Oleh: Siti Ummu Kholil

Mediaoposisi.com-Sebagai ibu rumah tangga dengan tiga anak (dua di antaranya menginjak remaja), jujur saya merasa kaget, cemas, takut dan khawatir dengan fenomena yang ada di depan mata kita. Perasaan campur aduk mungkin juga di rasakan setiap orang tua saat ini. Beberapa bulan terakhir, kita disuguhkan berita-berita yang fantastis dan mengerikan. Saya terbelalak dan hampir tak percaya. Separah itukah kondisi negeriku yang tercinta ini?

Save Uighur

Seperti yang diberitakan di harian Kompas Jogja juga Harian Jogja. Indra Dwi Purnomo di kantor BNN Jateng, Selasa 6/11/2018 menuturkan remaja di Jawa Tengah ketagihan minum air rebusan pembalut wanita karena ketiadaan uang untuk membeli narkoba.

Saat tidak punya uang mereka menciptakan ide seperti itu. Indra juga menuturkan bocah-bocah tersebut bereksperimen meminum air rebusan pembalut wanita yang baru maupun yang sudah bekas bahkan terdapat noda darah haid. Demi mendapatkan sensasi seperti sabu.

Solusi Tambal Sulam
Sungguh ngeri. Belum reda perasaan yang di aduk-aduk atas kasus di atas. Lagi-lagi dikejutkan dengan berita yang tak kalah fantastis mengerikan juga. Seperti yang diberitakan di laman Merdeka.com yaitu tentang 17.000 pelajar Jateng terindikasi HIV AIDS karena seks sejenis.

Dan perilaku menyimpang ini sudah mewabah di kalangan remaja. Mereka lebih suka hubungan sesama jenis Laki Seks Laki (LSL) karena beranggapan hubungan seks sejenis tidak beresiko hamil. Dan tentunya masih banyak lagi fakta kasus sosial lainnya yang bikin geleng-geleng kepala kita. Seperti: kekerasan seksual pada anak, kekerasan dalam rumah tangga, ancaman narkoba, seks liar di malam tahun baru dll.

Kita tak hanya akan menemukan masalah sosial tapi juga seabreg fakta masalah di bidang lain. Contoh: masalah bidang kedilan (hukum) di mana fakta menunjukkan hukum saat ini tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Dalam masalah ekonomi. Nilai rupiah yang melemah berimbas pada kenaikan harga-harga pokok. Di bidang politik, utang negara semakin membengkak. Di bidang pertanian, banyak petani sedih dengan adanya kebijakan impor.

Kalau kita mau jujur dan melihat fakta masalah di sekeliling kita, negeri yang besar ini dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Dari semua aspek kehidupan saat ini dalam masalah yang sangat serius. Saya saja yang sebagai Ibu rumah tangga bisa dengan cukup mudah melihat dan merasakan adanya ketidakberesan pengaturan di negeri ini.

Sungguh negeri ini sedang sakit yang amat parah, yang harus segera di carikan obatnya. Solusi yang ada saat ini, terbukti tak mampu mengatasi permasalahan yang ada. Justru dengan solusi kapitalis sekuler yang tambal sulam dan hukum buatan manusia  saat ini akan menambah masalah baru. Ibarat penyakit semakin lama semakin parah saja dan semakin sakit.

Obat Mujarab sebagai Solusi Hakiki
Dalam kondisi ini siapapun yang sadar dan punya rasa tanggung jawab sejatinya harus mau bergerak untuk berobat dan bersama-sama mengobatinya. Sungguh negeri tercinta ini sedang sekarat. Dan sebetulnya obat mujarab sudah ada. Yaitu obat mujarab dari langit dari penguasa dan pencipta manusia. Yaitu berupa resep obat dari Alloh berupa hukum-hukum Alloh (syari'at islam).

Mustahil Alloh Ta'ala Dzat yang Maha Tau dan Dzat yang Maha Suci bermain-main dengan firmannya: "Dan tidaklah kami utus engkau Muhammad,melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS Al Anbiya: 107). Dan firman Alloh: "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Alloh." (QS Al Maidah: 50).

Juga firman Alloh: "Jikalau sekiranya penduduk negri-negri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu. Maka kami siksa mereka disebabkan karena perbuatannya." (QS Al A'raf: 96).

Wahai saudaraku.. Sungguh tidak ada obat lain yang mujarab yang pasti mampu menyembuhkan negeri Indonesia tercinta yang sakit ini kecuali kembali kepada ISLAM dan SYARI'ATNYA dalam bingkai khilafah. Yang secara historis pernah berjaya dan pernah diterapkan hampir 14 abad.

Posting Komentar