Oleh : Nurul Putri
(Pecinta Dakwah, Jabar)

Mediaoposisi.com-Ramainya berita penyiksaan terhadap Muslim Uighur akhir-akhir ini telah banyak menyedot perhatian publik. Kaum Muslim mana yang tak terluka dan menangis pedih, melihat saudaranya ditindas tapi tak berdaya memberikan pertolongan?

Donasi Save Muslim Uighur

Penindasan rezim China terhadap warga Muslim telah memasuki tahap baru dengan munculnya berita tentang sistem pendidikan dan kamp-kamp tahanan yang bertujuan untuk mengisolasi orang-orang yang diidentifikasi oleh rezim Komunis China sebagai Muslim yang harus “disembuhkan” dari agama.

Target utamanya adalah orang-orang Uighur dan Kazakh di Xinjiang yang mereka sebut “Turkistan Timur” oleh para pejabat China yang mengklaim membela negara mereka dari ekstremisme. Fakta-fakta malah menunjukkan mereka melakukan penganiayaan sistematis terhadap agama dan etnis minoritas.

Saat ini, lebih dari 1 juta Muslim Uighur terkunci di kamp-kamp “pendidikan ulang” (re-education) yang mengerikan di mana mereka dipaksa untuk melupakan identitas mereka dan diharuskan mencela Islam.

Kisah baru-baru ini dikutip The Independent, sebuah laporan Human Rights Watch (HRW) tentang meningkatnya pelanggaran hak asasi manusia diwilayah Uighur, mengungkapkan tingkat penganiayaan yang mengerikan terhadap komunitas Uighur di pihak pemerintah Komunis China.

Jika para tahanan gagal mengikuti perintah, mereka dapat dikenakan hingga lima bentuk penyiksaan sebagai hukuman, kata seorang Uighur dan mantan narapidana menjelaskan dalam sebuah wawancara dari Istanbul, Turki. Laporan etnis Uighur yang ditahan secara besar-besaran oleh otoritas China di wilayah otonomi Xinjiang kini mencuat ke pers.

Di antara bentuk-bentuk penindasan yang dilakukan oleh Beijing pada etnis minoritas termasuk menutup banyak masjid di Xinjiang, memberlakukan pembatasan keluar mengendalikan populasi mereka dan yang terbaru, warga Uighur diduga ditahan di kamp-kamp tahanan besar.

Bagaimana reaksi Penguasa Indonesia dalam kasus ini? seperti biasa dan seperti yang sudah kita saksikan pada kasus sebelumnya Muslim Palestina yang dibantai Israel dan Muslim Rohingya yang disiksa Myanmar dan Thailand dan lainnya, yaitu pemerintah RI memutuskan untuk tidak ikut campur. Bahkan, Dubes RI untuk Cina, Sudrajat menyampaikan “Apa yang terjadi di Xinjiang adalah urusan dalam negeri China dan kita menghormati kedaulatannya dan tidak akan campur tangan masalah itu” (Antara, 12/7/2009).

Sikap Pemerintah dan Penguasa yang seakan menutup mata terkait dugaan pelanggaran HAM yang dialami umat muslim Uighur di Xinjiang, China disesalkan banyak kaum muslimin di Indonesia, karena sikap Penguasa (Jokowi) yang tidak mau bersuara, hal ini disebabkan hubungan baik saat ini antara pemerintah Indonesia dengan China, Tapi sejatinya pemerintah harus berani keras mengkritik China terkait pelanggaran HAM yang terjadi pada muslim Uighur.
 

Sebagai negara yang berdaulat yang jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia, sudah seharusnya pemerintah Indonesia membantu menyelesaikan persoalan Muslim Uighur tersebut. Padahal Dalam Islam disebutkan, muslim dengan muslim lainnya bersaudara. Artinya muslim Indonesia dengan muslim Uighur besaudara.

Bagai satu tubuh. Jika ada satu tubuh yang sakit, maka sakit semua.
Pemerintah seolah ketakutan jika hubungan baik antara pemerintah Indonesia dengan China hancur, inilah yang membuat pemerintah Indonesia tak bereaksi saat ada pelanggaran HAM di negara itu, apalagi itu terhadap umat Islam. Rezim dibawah sistem kapitalis, mewujudkan kecintaan terhadap penjajah semakin kuat.

Keberpihakan rezim terhadap asing dan aseng semakin nyata dan menyakiti umat Islam. Mereka tidak memberikan pembelaan apapun kepada saudara Muslimnya. Diam, menghindar dan sembunyi dibalik ketiak kafir laknatullah. Inilah bukti pelanggar syariat Allah tak punya lagi rasa empati karena terputusnya urat malu mereka dihadapan Allah SWT.

Kezaliman yang menimpa kaum Muslim tidak lebih penting daripada hubungan diplomatik dengan penjajah dan pembantai. Naudzubillah. Dalam hadist di ungkapkan bahwasannya: "Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan" (HR. Bukhari dan Muslim).

Umat Muslim adalah satu ummat satu sama lainnya, tanah mereka adalah satu, perang mereka adalah satu, perdamaian mereka adalah satu dan kebenaran mereka adalah satu (HR. Muslim).

"Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam " (HR. Muslim).

Oleh karena itu, tidaklah kita mencukupkan pada aksi-aksi saja, pengiriman bantuan saja, protes dan pengutukan saja, tetapi lebih daripada itu, setiap ummat Islam mesti memiliki kesadaran politik bahwa satu-satunya solusi mereka adalah tegaknya kembali Khilafah Islam yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan secara sadar dan sistematis memperjuangkan tegaknya Khilafah itu dengan seluruh kekuatan yang ada pada diri kita. Melalui institusi Islam-lah perubahan hakiki akan tercapai karena landasannya jelas dan tegas, yakni  Aqidah dan Syariat Islam. Dengan demikian hanya sistem Islam jua-lah yang dapat menyelesaikan segala problematika umat diseluruh dunia.

Posting Komentar