Oleh: Rosmiati, S.Si

Mediaoposisi.com- Rezim otoritas Cina kembali beraksi, kaum muslim di sana pun dibuat tak berdaya. Hak-hak mereka (muslim Uighur) direnggut secara nyata dan totalitas. Identitas keislaman yang sedari lahir melekat pada jati diri mereka pun, dipaksa untuk ditinggalkan dan dilupakan. Berbagai upaya pun digencarkan oleh penguasa komunis Cina dalam membasmi etnik kaum muslimin di negerinya.

Tidak hanya itu, ke-tidakberdayaan mereka pun  diperparah dengan ditempatkannya kaum muslim Uighur pada kamp-kamp konsentrasi yang hawanya sangat mencekam, menakutkan dan tak ber-perikemanusiaan. Anak-anak dipaksa untuk melupakan agamanya. Sesuatu yang sangat tidak mudah dilakukan sementara Islam adalah fitrah mereka sejak lahir.  Kaum wanita pun dituntut untuk menikah dengan Suku Han. Dari perkawinan inilah diharapkan mampu memutus rantai generasi dari kaum muslimin di sana. Bahkan jumlah anak yang ditahan di kamp-kamp konsentrasi sudah mencapi 1 juta jiwa (Hidayatullah.com)

 Penindasan muslim Uighur lantang dikumandangkan sebagai bentuk pemberantasan ekstrimisme dan perang terhadap terorisme. Penguasa Komunis Cina pun menganggap keberadaan muslim Uighur di negerinya sebagai kanker bagi kehidupan bangsanya. Atas nama penyelamatan, maka kaum muslim pun di barantas. Narasi mensuriahkan Cina pun menjadi alasan  penguat untuk melakukan pembersihan terhadap kaum muslim di sana.

Isu ini pun bagaikan bola salju yang senantiasa menggelinding di berbagai negeri yang di sana jumlah kaum muslim minoritas. Bahkan di negeri mayoritas pun retorika ini tak tanggung-tanggung dikumandangkan. Wacana serupa  sempat muncul pula di negeri ini. Salah satu ormas pun disinyalir akan membuka jalan untuk mensuriahkan Indonesia. Padahal gejolak panjang di negeri-negeri Timur Tengah termaksud Suriah ialah akibat kaum penjajah yang memiliki ketergatungan dan kepentingan besar di sana yang tidak lain ialah mengincar hasil kekayaan alamnya serta kepentingan politik lainnya.

 Pemerintahan Jokowi pun digadang-gadang tak berani memberi kritik yang tegas kepada otoritas Cina. Menurut Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem) bapak Syafti Hidayat, beliau menduga hubungan kedekatan antara kedua pemerintahan RI-Cina yang membuat Jokowi enggan melakukan protes. (Era Muslim 14/12/18).

Ditambah lagi utang RI kepada penguasa Cina tidaklah sedikit. Sebagaimana ucapan dari seorang pengajar jurusan hubungan internasional Universitas Bina Nusantara Tia Mariatul Khitbah. “Indonesia bisa tekan dalam beberapa kerja sama dengan Cina, mulai berhitung di situ, kira-kira bisa ditekan tidak itu masalahnya, karena kan yang lebih banyak memberi uang itu Cina."(Republika 13/12/18).

Keadidayaan Cina dalam memegang ekonomi dunia pun membuat bisu negeri-negeri yang berada dibawa kendalinya termaksud negeri kaum muslimin. Para pemimpinnya pun dibuat tak berdaya bahkan sedikit pun tak bernyali mengecam tindakan otoriter Cina yang secara jelas telah melakukan aktivitas pelanggaran HAM berat.

Dan ummat Islam sampai kapan pun masih akan selalu menjadi santapan hangat dan buah tangan dari bengisnya rezim sekuler dunia selama mereka tidak keluar dari lingkaran nasional state. Yang telah berhasil mengotak-kotakan kaum muslimin. Sehingga untuk sekedar menolong bahkan mengecam itu sangatlah sulit dilakukan.

Komunisme dan Islam sampai kapan pun tak akan berdamai. Dan masing-masing ideologi ini akan mencari jalannya, untuk dapat eksis dalam kehidupan manusia. Sayangnya, kaum muslimin tidak bisa hidup dalam ranah komunis, akibat prinsip yang berlainan. Dan sangat bertolak belakang. Memutus hubungan dengan sang pencipta serta meniadakanya membuat komunisme batal  untuk diterapkan atas kaum muslim.

Sebab Islam mengakui keberadaan sang pencipta. Maka apa yang menimpah etnik Uighur hari ini menjadi bukti bahwa kaum muslimin tidak dapat hidup dalam tatanan komunisme.
Melepaskan diri dari segalah bentuk aktivitas sekularisme (pemisahan agama dan kehidupan) serta komunis/sosialis menjadi solusi dari masalah yang kini tengah dihadapi kaum muslimin. Hidup dalam nasional state telah membuat gerak dan langkah ummat Islam terbatas.

Bahkan untuk membela saudara seimannya saja sangatlah susah. Kaum muslimin sedari dulu pun tidak terbiasa hidup dalam negara-negara bagian. Dimana mereka hidup dalam satu komando dan terbukti kemuliaan dan kewibawaannya tak dipermainkan.

 Sebagaimana ketika dahulu, dimana Islam masih menjadi penguasa dunia, keadidayaan negerinya ditakuti dan disegani oleh seluruh bangsa. Alhasil Kezaliman mudah diberantas dengan memanfaatkan persatuan ummat dan kekuatan militernya. Namun, kini amatlah jauh berbeda. Lihatlah bagaimana tragedi pilu muslim Palestina, Suriah, Yaman, muslim Rohingya dan kaum muslimin lainnya yang hingga kini masih membara dalam dukanya.

Bukti bahwa kekuatan politik  saat ini tidak mampu membebaskan kaum muslimin dari cengkraman para komprador (penjajah). Mencuatnya konflik Muslim Uighur pun menjadi pelengkap dan penguat bahwa ummat Islam amatlah lemah dan tak berdaya hidup dalam sistem sekuler baik komunis/sosialis maupun kapitalis.[MO/sr]

Posting Komentar