Oleh: Wida Aulia 

Mediaoposisi.com-Ketua MUI Abdullah Jaidi di gedung MUI Jakarta, jum'at 21/12/18 mengatakan “ MUI mengimbau para pengusaha dan para pihak terkait lainnya agar dalam suasana Natal dan pergantian tahun dan ini tidak memaksa, mendorong, mengajak karyawan yang beragama Islam memakai ribut-atribut dan atau simbol-simbol yang tidak sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan mereka," (m.dream.co.id)

Himbauan tersebut menindaklanjuti kejadian beberapa tahun belakangan ini dimana para karyawan muslim yang bekerja di perusahaan besar ataupun di perusahaan milik orang non muslim yang dipaksa untuk memakai atribut natal seperti baju dan topi santa.

Dimana baju tersebut adalah baju khas milik umat Nasrani. Para pegawai juga diharuskan ikut merayakan natal dan tahun baru ditempat kerja mereka.
Jika menolak maka mereka akan diberhentikan atau dikenakan sanksi, bahkan akan di sebut telah bertindak intoleransi.

Hal ini tentu telah melanggar HAM karna telah mencederai hak kebebasan beragama. Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antar-individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya.

Jadi ketika muslim tidak mengikuti perayaan natal dan tahun baru atau tidak sekadar mengucapkan selamat selama tidak mengganggu, tidak menghalangi dan tidak menyakiti umat non muslim maka itu tidak melanggar toleransi.

Sayangnya, di era digital saat ini khususnya generasi muda yang akrab dengan internet dan media sosial ( generasi milenial) justru tidak memahami batas- batas toleransi.

Padahal pembahasan tentang toleransi dalam islam juga sangat mudah ditemukan di internet bahkan di media sosial. Ini karna sebagian besar dari generasi milenial lebih mudah dicekoki dengan pemikiran barat yang mereka nilai lebih keren.

Mereka lebih bangga menjadikan budaya asing sebagai trend setter, dan menunjukkan eksistensi diri dengan nya padahal hal itu telah menjauhkan mereka dari identitas mereka sebagai seorang muslim.

Iman mereka lebih mudah goyah akibat gempuran dari berbagai sisi oleh budaya barat baik melalui internet maupun televisi.

Dan juga akibat dari propaganda barat untuk menjauhkan umat islam dari pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam salah satunya dengan mengopinikan bahwa yang tidak mengucapkan natal dan tahun baru adalah pelaku intoleransi.

Berbagai propaganada barat selalu di dengungkan demi mengimpotensi pemikiran umat Islam. Allah SWT berfirman:

"Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).
Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 120)

Dari ayat diatas jelas bahwa orang-orang barat akan terus melakukan invasi ke negeri muslim sampai umat Islam keluar dari agama nya dan mengikuti agama mereka. 
Jadi sangat penting bagi umat Islam untuk memahamkan generasi milenial muslim agar mereka kokoh memegang akidah Islam dan teguh dalam melaksanakan ajaran Islam meski pemikiran umat islam saat ini di bombardir oleh barat.

Generasi milenial muslim harus paham bahwa tidak boleh mengucapkan selamat natal dan tahun baru dengan dalih apapun. Karna mengakui hari raya mereka sama saja dengan mengakui akidah mereka.
Allah SWT berfirman:

"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun 109: Ayat 6)

Umat islam tidak boleh mengganggu, menghalangi maupun mengikuti umat lain beribadah termasuk ketika mereka merayakan hari raya agamanya. Umat islam cukup menghormati, menghargai dan membiarkan mereka. Karna toleransi dalam islam adalah bagiku agamaku dan bagimu agamamu.

Posting Komentar