memberi nama dengan nama yang baik, menyusuinya dengan ASI sampai dia merasa cukup serta memperhatikan gizi yang dia makan/minum (QS Al Baqarah : 233),

memperhatikan kebersihan tubuhnya dan menghilangkan berbagai gangguan darinya, menafkahinya sampai dia besar, mengajarinya ilmu-ilmu yang bermanfaat, mengajarnya untuk beramal, sholeh, berdarah dan berakhlak mulia, memberikan hukuman kepadanya dengan hukuman yang dibenarkan oleh syariat ketika dia meninggalkan kewajiban atau mengerjakan dosa atau maksiat, memberinya waktu untuk bermain dengan tetap mengontrol jenis permainannya, tempat bermainnya dan dengan siapa saja dia bermain, memberikan rasa aman dan menjauhkan dari hal-hal yang menakutkannya atau hal-hal yang merusak agamanya (QS Al Isra : 70),

memperhatikan perkembangan mental-spiritualnya, melatih dan mengarahkannya kepada apa yang cocok untuknya kelak, melatihnya untuk rajin dan tidak malas, melatihnya untuk dapat menggunakan hartanya dengan baik dan sesuai kebutuhan serta membiasakannya untuk menabung dan tidak boros, memberikan semangat kepadanya untuk dapat hidup mandiri, percaya diri dan tidak tergantung dengan orang lain ketika beranjak dewasa, mengajarkan tentang pentingnya berdakwah dan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain (QS Maryam : 31), menasehatnya untuk selalu tabah dan sabar dalam menghadapi semua ujian (QS Luqman : 17), serta menjaga kesucian dirinya dengan menikahkan jika telah dirasa butuh dan mampu untuk itu.  Sumber : http//kajiansaid.wordpress.com.

Adanya perhatian yang besar terhadap hak-ahak anak tersebut, tentunya membuat kita semua yakin jika Khilafah Islamiyah merupakan satu-satunya solusi penghentian perang di Yaman, yang akan berdampak pada tidak adanya anak-anak dan masyarakat yang kekurangan makanan serta terpenuhinya hak-hak yang lain.  Walahu’alam bishowab[MO/sr]

Posting Komentar