Oleh : Kusmini, A.Md
( Pemerhati masalah sosial dan keluarga)

Mediaoposisi.com-“Poligami bukan ajaran islam jelas tidak mendasar dan menyesatkan. Allah Subhanahu Wata’ala sebagai pembuat syariat membolehkan (poligami), lalu kenapa ada diantara kita yang berani menyatakan bahwa poligami bukan ajaran islam” dikatakan Sekertaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anwar Abbas.

Sebelumnya Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Imam Nahe’i secara terang terangan menyebutkan bahwa praktik poligami tak serta merta merupakan ajaran agama islam.

Berawal dari pernyataan sikap salah satu partai yang melarang anggotanya melalukan poligami. Masifnya penggerusan ajaran islam pada masa sekarang, bahkan poligami pun yang nyata merupakan ajaran islam di tentangnya. Sisi social menjadi sorotan utama dari para penggiat sekuleris. 

Menurut mereka dari tahun ke tahun ketidakadilan pada perempuan dan penelantaran anak semakin meningkat. Salah satu penyebabnya adalah praktik poligami. Pada kenyataanya hanya nafsu duniawi yang menjadi sandaran mereka melalukan poligami, sehingga tak jarang perempuan menjadi pihak yang di rugikan.

Minimnya pengetahuan Islam sebagai dasar dalam menjalankan kehidupan menjadi sebab semakin masifnya penjajahan yang tidak kita rasakan secara nyata. Lambat tapi pasti umat islam dijauhkan dari ajaran Islam. Isu gender merupakan isu yang  mudah di terima oleh masyarakat.

Perempuan di buai dengan jargon kesetaraan. Berawal dari sisi ekonomi,  perempuan harus berdaya dan mandiri lambat laun mereka menjadi lupa akan kodrat utamanya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak – anaknya.

Praktik poligami merupakan perbuatan yang dibolehkan (mubah), banyak kewajiban yang harus di penuhi. Salah satunya suami harus memiliki sikap adil terhadap istri – istrinya Begitupun secara hukum positif ada beberapa  legalitas yang harus di miliki  suami. Poligami merupakan hal yang  berat bila kewajiban – kewajiban di dalamnya tidak terpenuhi.

Sesuai dengan ayat Alquran dalam surat Anisa ayat 3 dan ayat 129 :
“dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak – hak)perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu  berlaku adil, maka nikahilah seorang saja …” (TQS Anisaa : 3)

“ dan kamu tidak akan dapat berlaku adil diantara istri – istri (mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cebderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung – katung …(TQS Anisaa : 129)

Alquran merupakan acuan utama dalam menjalani kehidupan, Allah menjelaskan dalam ke 2 surat tersebut, maka naif sekali jika ada segelintir orang yang menyatakan poligami bukan bagian dari ajaran islam.

Terlepas dari “tahun politik”, sangat menyesatkan jika menyelisihi yang sudah menjadi ajaran islam di gunakan untuk nafsu syahwat kekuasaan. Miris memang mereka tidak rela jika masih ada aturan islam yang tertuang dalam Undang – undang, salah satunya dalam  undang – undang perkawinan. 

Ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT dan mengacu kepada Alquran dan Assunah sebagai pondasi dalam berumah tangga menjadi hal yang tabu. Pada umumnya sandaran yang utama adalah rasa cinta dan tarap ekonomi dari pasangan.

Aturan Islam mulai tergeser dengan kemanfaatan dan kebahagiaan yang akan di capai ketika berumah tangga. Pola fikir dan cara yang digunakan dalam menjalankan rumah tangga memang bukan islam, sehingga sangat sulit jika dasar pemikiran suami istri sudah terkikis oleh pola pikir sekuleris liberal. Jauhnya umat islam dari ajaran islam menjadi dilema tersendiri, sebab tidak kita sadari pola kehidupan kapitalis sudah menggerogoti hampir di setiap lini kehidupan.

Beginilah kondisi masyarakat islam sekarang, mereka menjadikan ajaran agama sebagai santapan prasmanan, yang disukai  mereka ambil, yang tidak disukai di tinggalkan. Disinilah celah yang di gunakan kaum munafikun dan pengagung paham Sekuler Liberal, mereka tidak henti mengatur stategi bagaimana mengikis ajaran Islam dari umat islam sendiri.

Ketakwaan individu dalam masyarakat adalah tanggungjawab penguasa untuk mengupayakanya. Melalui pendidikan yang berbasis islam, pengokohan akidah, syariat dan ibadah tertanam sejak kaum muslim kecil. Mereka akan selalu menyampaikan (mendakwahkan) apa yang menjadi pondasi kuat seorang Muslim yang sejati. Berbeda terbalik dengan masa sekarang, pendidikan mahal, begitu juga kurikulum yang di gunakan bukan berbasis islam.

Siapa yang tidak merindukan kehidupan yang ideal, setiap warga negara terpenuhi semua kebutuhanya, hidup aman nyaman dan tentram sesuai dengan fitrahnya.

Islam merupakan solusi paripurna semua persoalan dalam kehidupan ini, Alquran dan Assunah adalah acuan dalam berkehidupan, bukan mengacu kepada aturan yang di buat manusia, yang  berpihak kepada kepentingan segelintir pemodal dan penguasa.[MO/ge]

Posting Komentar